Modernitas menggempur dan menggerus tradisi yang sudah lama mengakar dalam masyarakat. Tak jarang satu demi satu kearifan lokal dan kekayaan budaya hilang seiring dengan berjalannya waktu. Walaupun begitu, di Indonesia masih banyak kok suku yang melestarikan budayanya, sasak ende misalnya.

Berada di Desa Sengkol, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, ternyata banyak sekali hal unik yang bisa digali dari kehidupan masyarakat sasak, salah satunya kehidupan percintaan dan pernikahan antara lelaki dan perempuan. Agar lebih jelasnya, mari kita lihat seberapa ‘nyeleneh’ tradisi dalam suku sasak ende.

Tak ada istilah pacaran sebelum menikah

Masukke kawasan suku sasak ende [Sumber gambar]
Pacaran adalah salah satu cara untuk mengenal lebih dalam orang yang disukai, namun orang sasak punya cara tersendiri dalam urusan cinta. Mereka tak mengenal tradisi pacaran ataupun PDKT sama sekali. Para lelaki akan mencari pendamping harus menemui  gadis idamannya di dapur saat ada sebuah acara. Para perempuan lajang dalam sasak ende biasanya akan membantu urusan dapur. Ketika sudah menemukan orang yang tepat, maka si lelaki akan menyenter mereka sebagai tanda suka.

Satu perempuan bisa diperebutkan banyak lelaki

Satu perempuan bisa direbutkan banyak lelaki [Sumber gambar]
Satu perempuan bisa saja disukai oleh banyak lelaki, kalau sudah begini bagaimana dong? Semua kembali kepada lelaki, mereka harus melakukan cara yang kreatif untuk membuat si gadis tertarik dan memilih pasangan hidupnya. Perempuan yang rumahnya didatangi juga tak boleh menolak kunjungan. Jika kebetulan ada lebih dari satu lelaki yang datang, maka mereka harus bergantian satu sama lain, sesuai urutan kedatangan. Unik bukan?

Kawin lari dan menculik gadis

Gadis diculik sebelum dinikahi [Sumber gambar]
Jika sepasang kekasih sudah sama-sama setuju, mereka akan maju ke jenjang hubungan yang lebih serius. Dalam hal ini biasanya akan ada tradisi ‘kawin lari’, di mana si gadis akan diculik selama dua minggu ke rumah pria tanpa diketahui oleh keluarganya. Setelah penculikan terjadi, keluarga pria akan menemui keluarga wanita dan mereka tak bisa menolak pernikahan tersebut. Berbeda dengan kebiasaan, sasak ende tidak memberlakukan mahar ataupun uang hantaran, karena hal tersebut akan sangat memalukan jika terjadi. Mereka juga akan mendenda siapa saja yang menikah dengan orang di luar kampung.

Tidur terpisah bagi yang sudah berstatus suami-istri

Ibu hanya boleh tidur dengan anak perempuannya [Sumber gambar]
Setiap satu rumah akan dihuni oleh sebuah keluarga. Nah, dalam hal ini mereka punya aturan tersendiri mengenai tata cara tidur. Untuk pengantin baru, mereka boleh tidur bersama dan diberikan kesempatan untuk bulan madu. Namun, beda lagi halnya ketika sudah memiliki anak, mereka harus tidur terpisah. Si ibu boleh tidur dengan anak perempuannya, sedangkan ayah juga akan tidur dengan anak lelaki mereka jika sudah berusia tujuh atau delapan tahun. Perpisahan ini sebenarnya bukan untuk selamanya kok, suami bisa permisi dan meminta izin ke istri jika ia memang punya keperluan khusus.

Sebenarnya jika dilihat dari tradisi lain, ada banyak sekali hal menarik dari kehidupan sasak ende ini. Entah itu dari bangunan rumah, kegiatan sehari-hari, serta kebiasaan menenun yang dilakukan para wanitanya. Sasak ende adalah satu di antara banyak budaya Indonesia yang masih terjaga keasliannya.