Ada banyak sekali sosok yang merupakan orang terdekat dari Presiden Soeharto yang mungkin tidak banyak diangkat namanya, sehingga publik banyak tak tau dengan orang tersebut. Salah satunya sebut saja Soedjono Hoemardani, jenderal kepercayaan sang presiden merangkap penasihat spiritualnya.

Sebagai seorang kepercayaan presiden, ada banyak sekali hal unik yang melekat pada diri Soedjono Hoemardani ini. Nah, kali ini Boombastis.com akan membahas tentang cerita seputar keunikannya. Penasaran? Simak terus uraian berikut ya!

Punya dandanan yang nyentrik

Sosok Soedjono Hoemardani [Sumber gambar]
Pernah melihat wajah Michael Jackson sebelum ia melakukan operasi plastik? Yap, begitulah kurang lebihnya penampilan jenderal Soedjono Hoemardani. Di zaman dahulu, ia sudah punya gaya yang nyentrik, rambutnya jauh dari kata klinis, malah dibiarkan mengembang. Bergaya ala King of Pop sebelum operasi plastik, dirinya lebih layak disebut sebagai seorang seniman dibanding jenderal yang notabenenya berkiprah di dunia militer dan politik.

Percaya dengan hal berbau klenik

Sama-sama penyuka klenik [Sumber gambar]
Selain menjabat Asisten Pribadi (Aspri) Presiden Soeharto Bidang Ekonomi dan Perdagangan, konon jenderal Soedjono Hoemardani dipercaya sebagai penasihat spiritual Presiden Soeharto. Hal tersebut tak lain karena keduanya sama-sama percaya akan hal berbau klenik dan gaib. Di samping itu, pria yang kerap disapa Djonot ini dekat dengan seorang guru spiritual bernama Soediyat Prawirokoesoemo alias Romo Diyat. Romo Diyat sendiri pernah berpesan padanya untuk menjaga Soeharto karena sang Romo percaya jika ia kelak menjadi orang besar. Selain itu, baik Presiden Soeharto ataupun Soedjono Hoemardani, keduanya sering pergi ke tempat-tempat keramat.

Akrab dengan dunia dagang sejak kecil

Berperan penting dalam perkembangan ekonomi Indonesia [Sumber gambar]
Menjadi salah satu orang penting dalam perkembangan ekonomi Indonesia, bakat tersebut nampaknya sudah ia miliki sejak kecil. Djonit sudah akrab dengan dunia dagang sejak masih muda. Karena ayahnya seorang pedang di Pasar Klewer, Djonit kecil sehari-harinya memasok berbagai jenis bahan makanan dan pakaian pamong serta abdi keraton. Setelah itu, ia juga bersekolah di Gemeentelijke Handels School, sebuah sekolah dagang yang berada di Semarang. Lulus pada 1937, Djonit pulang ke Solo untuk kemudian mengelola usaha ayahnya.

Pernah bergabung sebagai keibodan (pembantu polisi) di zaman Jepang

Pak Harto di pemakaman Soedjono Hoemardani [Sumber gambar]
Tak kalah dengan karier di bidang ekonomi, ia juga punya riwayat militer yang apik. Tahun 1945 saja ia sudah menjabat sebagai Letnan Dua dan masuk dalam kategori orang yang terpelajar. Melansir tirto.id, pada masa kependudukan Jepang ditugaskan sebagai fukudanco (wakil komandan) dari keibodan (pembantu polisi), padahal saat itu usianya masih sangat muda, 20 tahun. Sebagai seorang tentara, Soedjono membuktikan banyak hal, di antaranya mereka tak hanya harus pandai di medan perang saja, tetapi dituntut untuk punya skill lain, seperti mengurus administrasi, keuangan, serta urusan di atas kertas.

BACA JUGA: 5 Fakta Unik Presiden Soeharto yang Tak Banyak Diketahui Orang Indonesia

Soedjono Hoemardani meninggal pada di Tokyo, Jepang pada 12 Maret 1986. Berita kematiannya ini sempat ditayangkan di TV nasional TVRI. Jenazahnya kemudian diterbangkan menuju Solo di mana ketika itu Soeharto dan istrinya juga ikut mengantar ke peristirahatan terakhir. Di dunia militer, karier terakhir yang dipegang oleh Djonit adalah Jenderal.