Mengenal Tradisi Selamatan Jawa di Hari Ganjil Terakhir Bulan Ramadhan

oleh Rizal
15:00 PM on Jun 24, 2016

Jika diibaratkan sebuah pertandingan bola, sepuluh hari terakhir Ramadhan adalah injury time alias waktu-waktu penghabisan. Dari kacamata ibadah, 10 hari terakhir ini sangat penting. Makanya, Lailatul Qodar pun ditaruh secara acak di antara 10 hari ini. Nah, karena dinilai sangat sakral, akhirnya ada banyak tradisi yang dilakukan di penghujung Ramadhan ini. Salah satunya adalah selamatan.

Bagi orang Jawa, mereka akan selalu rutin melakukan tradisi ini. Acara selamatannya sendiri macam-macam, tapi seringnya adalah mengantarkan makanan-makanan atau kalau dalam bahasa setempat disebut Berkat ke tetangga-tetangga. Tradisi ini ternyata tak banyak dilakukan di Indonesia lho. Jadi bisa dibilang suatu keunikan tersendiri.

Baca Juga
Obat Sakit Gigi Paling Ampuh yang Mudah Ditemukan di Rumahmu
Melihat Camp Latihan Super Mewah Tim Malaysia yang Bikin Pemain Indonesia Ngiri

Ini sama sekali bukan klenik, magis, dan sebagainya, tapi justru cara orang-orang Jawa menghormat bulan Ramadhan. Nah, untuk mengetahui lebih dalam lagi tentang tradisi satu ini, berikut adalah hal-hal unik soal selamatan tersebut.

Selamatan Dimulai Pada Hari ke 21

Hari ke 21 Ramadhan biasanya ditandai dengan hilangnya witir dalam rangkaian sholat tarawih. Umumnya witir akan dilaksanakan khusus pada malam hari atau yang disebut Maleman. Nah, biasanya keesokan harinya sudah mulai banyak orang yang akan mengirimkan hantaran-hantaran.

Nasi kotak hantaran selamatan [Image Source]
Nasi kotak hantaran selamatan [Image Source]
Hari ke 21 adalah awal dari sepuluh terakhir bulan Ramadhan, dan menurut orang-orang, ini adalah hari dimana seseorang bisa mendapatkan pahala dibebaskan dari api neraka (inkum minannar kalau dalam bahasa Arab). Makanya dilakukan hantaran-hantaran agar semakin berkah dan diampuni.

Untuk Meraih Lailatul Qadar

Tujuan lain dari selamatan ini adalah sebagai jembatan untuk meraih yang namanya Lailatul Qadar. Sebelumnya perlu kamu tahu kalau sangat tidak mudah mendapatkan malam satu itu. Butuh usaha yang sangat ekstra walaupun hampir mustahil bisa dideteksi apakah kita sudah mendapatkan kesempatan menemui malam seribu bulan atau tidak.

Ilustrasi Lailatul Qadar [Image Source]
Ilustrasi Lailatul Qadar [Image Source]
Nah, untuk membantu mendapatkan hal tersebut maka kemudian dilakukanlah tradisi selamatan ini. Sebenarnya tujuannya tak secara pasti ditujukan untuk memudahkan mendapatkan Lailatul Qodar, tapi banyak orang yang berharap dengan adanya selamatan ini ia dipermudahkan untuk itu.

Hantaran Bisa Berupa Ketan Atau Makanan Apa pun

Lazimnya ketika melakukan selamatan Ramadhan orang-orang akan memberikan hantaran berupa nasi yang lengkap dengan lauk pauknya. Kadang ada juga yang memberikan es buah atau semacamnya untuk berbuka. Sebenarnya tak ada aturan khusus tentang jenis-jenis makanan yang diberikan asalkan layak.

Ketan dan apem
Ketan dan apem

Jika di zaman sekarang makanan hantaran bisa bermacam-macam, kalau dulu umumnya adalah ketan, apem, dan makanan-makanan tradisional lainnya. Alasannya sendiri karena makanan hantaran itu mengandung pesan tertentu yang sudah pasti dipahami penerimanya. Misalnya ketan yang artinya adalah mengakui kesalahan, dan apem yang dilambangkan dengan pintu maaf.

Memberi Saudara-Saudara yang Jauh

Salah satu yang khas dari tradisi ini adalah hantaran yang diberikan kepada saudara-saudara jauh. Tujuannya sendiri bukan hanya berbagi rezeki saja tapi juga menjalin tali silaturahmi. Ya, hantaran-hantaran ini sering jadi penyambung persaudaraan ketika lama tak pernah bersua.

Memberi hantaran kepada saudara [Image Source]
Memberi hantaran kepada saudara [Image Source]
Momen bertemu dengan saudara jauh sangat jarang terjadi, makanya tradisi ini akan selalu ditunggu oleh banyak orang. Momen hantaran ke saudara jauh ini kadang sering diidentikkan dengan mudik, padahal tentu saja bukan.

Simple namun sangat memorable, dua kesan ini takkan pernah bisa hilang dari tradisi selamatan Ramadhan tersebut. Anehnya, meskipun tujuannya adalah kebaikan, tapi beberapa masih menganggap tradisi ini sebagai klenik-klenik yang harusnya tidak dilakukan.

Next
Like us on Facebook Follow us on Twitter
ARTIKEL LAINNYA
ARTIKEL PILIHAN
Inilah 13 Potret Marion Jola, Finalis Indonesian Idol yang Viral Berkat Video Hotnya 4 Anak Raja yang Lebih Memilih Tetap Jadi Atlet Ketimbang ‘Ongkang-Ongkang’ Saja 10 Meme “Terperangkap Razia”, Jauh Lebih Pahit Ketimbang Ketemu Mantan di Jalan 8 Ilustrasi Tentang Kebiasaan Cewek-Cewek Ini Bakal Bikin Kaum Lelaki Gagal Paham 10 Ucapan Iseng Saat Foto Nikahan Ini Bikin Ngakak Maksimal, Jangan Ditiru Ya! Miris, Orang-Orang Ini Tewas Saat Ulang Tahun Akibat Dikerjain Temannya Sendiri 10 Potret Kelakuan Nyeleneh DPR Rusia Saat Rapat, Ternyata Gak Kalah Koplak dengan Indonesia 9 Artis Ini Sok-sokan Update Status Bahasa Inggris, Alhasil Panen Hujatan dari Netizen Lama Tak Terdengar, Beginilah Kabar Gayus Tambunan, ‘Sang Koruptor’ Kelas Kakap 5 Fakta Ngeri Sentinel, Suku Primitif Paling Sadis yang Pernah Ada Inilah 5 Kisah Pengawetan Pemimpin Bangsa yang Tidak Banyak Diketahui Uang Bukan Incaran, Inilah 4 Fakta Begal Payudara yang Ternyata Gak Kalah Berbahaya 5 Penemuan Harta Karun di Indonesia yang Jumlahnya Sanggup Melunasi Semua Hutang Negara 8 Balasan “Surat Cinta” Istri Pergi ke Pasar Tinggalkan Suami Ini Sukses Bikin Ngakak Pulang Nggak Bawa Piala, 7 Runner Up Indonesian Idol Ini Lebih Tenar daripada Sang Juara Mengenal Phu Quoc, Penjara Super Sadis yang Terapkan ‘Siksa Neraka’ di Vietnam Menguak Misteri Uang Logam 500 Rupiah Tahun 1991 yang Disebut-Sebut Mengandung Emas 6 Fakta Ini Buktikan Enaknya Menjadi Pilot di Indonesia, Nomer 5 Bikin Ngiler! Kerap Tampil Kocak Sampai Menggelikan, Ternyata Kehidupan Mimi Peri di Dunia Nyata Sungguh Miris 5 Hal Gila yang Hanya Bisa Kamu Temukan di Thailand
BACA JUGA