Meski populer dan banyak disukai oleh masyarakat Indonesia, ternyata masih ada juga sosok yang membenci figur Susi Pudjiastuti. Dilansir dari News.detik.com, seorang pria berinisal A berhasil diamankan polisi sebagai tersangka pelemparan rumah Menteri Kelautan dan Perikanan tersebut. Sebelumnya, diberitakan bahwa Menteri Susi telah mengalami teror yang menyasar kediamannya di Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat.

Selain Menteri Susi Pudjiastuti, beberapa teror juga kerap menghantui para pejabat yang dinilai memiliki pengaruh besar di Indonesia. Aksi yang dilakukan pun cukup beragam. Mulai dari hal sepele yakni sebatas melempar batu, hingga mengirimkan paket misterius yang di dalamnya berisi bom. Entah karena memang dibenci karena profesinya atau ada hal lain, berikut pejabat Indonesia yang pernah mengalami teror.

Johan Budi SP yang kerap mendapat teror saat menjadi juru bicara KPK

Sempat mengalami teror ditabrak saat mengendarai sepeda motor [sumber gambar]
Keberadaan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang menjadi badan hukum anti-rasuah, begitu menakutkan bagi para koruptor yang mencuri uang negara. Tak salah jika para anggota di dalamnya begitu dibenci oleh mereka. Hal ini kemudian ditunjukkan dengan serangkaian aksi teror. Salah satunya yang dialami oleh Johan Budi SP. Sebagai mantan juru bicara dan Deputi Pencegahan KPK, ia pernah ditabrak pada malam hari saat mengendarai sepeda motor oleh orang tak dikenal.

Rumah Ketua dan Wakil Ketua KPK yang diteror bom

Jika seorang jubir KPK menerima teror dengan cara ditabrak, lain halnya dengan yang dialami oleh Ketua KPK Agus Raharjo dan Waklil Ketua KPK Laode M Syarif. Dilansir dari Akurat.co, masing-masing mendapat teror berupa benda yang menyerupai bom yang menyasar di kediamannya. Beruntung, benda berbahaya itu tak sampai meledak dan berhasil diamankan oleh pihak kepolisian.

Teror bertubi-tubi yang dialami Komisaris Polisi Afief Julian Miftah

Sebagai seorang penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), profesi yang dijalani oleh Komisaris Polisi Afief Julian Miftah memang cukup beresiko. Hal ini dibuktikan dengan serangkaian aksi teror yang ditujukan pada dirinya. Tak tanggung-tanggung, tindakan tersebut terjadi sebanyak tiga kali. Dilansir dari Rappler.com, teror pertama terjadi pada 29 Juni 2015 lalu, di mana ban mobilnya ditusuk hingga kempes. Kedua, badan mobil Afif tiba-tiba disiram dengan air keras pada 2 Juli. Ketiga, ada sebuah detonator dan launnya yang dirangkai di pintu pagar rumahnya.

Novel Baswedan yang disiram air keras oleh pelaku yang masih misterius

Sebagai penyidik senior di tubuh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), tentu ada banyak hal yang telah diketahui oleh seorang Novel Baswedan. Tak heran jika keberadaan dirinya tak disukai oleh pihak-pihak tertentu. Dilansir dari Megapolitan.kompas.com, Novel Baswedan tiba-tiba disiram air keras oleh dua pria yang mengendarai sepeda motor, saat sedang berjalan menuju rumahnya setelah menjalankan shalat subuh di masjid. Hingga kini, identitas dari penyiram belum terungkap dan kasusnya masih menjadi perbincangan hangat.

Rumah Susi Pudjiastuti yang dirusak oleh serangkaian aksi teror

Seperti yang telah ditulis di paragraf awal, Menteri Kelautan dan Perikanan, Sri Pudjiastuti juga mengalami teror yang menyasar di kediaman pribadinya. Pelaku berinisial A yang akhirnya berhasil diamankan pihak berwajib, ternyata sering melakukan pelemparan yang membuat rumahnya rusak. Selain meneror di dunia nyata, pria itu juga kerap meluapkan rasa bencinya melalui media sosial (medsos) Facebook yang isinya diduga menghina dan mencemarkan nama baik Menteri Susi.

BACA JUGA: 5 Kampus Penyumbang Menteri Terbanyak di Pemerintahan Jokowi

Entah apa motif yang dilakukan oleh para pelaku teror, yang jelas mereka memiliki maksud terselubung terhadap orang yang tidak disukai. Seperti kisah para pejabat di atas, aksi teror yang ditujukan pada mereka membuktikan ada pihak tertentu yang jelas merasa terusik. Entah itu pada bisnisnya, hasil korupsi secara diam-diam, atau tindak kejahatan lain yang tak ingin terbongkar dan diketahui khalayak ramai.