Di masa sekarang ini, gaji besar tidak menjadi jaminan hidup layak. Toh meskipun banyak uang masih harus dipotong berbagai macam cicilan dan tanggungan. Bahkan untuk seorang tentara, tidak menutup kemungkinan kalau penghasilannya tidak mencukupi. Akhirnya dia harus memutar otak mencari biaya tambahan. Ada yang membuka usaha, ada yang jadi guru beladiri dan lain-lain

Beberapa perwira memilih jalan tidak terpuji seperti menjadi beking. Namun tidak yang satu ini, seorang personel TNI AD di Kandangan, Daha, Kalimantan Selatan, lebih memilih profesi unik menjadi kusir Delman. Meskipun dia harus membiayai kuliah anaknya, tentara ini lebih memilih mencari uang tambahan yang halal. Penasaran dengan sosok tentara ini? Simak ulasan berikut.

Mahdian seorang berpangkat Sertu

Berpangkat Sertu [image source]
Personel tentara yang satu ini ditugaskan di Koramil Daha dan menjadi satu-satunya penarik Delman yang masih beroperasi sampai sekarang. Pria yang satu ini memutuskan untuk membeli kereta dan kudanya. Dia menghubungi temannya di Bima untuk masalah jual beli kuda, karena di sana terkenal dengan kualitas kuda terbaik. Satu unit delman lengkap dengan kuda dia beli  menggunakan tabungan yang dikumpulkan bertahun-tahun. Biasanya Mardian menarik Delmannya saat sedang tidak bertugas. Sebelum dia pergi ke markas, Mahdian masih sempat memandikan kudanya agar nanti saat pulang dari koramil, dia langsung bisa narik Delman.

Bukan hanya karena ekonomi, namun juga panggilan jiwa

Kesenangan tersendiri [image source]
Terbesitnya keinginan Mahdian untuk menjadi seorang kusir bukanlah melulu karena tuntutan ekonomi. Saat dia berlibur bersama keluarganya di kawasan Kandangan. Merasakan nikmatnya naik Delman, tersirat dalam diri Mardian untuk membeli sebuah Delman. Dan ternyata hingga saat ini dia masih menekuni pekerjaan sampingan itu karena merasa nyaman. Pertama kali mengemudikan Delman, Mardian merasa sangat takut apalagi penumpang yang dibawa adalah anak-anak SD. Namun lama-lama dia terbiasa membawa berbagai jenis penumpang.

Tambahan Penghasilan yang lumayan untuk biaya kuliah

Sertu Mahdian [image source]
Bila hari teranng, Mahdian dapat memperoleh hingga 100 ribu, tapi bila hujan dia hanya bisa memperoleh 25 ribu. Sekali naik Delman Mahdian, bisanya untuk dua kilometernya dikenakan biaya sekitar Rp 5 ribu. Tambahan biaya itu lumayan menurutnya untuk menutupi biaya sehari-hari. Apalagi Mahdian memiliki dua orang anak yang kini telah masuk jenjang perguruan tinggi, pastinya butuh biaya tambahan. Daripada menjadi beking menurutnya, lebih baik mencari penghasilan yang hala-halal saja. Ternyata uang hasil narik delman ini sudah sangat cukup untuk menjadi biaya tambahan kuliah anak-anaknya. Orang seperti Mahdian ini patut kita contoh, rezeki halal menjadi poin penting dalam usahanya.

Lebih banyak sukanya

Delman hias acara khusus [image source]
Menurut Mahdian, lebih banyak hal yang menyenangkan dialami dari pada yang menyedihkan. Sulitnya memasang sepatu kuda adalah duka utama pada seorang kusir. Tapi sukanya jangan ditanya lagi. Selain dapat tambahan uang, bisa berinteraksi dengan sesama dan melihat anak kecil bahagia menjadi adalah beberapa hal yang membuatnya mencintai profesi ini. Kadang Delmannya juga sering mendapatkan panggilan di kondangan dan pernikahan. Mardian juga sering memberikan tumpangan gratis untuk yang membutuhkan.

Kusir terakhir di Kandangan

Kusir terakhir [image source]
Mardian merupakan pengemudi Delman terakhir di Kandangan. Karena kemajuan zaman, profesi ini tidak lagi dilirik di sana. Untungnya Mahdian peduli dengan pekerjaan ini dan berniat untuk terus melestarikannya. Bagi Mardian ini bukan hanya pekerjaan biasa, pasalnya ada kesenangan dalam diri dalam melakoninya. Bisa dibilang hobi yang menjadi sebuah pekerjaan, selain senang juga bisa menghasilkan uang.

Mahdian merupakan contoh bahwa mencari uang halal lebih menyenangkan daripada hasil haram. Kita mungkin dapat hasil yang cepat dari uang haram, tapi kalau hati tidak srek yang percuma saja. Dan ternyata masih banyak orang-orang seperti Mardian ini di luar sana.