in

So Sweet, Ini Lho Surat Tidak Masuk Sekolah Paling Puitis yang Hanya Bisa Dibikin Orangtua dari Makassar

Hari ini masih ada nggak sih orangtua yang kirim surat untuk mengabarkan anaknya yang tak masuk sekolah? Sepertinya sudah jarang banget, ya. Orangtua-orangtua zaman sekarang mah milih gampangnya saja dengan menggunakan SMS, telepon, atau bahkan aplikasi chat macam Whatsapp. Nggak apa-apa sih sebenarnya, namun entah kenapa nilai etika atau kepantasannya kok agak kurang, ya. Tapi, para orangtua pasti nggak mikir sejauh itu, yang penting praktis dan anaknya nggak tercatat absen, beres.

Tapi, nggak semua orangtua kayak begini kok. Di daerah-daerah, kebiasaan memberi kabar tidak masuk sekolah lewat surat masih jadi hal yang sering dilakukan. Bahkan kadang isi suratnya sendiri bukan yang biasa-biasa macam “Dengan ini saya beritahukan, blablabla…” tapi justru sangat puitis macam orangtua satu ini.

Surat izin puitis [Image Source]
Surat izin puitis [Image Source]
Alih-alih menulis surat izin tak masuk sekolah dengan cara biasa, orangtua yang sepertinya berasal dari Makassar ini menuliskannya dengan cara yang amat puitis. Diawali dengan salam, surat ini pun berlanjut dengan bertaburannya diksi-diksi puitis yang dahsyat. Kira-kira seperti ini nih isi suratnya.

“Assalamu Alaikum Wr. Wb,

Alangkah indahnya pagi ini, matahari bersinar dengang terang. Burun-burun bernyanyi dang senan. Bunga-bunga di tamang semerbak mewangi dang bermekarang. Tapi ibara’ bunga ada satu yan layu, yaitu Rahing. Hari ini dia tida’ bisa masu’ sekolah ka sakitki kasiang.

Sekiang dan Terima kasih”

Hehe, lucu ya isi suratnya. Intinya sih hanya mengabarkan anaknya yang nggak masuk sekolah, tapi dikemas dengan puisi dan pengandaian unik. Bisa dibayangkan ya perasaan guru yang menerima ini. Yang jelas bapak ibu guru pasti dibikin geleng-geleng kepala, tapi dengan senyum merekah, meskipun ‘sang Bunga’ Rahing tidak masu’ sekolah.

Surat ini sendiri diposting oleh sebuah akun Facebook bernama Bambang Budiono. Uniknya, baru sehari dipost langsung banjir like, share dan komentar. Komentarnya sendiri rata-rata positif dan bertaburan emoticon ngakak Facebook yang khas.

Komentar lucu si surat romantis
Komentar lucu si surat puitis

Ada yang berkomentar lucu macam Rahing mabuk laut sehingga ia tak masuk sekolah. Ada juga yang komentar lucu yang bernada pantun, “Ikan sepat dalam air payau, cepet sembuh la yau”. Dan komentar greget lainnya juga menyinggung tentang tata cara penulisan orangtua Rahing yang unik. Coba deh perhatikan, kalau ada kata dengan huruf mati ‘n’ maka si orangtua Rahing bakal menambahkannya dengan ‘g’, dan untuk huruf yang aslinya berakhiran ‘g’-nya, malah dibuang.

Ini adalah fenomena yang bisa dibilang unik. Pasalnya, yang seperti ini sudah jarang banget ditemui. Jangankan ngirim surat pemberitahuan izin pakai puisi, ngirim surat izin yang biasa-biasa saja sudah jarang ada.

Hal yang semacam ini juga jadi bukti jika tak semua orangtua murid itu rese. Pasti masih belum lupa kan kasus-kasus guru dan orangtua murid belakangan? Ada orangtua yang melaporkan guru gara-gara anaknya diperingatkan sedikit. Bahkan yang paling baru yaitu berita orangtua yang memukuli guru dan dibantu oleh anaknya.

Surat ini sendiri memang lucu, tapi jadi semacam cambuk pengingat kalau hubungan guru dengan orangtua itu harusnya harmonis. Orangtua harus menaruh respect kepada guru karena tanpanya anak-anak mereka bakal hanya jadi berandalan yang tak berpendidikan. Kita harus selalu ingat, untuk setiap pencapaian besar yang terjadi di dunia ini, selalu awalnya adalah dari guru. Salut dengan orangtuanya Rahing!

Written by Rizal

Hanya seorang lulusan IT yang nyasar ke dunia tulis menulis. Pengalamannya sudah tiga tahun sejak tulisan pertama dimuat di dunia jurnalisme online. Harapannya bisa membuat tulisan yang super kece, bisa diterima siapa pun, dan juga membawa influence yang baik.

Contact me on my Facebook account!

Leave a Reply

Inilah Ilmu Hitam Paling Ganas yang Konon Masih Dipakai Masyarakat Indonesia

Macam Begini Ini Ternyata Kebiasaan Buruk Orang-Orang India