India adalah salah satu negara yang menyandang predikat semrawut, mulai dari lingkungan yang kotor, lalu lintas tak teratur, sampah berceceran, hingga warganya yang suka buang hajat sembarangan. Kalau di Indonesia, setiap bepergian dan tiba-tiba kebelet buang air, sudah tentu toilet umumlah yang dicari, dan untuk masuk kita harus membayar setidaknya 2000 rupiah.

Berbeda lagi halnya jika kamu mengunjungi India. Negara yang terkenal dengan film romantisnya ini menggaji para warga yang mau menggunakan toilet. Lha kok enak? Yap, usut punya usut, ternyata hal ini terjadi karena beberapa sebab berikut ini Sahabat Boombastis.

 Penduduk yang buang hajat di tempat terbuka

Buang hajat sembarangan [Sumber gambar]
Wah, ini mah membayangkan saja sudah membuat kita jijik, apalagi bagi mereka yang menemukan kejadian tersebut setiap hari ya? Menurut data yang didapat dari United Nations for Children’s Fund (UNICEF), ada sekitar  594 juta warga – hampir setengah populasi India – yang buang hajat di tempat terbuka alias sembarangan. Kebanyakan mereka adalah penduduk miskin yang tinggal di tempat terpencil. Hal ini justru dapat menimbulkan masalah serius bukan, mulai dari pencemaran lingkungan, mengganggu penciuman, anak-anak dan penduduk yang dapat terkena penyakit, serta rawan terjadinya pelecehan seksual bagi perempuan.

Fasilitas yang dibangun tidak dimanfaatkan

Toilet jarang dipakai [Sumber gambar]
Untuk mengatasi penyakit buang air besar sembarangan (BABS) ini, perdana menterinya, Narendra Modi sampai turun tangan loh. Pada 2014 lalu, ia meluncurkan sebuah program bertajuk Swachh Bharat yang fokus membangun fasilitas dan memberantas perilaku BABS. Modi sampai membuat slogan  ‘bangun toilet dulu, baru nanti kuil’ saking geramnya. Namun, nyatanya fasilitas yang ada tak lantas membuat masyarakat India sadar. Adanya aturan tak lantas mengubah kebiasaan mereka, hal ini terjadi karena memang sudah faktor turun temurun dari nenek moyang mereka. Zaman dahulu –bahkan hingga sekarang- toilet dianggap bukan bagian penting, sehingga banyak warga yang tidak punya fasilitas ini.

Melakukan sosialisasi dan peraturan ‘no toilet no bride’

Memberlakukan aturan ‘no toilet no bride’ [Sumber gambar]
Nah, karena fasilitas yang ada tidak dimanfaatkan, pemerintah memutar  otak dengan melakukan berbagai jenis kampanye dan sosialisasi terkait penggunaan toilet. Bahkan, pemerintah pernah mengeluarkan kebijakan yang berbunyi ‘no toilet no bride’. Kebijakan ini berisi aturan bahwa seorang perempuan tidak boleh menerima lamaran seorang laki-laki jika di rumahnya tidak ada toilet. Bagaimana buktinya? Nyatanya, hal ini tak pernah berhasil terutama di masyarakat pedesaan. Isu tentang hidup sehat, nyaman, dan bersih tidak begitu penting untuk mereka. Hmmmm…

Bujuk rayu terakhir yaitu dengan ‘menggaji’ penduduk yang mau memakai toilet umum

Toilet umum yang dibayar [Sumber gambar]
Akhirnya, strategi terakhir yang dipakai oleh pemerintah adalah sistem ‘sogok’ untuk kebaikan. Seperti yang dirangkum Hipwee.com, bagi siapa saja yang mau menggunakan toilet umum secara rutin, masing-masing keluarga akan dibayar $37,13 atau kurang lebih 450 ribu rupiah setiap bulannya. Solusi ini juga diiringi dengan pemeriksaan rutin dari pemerintah, apakah mereka memang menggunakan toilet tersebut atau tidak. Iming-iming uang ini nampaknya cukup berhasil, karena di beberapa daerah seperti Gujarat, Gida, Baytu dan Rajshtan sudah ada belasan ribu warga yang ikut berkampanye, memakai toilet dan mendukung terciptanya lingkungan yang sehat.

Yap, masalah toilet dan buang hajat sembarangan juga berlaku di Indonesia. Kalau kamu ada di pedesaan, pasti pernah melihat orang nongkrong di pinggir kali atau toilet kayu atas sungai. Tapi, memang kenyataannya tidak separah masalah yang melanda India. Bersyukurlah kalau kalian semua masih punya toilet di rumah Sahabat.