Tak ada sosok koruptor yang paling diingat selain figur Eddy Tansil. Sebagai buronan legendaris yang melarikan kekayaan negara sebesar Rp 1, 3 triliun, namanya seolah menjadi saksi betapa rapuhnya sistem hukum dan peradilan di Indonesia. Ya, pria yang seharusnya mendekam di penjara selama 20 tahun itu berhasil melarikan diri hingga hidup aman di negeri asal leluhurnya, Cina.

Meski dianggap sebagai maling alias koruptor di Indonesia, toh tak selamanya nama Eddy Tansil dianggap jelek. Setelah berhasil kabur dan kembali ke Cina, ia malah dianggap sebagai dermawan di negeri tirai bambu tersebut. Terutama di wilayah Fujian yang merupakan kampung halamannya. Meski kini sosoknya menjadi misteri dan sulit ditangkap oleh pemerintah RI, seperti sepak terjang Eddy Tansil di Cina?

Koruptor yang disanjung sebagai dermawan yang kaya raya di Cina

Setelah tersangkut kasus Bapindo yang membuat negara mengalami kerugian sebesar Rp 1,3 triliun, Eddy berhasil ‘mengakali’ penegak hukum di Indonesia dan berhasil kabur setelahnya pada 1996 silam. Berkat pengaruh yang dibangun oleh ayah dan kakaknya di kampung halamannya keluarga Tansil, ia bahkan dikenal sebagai seorang dermawan sekaligus perantauan kaya raya yang sukses. Meski di Indonesia dirinya dikenal karena tindakan korupsinya.

Figur dermawan di kampung halamannya [sumber foto tim riset Tirto.id]
Dilansir dari Tirto.id, namanya disebut sebagai donatur proyek revitalisasi Kuil Shizu di Kota Honglu, yang menelan 14 juta renminbi (setara Rp28,4 miliar dengan kurs saat ini) pada awal 1986. Berlanjut pada 1989, ia menyumbang 8,6 juta renminbi (setara Rp17,5 miliar) untuk merevitalisasi Kuil Wanfu di kaki Gunung Huangpi, daerah pinggiran Fuqing. Selain gemar beramal, Eddy Tansil juga dikenal sebagai pengusaha sukses di kampung halaman Xinyi, di mana ia dan sang ayah mengembangkan industri agronomi bertujuan sosial.

Dikenal sebagai keluarga berpengaruh di kampung halamannya

Sebagai pengusaha, citra keluarga Tansil diwariskan secara turun temurun mulai dari sang ayah, Harry Tansil dan kakaknya, Hendra Raharja. Berkat mereka, Eddy Tansil disegani di kampung halamanya. Seolah tak jauh dari kejahatan, Hendra Rahardja, putra pertama Harry Tansil dan kakak Eddy Tansil, termasuk dalam daftar buronan Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI). Dilansir dari Tirto.id, Ia mencuri uang negara Rp1,9 triliun dan divonis penjara seumur hidup saat jadi buron ke luar negeri.

Eddy Tansil (jas biru) yang disambut di sebuah kuil yang menerima donasinya [sumber Tim Riset Tirto.id)
Baik Hendra dan Eddy, keduanya merupakan keluarga yang sangat berpengaruh di daerah Fuqing, sebuah kota setingkat kabupaten di selatan Fuzhou dan utara Putian di Provinsi Fujian, yang merupakan kampung halaman mereka. Di sana citra mereka dibangun sebagai keluarga perantauan yang sukses dan kaya sekaligus patriotik dan dermawan. Hal ini dibuktikan dengan sejumlah donasi yang diberikan untuk kepentingan masyarakat oleh Hendra maupun Eddy Tansil.

Dekat dengan politikus berpengaruh di Beijing dan gagal ditangkap otoritas hukum Indonesia

Selain kesohor sebagai pengusaha dan filantropis yang dermawan, Eddy Tansil juga dikenal dekat dengan petinggi politik di Beijing, Cina. Hal ini tercermin dari rekam jejaknya yang punya hubungan akrab dengan petinggi dari Partai Komunis Tiongkok. Dilansir dari Tirto.id, ia pernah bertemu dengan Song Ping, anggota Komite Tetap Politbiro Partai Komunis Tiongkok yang juga dikenal sebagai mentor Presiden Republik Rakyat Tiongkok ke-6 Hu Jintao.

Eddy Tansil berhasil mengakali sistem hukum di Indonesia [sumber gambar]
Selain itu, Eddy juga mendapatkan akses bertemu Tian Jiyun, Wakil Ketua Komite Tetap Kongres Rakyat Nasional Partai Komunis Tiongkok, yang kemudian mengundangnya ke Beijing. Melihat koneksinya yang begitu kuat, tak salah jika utusan Indonesia untuk memburu Eddy Tansil gagal total saat hendak menangkap. Hal ini diutarakan oleh Gagoek Soebagyanto, jaksa yang dulu ditugaskan memburu Eddy Tansil. “Saya memang sempat kejar dia ke China, tapi mentok sampai Beijing. Juga, pihak kejaksaan China melarang saya pergi ke Fujian dengan alasan administratif “. Ujarnya yang dikutip dari Tirto.id.

BACA JUGA: 5 Fakta Edi Tansil, Koruptor Indonesia Paling Gila yang Berhasil Lolos

Ibarat pepatah, sudah jatuh tertimpa tangga pula. Mungkin, hal itulah yang menggambarkan kondisi hukum di Indonesia. Selain tabiat korupsi yang masih menjadi ‘budaya’, hukum yang lembek soal penanganan para koruptor di negeri ini jadi bukti lemahnya peradilan Tanah Air. Salah satunya seperti sosok Eddy Tansil di atas, yang sukses mengakali aparat di ‘negeri hukum’ hingga dirinya yang tidak bisa diadili sampai saat ini.