Julukan negara sejuta tradisi rasanya sama sekali tidak berlebihan untuk disematkan kepada Indonesia. Bagaimana tidak, kita memiliki begitu banyak suku dan budaya yang masing-masing terdiri dari adat dan tradisi yang berbeda. Kalau mau hitung, di Jawa saja mungkin sudah ada ratusan. Ini belum Sumatra, Kalimantan dan daerah-daerah lainnya.

Tentang tradisi, lazimnya hal tersebut punya tujuan pasti. Tak ada tradisi yang tidak ada maknanya. Tujuannya sendiri macam-macam termasuk salah satunya adalah untuk tolak bala. Berbicara soal tradisi dengan tujuan seperti itu, maka Mepe Kasur khas Banyuwangi haram untuk dilewatkan. Ya, setiap tanggal-tanggal khusus, orang-orang asli sana alias Osing, melakukan tradisi Mepe Kasur. Seperti istilahnya, tradisi ini dilakukan dengan cara menjemur kasur-kasur yang ada di rumah.

Uniknya, tradisi ini tidak hanya dilakukan oleh satu atau dua orang, tapi semua penduduk desa. Alhasil, pemandangan unik pun muncul. Masih tentang Mepe Kasur, berikut hal-hal yang mungkin belum pernah kamu dengar tentang tradisi unik tersebut.

Latar belakang diadakannya tradisi Mepe Kasur

Tradisi Mepe Kasur [Image Source]
Tak ada informasi secara pasti sejak kapan tradisi Mepe Kasur ini diadakan. Tapi, dari berbagai sumber yang ditemukan, tradisi jemur kasur ini sudah diadakan sejak ratusan tahun yang lalu. Masyarakat suku Osing sering ini menggelar tradisi unik setiap tanggal 1 Dzulhijah. Tujuan diadakannya tradisi jemur kasur ini adalah untuk menolak bala. Menurut warga setempat, semua penyakit dan bencana bisa bermula dari tempat tidur.

Kegiatan yang dijalankan saat menggelar tradisi Mepe Kasur

Kegiatan Mepe Kasur [Image Source]
Ritual tradisi Mepe Kasur ini erat kaitannya dengan acara Tumpeng Sewu. Mepe Kasur diadakan pada pagi hari saat matahari mulai terbit, sedangkan acara Tumpeng Sewu digelar pada malam harinya. Tidak jauh dengan menjemur kasur seperti biasa yang dilakukan warga, biasanya kasur dijemur dibawah matahari dan dipukul-pukul dengan rotan. Uniknya, semua warga secara massal menjemur kasur di sepanjang kampung. Pemandangan yang tak biasa ini tentunya mengundang ketertarikan para netizen. Kasur-kasur milik warga berjejer rapi di sepanjang jalan desa, tepatnya di depan masing-masing rumah mereka.

Makna simbol warna kasur yang dijemur oleh para warga

Simbol Warna Kasur [Image Source]
Lebih menariknya lagi, ternyata kasur yang dijemur oleh warga memiliki warna yang sama. Yah, kasur-kasur tersebut memiliki warna hitam sebagai warna dasarnya. Pada bagian tepi kasur memiliki corak warna merah. Tapi, semua warna kasur-kasur milik warga ini bukan berarti membeli kasur dalam satu pabrik lho? Warna-warna kasur ini sengaja digunakan karena memiliki filosofi dalam kehidupan. Sehingga, corak hitam dan merah pada kasur sudah digunakan dari turun-temurun. Warga setempat menjuluki warna kasurnya dengan istilah abang cemeng.

Masyarakat menyebutnya warna Cemeng atau hitam sebagai simbol dari makna perlindungan dari segala macam penyakit dan bencana. Sedangkan warna abang atau merah dapat ditafsirkan sebagai warna kelanggengan. Kekompakan warga saat berbaris menjemur kasur juga memiliki makna sebagai kerukunan dan kebersamaan yang kuat.

Maksud dan tujuan diadakan ritual Mepe Kasur

Tujuan Mepe Kasur [Image Source]
Semua tradisi memiliki maksud yang baik menurut cara masyarakat itu sendiri. Sebagian besar warga Desa Kemiren di Banyuwangi berpendapat bahwa Mepe Kasur dapat menghilangkan semua bencana dan penyakit. Secara logika, kasur yang bersih dari debu dan kotoran dapat menghindari kita dari segala macam penyakit. Namun, menurut makna simbol yang dilontarkan oleh warga, ritual ini dapat melindungi diri dari bencana serta memperat kelanggengan pasangan suami istri.

Tradisi Mepe Kasur mungkin kelihatannya hanya sesederhana menjemur dan menepuk-nepuk si alas tidur, tapi ia memiliki makna filosofis yang sangat mendalam. Tak hanya pengharapan akan keselamatan kepada Tuhan, tapi juga tentang bagaimana menjaga bounding alias hubungan antar anggota keluarga, khususnya suami istri. Unik nih, jangan sampai tradisi ini hilang apa pun terjadi.