Sepak terjang Organisasi Papua Merdeka yang penuh dengan konflik dengan pihak TNI, ternyata memiliki sisi lain yang mungkin dapat membuat siapa saja mengelus dada. Bagaimana tidak, kelompok bersenjata yang ingin melepaskan diri dari NKRI ini juga melibatkan anak-anak di bawah umur sebagai bagian dari perjuangannya.

Dilansir dari jpnn.com, pasukan OPM sedikit banyak diperkuat oleh diperkuat pasukan bersenjata dari kalangan anak di bawah umur. Miris, namun itulah kenyataan yang ada. Hal ini bahkan diakui sendiri oleh sayap militer OPM West Papua Liberation Army (WPLA) yang telah mengangkat senjata sejak 1960-an. Seperti apa kisahnya?

Anak-anak di bawah umur yang menjadi mesin perang bagi OPM

Laporan kantor berita The Associated Press (AP) memang cukup mengejutkan. Pasalnya, mereka menemukan bahwa OPM diperkuat pasukan bersenjata dari kalangan anak di bawah umur. Dikutip dari jpnn.com, hal ini juga diakui West Papua Liberation Army (WPLA) yang merupakan oleh sayap militer OPM dan kelompok advokasi damai pendukung kemerdekaan Papua, bahwa memang ada remaja-remaja di bawah usia dalam pasukan bersenjata OPM.

Kelompok West Papua Liberation Army [sumber gambar]
Padahal, Statuta Roma tahun 2002 tentang Pengadilan Pidana Internasional, menyatakan perekrutan anak-anak di bawah 15 tahun untuk keperluan militer dikategorikan sebagai kejahatan perang. Sebby Sambom yang menjadi juru bicara WPLA bahkan menggambarkan, keberadaan para remaja tersebut sebagai bagian dari sejarah Papua dan perjuangan kemerdekaan mereka.

Dihadapkan pada kondisi dan keadaan yang membuat mereka pasrah

Apa yang dihadapi oleh para ‘pasukan’ di bawah umur tersebut, nyatanya tak lepas dari kondisi Papua yang dirasa tak lagi berpihak pada mereka. Seperti kisah Victor Mambo yang merupakan editor media Tabloid Jubi pada Assosciated Press (AP) yang dikutip dari jpnn.com mengatakan, Ribuan warga sipil saat itu terlantar akibat tindakan keras aparat keamanan RI. Hal tersebut merupakan buntut dari serangan pada Desember yang menewaskan 19 pekerja konstruksi jembatan di Nduga beberapa waktu lalu.

Beberapa di antara mereka ternyata masih anak-anak [sumber gambar]
Mirisnya, Kelompok itu adalah tiga perempat remaja putra, sekitar 15-16 tahun. Mereka digambarkan tidak banyak bicara, dan mengaku bukan penjahat atau teroris, melainkan hanya ingin berjuang untuk rakyatnya. “Tak ada pekerjaan bagi mereka setelah tamat sekolah. Banyak tentara di desanya. Mungkin satu-satunya harapan hidup mereka adalah mengangkat senjata,” kata Victor Mambor.

Mereka yang ingin berjuang bersama OPM dari daerah terpencil di Papua

Temuan mengejutkan lainnya pun datang dari anak-anak Papua lainnya. Menurut Juru bicara militer Indonesia di Papua, Muhammad Aidi, ia memang belum melihat bukti secara langsung atas keterlibatan anak-anak di bawah umur yang menjadi kombatan bagi OPM. Namun di beberapa daerah terpencil, banyak dari mereka yang ingin bergabung dengan WPLA.

Ilustrasi anak-anak Papua [sumber gambar]
Jika kita bertanya kepada anak-anak di Mapenduma tentang cita-cita mereka, jawaban mereka adalah menjadi pejuang OPM (Organisasi Papua Merdeka),” katanya. “Karena mereka tidak tahu dunia luar.” ujar Aidi yang dikutip dari jpnn.com. Dia juga menambahkan, banyak dari pejuang Papua yang terbunuh oleh pasukan Indonesia sebagian besar berusia 20-40 tahun.

BACA JUGA: 5 Aksi Separatisme Inilah yang Bikin OPM Harus Segara Dienyahkan dari NKRI

Miris memang. Anak-anak Papua di daerah terpencil yang seharusnya mendapat perhatian dari pemerintah, seakan tak memiliki pilihan lain selain mengangkat senjata. Mudah-mudahan dengan adanya pembangunan yang masif di Papua pada saat ini, mereka yang di bawah umur bisa merasakan hidup normal, mendapatkan fasilitas yang lebih baik dan berkecukupan.