Sejatinya, peristiwa penting seperti proklamasi kemerdekaan juga tak lepas dari hal-hal yang lucu, namun luput dari pandangan banyak orang. Untungnya, kisah tersebut berhasil diabadikan dan menjadi salah satu saksi dari detik-detik proses perjalanan pidato proklamasi yang legendaris itu. Salah satunya seperti yang diutarakan oleh Presiden pertama RI, Ir. Sukarno.

Saat itu, bung besar beranggapan bahwa mikrofon sangat berharga bagi proses kemerdekaan Indonesia. Alhasil, titah tersebut pun dilaksanakan. Indonesia, melalui kedua pemimpinnya, Ir. Sukarno dan Moh. Hatta, berhasil merumuskan kemerdekaan RI bersama pemuda lainnya. Oleh sang proklamator, berita tentang berdaulatnya sebuah negeri baru di Asia Tenggara itu, meluncur lewat sebuah mikrofon bersejarah. Benda elektronik yang memiliki kisah unik di bawah ini.

Pentingnya arti mikrofon bagi bung besar

Pada saat perayaan hari jadi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia di Jakarta pada 5 Oktober 1966, Sukarno menyampaikan sebuah pesan penting. Ia berpendapat, sebuah alat elektronik yang bernama mikrofon, bisa menjadi alat yang penting untuk menyampaikan kemerdekaan Indonesia di mata dunia. Seperti yang dikutip dari buku  17-8-1945, Fakta, Drama, Misteri karya Hendri F. Isnaini terbitan Change (2015), Sukarno berkata,

Memiliki nilai besar di mata Bung Karno [sumber gambar]
Kita telah memiliki pada tanggal 17 Agustus 1945 itu microphone. Satu-satunya hal boleh dikatakan, materiel yang telah kita miliki, satu microphone, yang dengan microphone ini kita dengungkan ke hadapan seluruh manusia di bumi ini bahwa kita memproklamasikan kemerdekaan kita,

Sempat disebut sebagai barang curian

Yang unik, Sukarno sempat menyebut bahwa mikrofon yang ia gunakan merupakan hasil curian dari stasiun radio milik tentara Jepang. Dalam otobiografinya, Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, ia berkata

Sempat dikira mikrofon curian milik stasiun radio Jepang [sumber gambar]
Aku berjalan ke pengeras suara kecil hasil curian dari stasiun radio Jepang dan dengan singkat mengucapkan proklamasi itu,

Ternyata, ucapan sang proklamator itu disanggah oleh Sudiro, mantan sekretaris pribadi Menteri Luar Negeri pertama RI Achmad Soebardjo.

Pemilik asli dari mikrofon legendaris

Dalam ceramahnya di Lembaga Pembinaan Jiwa ‘45 Jakarta, 6 September 1972, Sudiro menyinggung sosok bernama Gunawan. Seorang pemilik Radio Satriya, yang bertempat tinggal dan mendirikan usaha di Jalan Salemba Tengah 24 Jakarta. Menurut dirinya, mikrofon tersebut dibuat sendiri oleh Gunawan. Karena kondisinya yang saat itu sedang darurat, ia pun akhirnya merancang secara ala kadarnya dengan bahan-bahan sederhana, namun berfungsi dengan baik.

Ilustrasi Mikrofon proklamasi dibuat dengan bahan seadanya [sumber gambar]
Semuanya itu adalah hasil kecerdasan otak dan ketrampilan tangan seorang Indonesia yang bernama Gunawan itu,” kata Sudiro yang dilansir dari historia.id.

Bahan darurat yang dirancang dengan seksama

Karena situasi pada saat itu yang serba sulit, Gunawan pun menggunakan bahan seadanya. Seperti magnit dari dynamo sepeda, grenjeng atau kertas pembungkus rokok, yang dikombinasikan dengan alat lainnya. Mujur, mikrofon itu akhirnya selesai dibuat. Keluarga Gunawan sendiri menjalankan usaha sewa menyewa mikrofon, yang pada saat itu tak ada stok tersisa di rumahnya. Tinggal sebuah, tapi dipakai oleh keluarganya sendiri.

Ilustrasi dinamo sepeda dan grenjeng rokok [sumber gambar]
Magnitnya saya buat dari dua buah dynamo sepeda, sementara band-nya hanya dari grenjeng (kertas perak pembungkus rokok),” kata Gunawan dikutip Kompas, 16 Agustus 1984.

Proses pencarian mikrofon untuk proklamasi kemerdekaan

Pada 17 Agustus 1945 pukul 07.00 pagi, Gunawan didatangi oleh Wilopo dan Njonoprawoto dengan menggunakan mobil. Keduanya bermaksud untuk meminjam mikropon pada dirinya. Ia sendiri tidak diberi tau, akan digunakan untuk apa alat tersebut.

Mikrofon berhasil dipasang di jalan Pegangsaan Timur 56 [sumber gambar]
Karena kedua utusan itu tak bisa memasang mikrofon, Sunarto yang merupakan saudara Gunawan, akhirnya disuruh berangkat dan membantu Wilopo dan Njonoprawoto. Mikrofon pun berhasil dipasang di Pegangsaan Timur 56 pada 17 Agustus 1945. Tak lama, proklamasi kemerdekaan pun mulai berkumandang di seantero Indonesia.

Standard didirikannya di ruang muka terbuka, dan versterker diletakkan di dalam kamar muka sebelah kiri dari ruang terbuka itu,” kata Sudiro yang dilansir dari historia.id.

Keberadaan mikrofon yang kini menjadi misteri

Pada 1946, Gunawan sang pemilik membawa mikrofon legendaris itu ke Kota Solo. Karena sudah tak lagi digunakan, ia pun menyimpannya. Sesekali benda tersebut diperlihatkan karena mempunyai nilai sejarah yang tinggi. Bahkan menurut Gunarso yang merupakan putera dari Gunawan, mikrofon tersebut pernah ditawar oleh seorang warga India, namun ditolak olehnya.

Keberadaan mikrofon yang kini menjadi misteri [sumber gambar]
Ada seorang India dari suku Sikh yang datang malam-malam, menyatakan keinginannya menukar mikrofon itu dengan sebuah rumah di Jalan Imam Bonjol,” ujarnya yang dilansir dari historia.id.

Ia juga mendapat mendapat wasiat dari sang ayah sebelum meninggal, untuk mencari keberadaan mikrofon tersebut yang kini masih misterius. Padahal, Sekjen Kementerian Penerangan Harjoto meminta mikrofon beserta kakinya tanpa versterker pada 1960, untuk diserahkan pada Sukarno saat merayakan ulang tahunnya di Tokyo, Jepang. Sayang, harapan harapan agar mikrofon itu disimpan di Monumen Nasional oleh sang proklamator, tak terlaksana dengan baik. Keberadaannya hingga kini pun masih menjadi misteri.

Meskipun terlihat remeh, mikrofon proklamasi di atas ternyata memiliki kisahnya tersendiri. Tak serta merta ada, lalu digunakan begitu saja. Ada sebuah proses panjang dan luar biasa di balik mikrofon legendaris tersebut. Gimana menurutmu Sahabat Boombastis?