Bagi sepak bola para penonton adalah bagian yang bisa dibilang penting. Kendati beberapa juga ciptakan kerugian, namun dalam keseluruhannya mereka adalah nyawa bagi olahraga ini. Seperti contohnya uang dari loyalitas mereka membeli tiket, pakaian klub, dan beberapa hal lain, kerap mampu menjadi penghidup Tim-Tim bola. Kesetiaan yang terpadu dengan kecintaan pada klub, dewasa ini juga telah lahirkan beberapa tokoh ikonik suporter bola.

Hadirnya mereka dianggap pelopor, atau malah sebuah simbol seorang fans bola. Nama-nama macam Andie Peci, Yuli Sumpil dan beberapa lainnya tumbuh menjadi sosok idola disegani dan dihormati kawan. Orang-orang macam itu bisa ditafsirkan kadar kecintaan pada sebuah kesebelasan sudah tidak bisa terhitung berapa besar. Brutal dan aneh memang, namun begitulah kenyataannya. Lalu siapa sajakah tokoh ikonik suporter sepak bola Indonesia selain mereka? Untuk mengetahuinya simak ulasan berikut ini.

Pencinta klub Arema yang tidak ada tandingannya Sam ikul

Mendiang Sam Ikul [Sumber Gambar]
Bagi pencinta sepak bola Malang, Sam Ikul jelas bukan sosok yang tidak diketahui mereka. Selain bisa dibilang salah satu pendiri Arema, pria berperawakan kurus ini adalah suporter sejati untuk kesebelasan Singo Edan tersebut. Bahkan mungkin kecintaan kepada klub yang akan berusia 31 tahun tersebut sulit untuk ditandingi. Lewatnya Arema tak hanya sekedar klub sepak bola yang mencari menang atau kalah, namun juga menjadi simbol untuk mempersatukan Malang. Seperti diungkapkan laman Kompas.com, Sam Ikul pernah berujar kesebelasan berlogo Singa tersebut adalah alat mencintakan kedamaian dan keamanan warga Malang.

Ayi Beutik, gelora semangat pemain kedua belas Persib

Ayi Beutik [Sumber Gambar]
Layaknya Sam Ikul tadi, Ayi Beutik juga menjadi sosok ikonik pendukung kesebelasan tanah air. Kiprahnya dalam urusan ini sampai membuat ia mendapatkan sebutan sebagai seorang panglima Viking. Entah bagaimana ia dulu bisa suka dengan klub Persib Bandung, namun yang pasti sebagai seorang pendukung loyalitasnya tidak usah diragukan lagi. Kendati konon katanya kerap masuk stadion tanpa tiket, namun gelora semangatnya sebagai pemain kedua belas kerap membuat pendukung Persib lain ikut terbakar. Rasa fanatisme yang besar juga membuat anaknya dinamakan dengan nama klub yang dibela yakni Persib Bandung.

Daeng Uki, militansi suporter lantang PSM Makasar

Militansi Daeng Uki [Sumber Gambar]
Sosoknya tidaklah tinggi besar seperti artis sinetron, malahan ia berambut mohak dengan baju potongan samping. Namun dalam memberikan dukungan kepada PSM Makasar militannya Daeng Uki jelas adalah nomor satu. Beberapa tour atau laga tandang klub berkostum merah tersebut yang selalu diikutinya adalah salah contoh buktinya. Tidak hanya itu saja, melansir laman Footballtribe, Daeng Uki juga sukses mempersatukan beberapa kelompok suporter pendukung PSM Makasar. Mulai dari LAJ, The Maczman, KVS, dan masih banyak lagi. Demi sebuah perdamaian ia juga pernah menetap di Surabaya untuk melakukan hal tersebut.

Agus Jamali, Supporter yang setia pada sportifitas dan loyal terhadap klub

Aksi Agus Jamali [Sumber Gambar]
Atmosfer sepak bola Indonesia memang tidak diragukan lagi. Terkadang akibat gairah yang kebablasan ada nyawa yang harus dikorbankan. Namun, hal tersebut tidak berlaku untuk Agus Jamali ini, meski terlihat garang saat mendukung dirinya sangat menghargai sportifitas saat mendukung. Hampir dalam kariernya saat menjadi pendukung pria asal Pasuruan tidak pernah terlibat bentrokan. Selain terkenal santun saat mendukung Jamali juga memiliki loyalitas yang tinggi terhadap klub dibelanya. Hampir selalu hadir untuk mendukung dua tim besar Jawa Timur adalah bukti bagaimana loyalitas.

Bapak pendukung Persija Jakarta, Ferry Indrasjarief

Bung Ferry [Sumber Gambar]
Selain beberapa nama tadi, klub ibukota yakni Persija Jakarta juga memiliki tokoh ikonik suporter sepak bola yang disegani lawan dan kawan. Bahkan berkat perdamaian yang dibawa Bung Fery, urat tegang antara pendukung Persib dan Persija Jakarta agak melunnak. Kendati belum sepenuhnya menghapuskan perseteruan, namun sedikit bisa mengurangi tensi tinggi antar pendukung kedua tim. Beberapa kali dirinya juga menegur anggotanya yang melakukan tidak kurang terpuji. Seperti menegur salah satu The Jack yang mengolok-ngolok klub Maung Bandung.

Kehadiran mereka laksana api yang menghidupkan gairah sepak bola nasional, yang kita ketahui bersama seret dalam masalah prestasi. Lewat mereka kita belajar bagaimana sebuah kecintaan tidak pernah memandang bagus atau buruk sebuah tim dibela. Selagi mereka masih berusaha menendang bola maka gelombang dukungan akan terus diberikan.