17 Agustus, momen di mana Indonesia merdeka dan lepas dari jajahan bangsa Jepang dan Belanda. Tanggal sakral ini selalu dipersiapkan dengan sepenuh hati oleh seluruh masyarakat Indonesia. Setiap usia kemerdekaan Indonesia bertambah, maka kekreatifan masyakarat juga semakin meningkat. Tentu, pagi 17 Agustus diadakan upacara bendera.

Sejauh ini, upacara yang paling sukses bikin merinding adalah upacara yang dilaksanakan di Istana Negara. Di mana semua petugas merupakan orang-orang terpilih dari berbagai penjuru Indonesia. Tamu-tamu yang datang juga beragam. Makanya, ada banyak sekali orang yang mau ikut upacara di Istana. Sayang, kadang keadaan tidak memungkinkan, entah itu terkendala biaya atau transportasi menuju ke sana. Namun, sebagian orang ada yang nekat tetap berangkat ke sana, mereka ini contohnya.

Medi Bustomi, pria tulungagung yang berjalan mundur

Medi viral beberapa waktu lalu karena ia berjalan mundur untuk mencapai Istana Negara dan berencana ikut upacara di sana. Bukan tanpa alasan Medi melakukan itu semua. Ia mengemban misi untuk melestarikan lingkungan.

Medi Bustomi [sumber gambar]
Berjalan dari tanggal 18 Juli lalu, ia mengestimasikan tanggal 17 Agustus tepat dirinya sudah berada di Jakarta. Selain ingin ikut upacara, Medi juga berkeinginan untuk bertemu dengan presiden RI, Joko Widodo dan ingin meminta bibit tanaman langsung. Bibit tanaman ini akan ia tanam di kaki Gunung Wilis, sebagai bukti bahwa pemimpin Indonesia adalah orang yang juga peduli dengan lingkungan.

Pria tanpa alas kaki di 17 Agustus tahun lalu

Cerita ini sebenarnya sudah dari perayaan 17 Agustus tahun lalu. Seperti di foto, pria bernama Saija (48) ini terlihat ‘nyeker’ alias tidak mengenakan alas kaki. Ia datang ke Istana Negara¬† menghadiri upacara hari ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia ke-73 di Istana Merdeka, Jakarta. Untungnya, para penjaga memberikan ia izin mengikuti seremoni prestisius tersebut.

Pria Baduy tanpa alas kaki [sumber gambar]
Di balik peristiwa itu, ternyata Saija bukannya tidak mempunyai sepatu atau sandal untuk digunakan ke acara tahunan tersebut. Usut punya usut, Saija memang berasal dari suku Baduy, di mana di sana tidak boleh mengenakan alas kaki karena melestarikan aturan dari nenek moyang mereka. Hal ini ternyata juga sudah dikonsultasikan dengan pihak istana, dan Saija diizinkan untuk hal tersebut.

Pegiat literasi berjalan kaki dari Wonogiri menuju Jakarta

Tak hanya Medi Bustomi saja yang berencana berjalan hingga Jakarta. Empat pegiat literasi yang berasal dari Wonogiri ini juga melakukan hal yang sama. Hanya saja, mereka berjalan seperti biasanya alias tidak mundur. Keempat orang ini sehari-harinya menjadi pengelola taman baca dan pustaka bergerak. Mereka diperkirakan akan menempuh jarak sepanjang 578 kilometer.

Pegiat Literasi Wonogiri [sumber gambar]
Rute yang diambil adalah jalur utara. Misi lain mereka adalah di setiap 30 kilometer, mereka berhenti di taman baca kota tersebut untuk melakukan kegiatan literasi.”Kegiatan seperti diskusi, mendongeng dan kegiatan literasi lainnya. Jalan kaki kami pilih agar bisa mengetahui langsung kondisi taman bacaan di beberapa kota sekaligus sharing dengan waktu yang lebih longgar,” jelas Wahyudi,dilansir dari laman detik.com.

BACA JUGA: Medi Bustomi, Pria yang Berjalan Mundur Hingga ke Istana Negara untuk Rayakan HUT RI ke 74

Mereka ini adalah orang-orang yang berjalan dan hadir dengan mengemban misi kemanusiaan, bukan hanya untuk mencari viral belaka. Semoga semakin banyak orang yang peduli lingkungan, budaya dan adat, serta literasi seperti yang dilakukan oleh enam orang di atas. Ya, caranya memang banyak, enggak harus jalan kaki atau berjalan mundur ya, Sobat.