Manusia boleh berencana tapi bagaimana pun tetap Tuhan yang jadi penentunya. Ungkapan ini pasti cukup lazim di telinga dan bisa diimplementasikan untuk apa pun, termasuk dalam perang. Para jenderal hebat boleh memiliki banyak senjata, pasukan, serta perencanaan super matang, tapi berhasil atau tidaknya, tetap bukan sesuatu yang pasti. Semuanya ada di tangan Tuhan.

Apa yang dijelaskan di atas secara logika mungkin terdengar seperti sesuatu yang tak mungkin terjadi, namun pada kenyataannya tentu ada dan banyak. Ya, sejarah mencatat ada banyak kegagalan perang terjadi yang berawal dari persiapan maha dahsyat, bahkan dipimpin oleh jenderal-jenderal ternama. Beberapa perang ini pun akhirnya dianggap blunder militer paling parah yang benar-benar memalukan.

Masih soal blunder perang terparah, berikut ini beberapa yang paling fenomenal dan memalukan.

1. Stalingrad

Pada musim panas tahun 1942, tentara Nazi Jerman dan sekutunya menyerang bagian selatan dari Soviet Union yang terletak di Eastern Front. Tujuannya adalah untuk menguasai daerah yang mempunyai cadangan minyak di Caucasus dan tambang di sekitar Don dan Volga Rivers. Untuk itu, pasukan Nazi Jerman dan sekutunya sepakat untuk merebut Stalingrad agar dapat mengamankan bagian sayap terdepan dari kota tersebut.

Stalingrad [Image Source]
Setelah melakukan rapat dan mengatur strategi, Hitler mengerahkan pasukan 4th Panzer Army untuk membantu 6th Army yang sudah mengepung Stalingrad. Alasan Hitler mengerahkan 4th Panzer Army karena tanpa pasukan tersebut, penyerbuan akan sedikit susah.

Pertempuran hebat terjadi di sekitaran dan dalam kota Stalingrad. Hitler mengerahkan banyak bala tentaranya guna merebut kota tersebut. Keasikan menyerang, Hitler ternyata lengah dan sebuah serangan balasan dari Soviet Union mengepung 6th Army dan memaksa para pasukan yang tersisa untuk menyerahkan diri. Dari penyerangan frontal guna merebut Stalingrad ini, Hitler kehilangan 330 ribu pasukan.

2. Agincourt

Pada tahun 1415, Henry V mengerahkan sebagian besar pasukannya untuk menuju ke utara Prancis guna melawan Charles d’Albret. Alih-alih dapat memenangi peperangan, justru pasukan Henry V kalah dalam jumlah pasukan dan bahan makanan. Dalam hawa yang begitu menusuk tulang di akhir musim gugur, pasukan Inggris harus kedinginan dengan berkemah di luar tanpa pakaian hangat serta dalam keadaan kelaparan.

Agincourt [Image Source]
Untuk kembali mengobarkan semangat para pasukannya yang sudah mulai kelelahan, kedinginan, terluka dan kelaparan, Henry V mengibarkan bendera kebangsaan Inggris dan mengajak semua pasukan bernyanyi. Ternyata, hal tersebut membuat d’Albret geram karena menganggapnya suatu penghinaan. Oleh karenanya, d’Albret melakukan serangan dengan memimpin sendiri pasukan dengan persenjataan lengkap dari besi, menyeberangi daratan rawa berlumpur.

Dikarenakan lumpurnya terlalu tebal, banyak tentara Prancis yang justru jatuh terpeleset dan hal tersebut memperlambat pergerakan mereka dalam menggempur pasukan Henry V. Melihat kesempatan ini, Henry V memberikan perintah kepada pasukan pemanahnya untuk menunggu pasukan Prancis yang sudah kelelahan mendekat. Setelah dekat, puluhan anak panah diluncurkan dan membunuh lebih dari 100 orang, termasuk d’Albret sendiri.

3. Carrhae

Sebuah invasi besar-besaran yang gagal dan dapat dikatakan sebagai salah satu blunder terbesar dalam sejarah adalah apa yang pernah dilakukan oleh Marcus Licinius Crassus. Pada tahun 53SM, sang jenderal Romawi ini mencoba menyerang Kekaisaran Parthian yang terletak di timur laut Iran dengan membawa 35-45 ribu pasukan, 4000 kavaleri dan ditambah dengan 12 ribu sekutunya. Harapannya jelas untuk menang, tapi yang terjadi justru sebaliknya.

Carrhae [Image Source]
Belajar dari kesuksesan para tentara Parthian saat menyerang Armenia sebelumnya, Crassus membawa pasukannya mendekati daerah di tengah gurun pasir dengan harapan dapat menguasai kota kaya, Mesopotamia yang mana harus dimulai dari Carrhae terlebih dahulu.

Sesampai di Carrhae, Crassus melihat ada 10 ribu pasukan kavaleri Parthian di bawah pimpinan Surenas menghadang. Percaya diri dapat memenangkan peperangan dan menghancurkan pasukan Surenas, Crassus memimpin sendiri pasukannya yang sebelumnya sudah lelah berjalan kaki.

Dalam keadaan lelah, lapar dan haus, pasukan Crassus gagal total melawan 10 ribu pasukan kavaleri Surenas. Dalam keadaan tersebut, Crassus menawarkan jalan damai kepada Surenas, tapi justru ditolak dan membuat dirinya dibunuh di Carrhae. Pasukan Romawi yang masih hidup lainnya banyak yang tewas di padang pasir saat mencoba kembali serta sekitar 10 ribu lainnya dijual dan dijadikan budak.

4. Little Big Horn

Saat Amerika Serikat belum seperti sekarang ini, benua tersebut didiami oleh Suku Indian yang beragam jumlahnya. Pada tahun 1876, Letnan  Kolonel Amerika Serikat bernama George Custer memimpin 647 orang yang diambilnya dari 7 resimen kavaleri untuk melakukan serangan terhadap aliansi suku asli, seperti Sioux, Cheyenne dan beberapa lainnya di Little Big Horn River.

Little Big Horn [Image Source]
Agar rencananya sukses, Custer memutuskan untuk meluncurkan serangan dari beberapa arah dengan tujuan agar para suku itu terkejut dan tercerai berai. Sayangnya, Custer terlalu menganggap remeh para suku yang ternyata sudah mengetahui strategi itu dan justru menunggu serangan dimulai. Ketika Custer meluncurkan serangan pertamanya di siang hari, detasemen yang dipimpin oleh Mayor Reno dan kapten Benteen kuwalahan menghadapi pasukan dari aliansi suku asli benua tersebut. Pasukan ini pun terbirit-birit kembali ke pos mereka.

Nampaknya, setelah melakukan serangan, ternyata suku-suku itu memberikan kejutan lain dengan memberikan shock terapy berupa penyerangan mendadak. Custer dan sisa pasukannya harus bertahan selama 24 jam. Alih-alih dapat pergi dengan selamat, Custer justru membagi pasukannya dan kembali melakukan serangan yang mana justru itu blunder dan membuat pasukannya hancur serta dia tewas terbunuh.

5. Moscow

Pada tahun 1812, Kaisar Prancis Napoleon Bonaparte memimpin 680 ribu pasukannya untuk melakukan invasi secara besar-besaran ke Rusia. Rute yang diambil Napoleon untuk menuju Rusia cukup berat, namun akhirnya mereka sampai di Moscow. Peperangan yang berlangsung selama kurang lebih 3 bulan tersebut akhirnya pihak Rusia memilih menarik pasukannya dan tentara Napoleon sukses menguasai Moscow. Hanya saja, walaupun kalah, pihak Rusia tidak mau berdamai.

Moscow [Image Source]
Sayangnya, kesuksesan Napoleon merebut Moscow tersebut justru membuatnya harus mundur karena dia dan pasukannya kekurangan bahan makanan dan pasokan lainnya. Dari sinilah kesalahan terbesar yang dibuat oleh seorang jenderal hebat sekaliber Napoleon.

Dia mundur dan kembali ke Prancis dengan cara menempuh jalan yang sama. Di tengah cuaca musim dingin ekstrem, bahan makanan yang sangat menipis, pakaian hangat yang memadai sampai dengan tempat berlindung yang cukup hangat, banyak pasukan Prancis mengalami sakit dan radang dingin.

Sekitar 380 ribu anak buahnya tewas dan 100 ribu di antaranya adalah tahanan serta 50 ribu lainnya tidak dapat melanjutkan perjalanan. Bahkan dengan kondisi seperti itu, Napoleon tetap ngotot untuk meneruskan perjalanan dengan mengambil rute yang salah. Dikarenakan hal ini, Napoleon kehilangan sebagian besar pasukannya.

6. Battle of Hattin 1187

Beberapa tahun lalu ada sebuah film kolosal berjudul “Kingdom of Heaven.” Dalam film tersebut memperlihatkan peperangan antara tentara Kristen dan Muslim untuk memperebutkan Jerusalem. Ternyata, ada adegan peperangan yang benar-benar terjadi seperti yang diperlihatkan dalam film tersebut, yaitu saat Raja Jerusalem Guy mencoba menghadapi langsung pasukan Saladin.

Battle of Hattin 1187 [Image Source]
Dengan membawa seluruh bala tentaranya dan meninggalkan Jerusalem hanya dihuni anak-anak, orang tua dan wanita saja, beserta sedikit pasukan saja, King Guy longmarch melewati gurun pasir di tengah panas yang sangat menyengat. Karena rata-rata baju zirah yang dikenakan pasukan Jerusalem terbuat dari besi dan berat, ketika melintasi gurun, tentu saja persediaan air yang mereka bawa habis.

Banyak pasukan dari King Guy kehausan dan tewas di perjalanan sebelum sampai di mana pasukan Saladin tengah menunggu dengan persediaan air juga makanan berlimpah. Dikarenakan hal ini, pasukan Saladin dapat menghancurkan seluruh bala tentara dari Jerusalem dengan mudah dan cepat. King Guy pun menyatakan menyerah.

Meskipun tentang perang, ulasan ini bisa memberikan satu pelajaran penting bagi kita. Persiapan boleh mentereng dan luar biasa, tapi dalam eksekusi harus ada yang namanya strategi. Yang itu bahkan lebih penting dari semua aspek. Bukankah sejarah pernah menceritakan kalau ada begitu banyak perang penting yang dimenangkan oleh salah satu pihak yang persiapaannya pas-pasan? Ya, mereka bisa menang lantaran strategi yang cerdas.