in

6 Sinetron Berkualitas yang Pernah Menghiasi Layar Kaca, Sayang Tak Ada Lagi!

Kualitas sinetron di tanah air saat ini bisa dikatakan sangat memprihatinkan. Isinya lebih didominasi adegan cinta-cintaan dan kekerasan antar remaja. Sama sekali tidak ada nilai positif yang diselipkan dalam sinetron-sinetron tersebut. Belum lagi, jumlah episode yang terlalu panjang membuat cerita sinetron jadi bertele-tele.

Tak heran jika drama-drama dari negara lain lebih digemari ketimbang buatan bangsa sendiri. Alasannya simpel, yakni karena episodenya terlalu panjang dan ceritanya tidak seru. Jadi, beruntung sekali bagi generasi yang pernah menonton enam sinetron berkualitas buatan anak negeri ini. Sebab, kamu bisa menemukan banyak nilai moral dalam sinetron-sinetron lawas ini.

1. Gita Cinta Dari SMA

Galih dan Ratna adalah dua karakter dalam film Gita Cinta Dari SMA, yang kalau sekarang mungkin bisa disandingkan dengan sosok Rangga dan Cinta dalam AADC. Kisah cinta mereka begitu mengena di hati dan tentunya berhasil membuat penonton jadi baper massal kala itu. Film yang diproduksi pada tahun 1979 ini kemudian di-remake kembali oleh Karno’s Film.

Gita Cinta Dari SMA [ Image Source ]

Sinetron yang terdiri dari 13 episode itu menampilkan Paundrakarna sebagai Galih dan Ratna Galih Primakusuma sebagai Ratna. Sinetron percintaan klasik ini mengambil Yogyakarta sebagai latar belakangnya. Rano yang dulunya berperan sebagai Galih juga ikut main dalam sinetron ini, namun saat itu dia menjadi bapak dari Ratna. Tentunya, sinetron ini tak kalah keren dari drama-drama asing yang biasa kita tonton. Apalagi budaya Indonesia yang dihadirkan dalam sinetron ini sangat kuat.

2. Keluarga Cemara

Sinetron sekarang lebih sering menyoroti kehidupan borjuis yang penuh kemewahan. Sebaliknya, sinetron-sinetron sekarang seolah ingin mengesampingkan kehidupan masyarakat Indonesia yang sederhana dengan segala keterbatasannya. Untuk itu, kamu yang pernah menonton sinetron ini perlu berbangga hati karena ada begitu banyak nilai kehidupan yang bisa dipetik dari tayangan berkualitas karya anak bangsa tersebut.

Keluarga Cemara [ Image Source ]

Episode pertama dari sinetron ini diputar pada tanggal 6 Oktober 1996. Pemeran utama dalam sinetron ini antara lain Novia Kolopaking, Lia Waroka, Adi Kurdi, dan Ceria HD. Dari sinetron ini, kita bisa belajar tentang betapa hangatnya sebuah keluarga dan bagaimana sebuah keluarga bisa saling menjaga satu sama lain. Semua hal yang digambarkan di sinetron ini juga serba bersahaja dan sederhana. Hal tersebut justru membuat para penonton merasa hanyut dalam ceritanya.

3. Cinta

Siapa bilang sinetron Indonesia kualitasnya jelek dan nggak bisa bikin baper. Sinetron berjudul Cinta ini telah sukses membuat banyak penontonnya baper massal dan ikut terhanyut ke dalam ceritanya. Dibintangi oleh Desy Ratnasari, Primus Yustisio, dan Atalarik Syah, sinetron ini berhasil meraih Panasonic Gobel Award untuk kategori Drama Seri.

Cinta [ Image Source ]

Tak tanggung-tanggung, lagu pembuka untuk sinetron Cinta yang berjudul Bahasa Kalbu juga berhasil menjadi hits kala itu. Bahkan, lagu tersebut masih sering diperdengarkan di TV atau radio hingga kini, dan juga telah di-remake dalam berbagai versi penyanyi. Lagu Bahasa Kalbu awalnya dipopulerkan oleh Titi DJ. Sinetron berdurasi 1 jam ini ditayangkan sejak 1 Februari 1999 sampai 26 Juli 1999 atau sepanjang 26 episode.

4. Noktah Merah Perkawinan

Noktah Merah Perkawinan merupakan salah satu sinetron yang fenomenal di era 90-an. Dibintangi oleh Cok Simbara dan Ayu Azhari, sinetron ini berhasil meraih simpati publik dengan alur ceritanya yang begitu mengena di hati. Noktah Merah Perkawinan mengangkat tema perceraian antara pasangan suami-istri yang sebetulnya masih saling mencintai, dan bagaimana dampak dari perceraian itu sendiri terhadap anak-anak.

Noktah Merah Perkawinan [ Image Source ]

Sinetron ini dibuat sepanjang 25 episode dan diputar sejak 25 Mei 1996 sampai 7 Oktober 1996. Dan karena minat penonton cukup besar terhadap sinetron tersebut, rumah produksi Rapi Films pun kemudian membuat sekuelnya yang tayang hingga tahun 1999.

5. Pernikahan Dini

Sinetron ini berhasil melambungkan nama Agnes Monica di industri hiburan tanah air. Tak hanya populer sebagai bintang sinetron, wanita yang kini memakai nama panggung Agnezmo itu juga semakin menancapkan taringnya di dunia tarik suara. Lagu pembuka dan penutup untuk sinetron ini, yang dinyanyikan oleh Agnes, langsung menjadi hits. Dan bukan cuma soundtrack serta alur cerita dari sinetron ini saja yang ternyata bisa menarik perhatian penonton, chemistry yang dibangun oleh Agnes dan Sahrul Gunawan juga sempat menjadi perbincangan hangat kala itu.

Pernikahan dini [ Image Source ]

Dalam sinetron ini, penonton disuguhi sebuah cerita tentang seorang gadis remaja yang cerdas dan aktif bernama Dini. Namun sayangnya, masalah keluarga dan kurangnya perhatian orang tua telah membuatnya terjerumus ke dalam pergaulan yang tidak baik. Padahal dia dulunya menjauhi hal-hal itu. Hingga pada suatu hari, dia pun bertemu Gunawan yang diperankan oleh Sahrul dan akhirnya jatuh cinta. Karena hubungan pacaran mereka melewati batas, Dini pun hamil dan terpaksa harus menikah dengan Gunawan. Pernikahan yang terlalu dini itu tentunya mendatangkan berbagai masalah dalam kehidupan Dini yang notabenenya masih ABG.

6. Si Doel Anak Sekolahan

Sinetron yang disutradarai dan dibintangi oleh Rano Karno ini masih tetap melegenda sampai sekarang. Betapa tidak, dalam sinetron ini dikisahkan mengenai kehidupan Doel dan keluarganya yang berdarah Betawi. Mereka sekeluarga masih tetap mempertahankan adat budaya Betawi, walau harus hidup di tengah-tengah arus perkotaan dan modernisasi yang begitu pesat. Sama seperti Keluarga Cemara, sinetron Si Doel Anak Sekolahan berhasil menarik perhatian penonton tanah air dengan segala kesederhanaan dan kebersahajaannya.

Si doel anak sekolahan [ Image Source ]

Si Doel Anak Sekolahan pertama kali tayang di stasiun TV swasta RCTI. Sinetron yang dibuat sepanjang 162 episode ini disebut-sebut sebagai versi modern dari novel Si Doel Anak Betawi karya Aman Datuk Majoindo, serta film berjudul sama yang disutradarai Sjumandjaja pada tahun 1972. Selain dibintangi oleh Rano Karno, sinetron ini juga menampilkan aktor kawakan Indonesia, Benyamin Sueb. Keduanya selalu kompak saat syuting, sehingga kesannya seperti bapak-anak betulan.

Semua sinetron di atas memang pantas disebut berkualitas karena pembuatannya benar-benar dipikirkan secara matang, baik itu dalam penulisan naskah mau pun pemilihan peran. Sementara itu, sinetron-sinetron saat ini, yang menerapkan sistem kejar tayang, tidak begitu mementingkan penulisan naskah yang baik dan pemilihan peran yang pas. Sebab segalanya sengaja dibuat serba cepat, tanpa melalui proses penggodokan yang panjang terlebih dulu.

Written by Destriyana

Leave a Reply

4 Hewan Bertampang Lucu Ini Juga Bisa Bikin Kamu Ambil Langkah Seribu

Lebih Dekat Dihati [ Image Source ]

4 Alasan Kenapa LDR Lebih Membahagiakan