Peristiwa ledakan bom bunuh diri yang terjadi di Surabaya sejak tiga hari lalu ditambah beberapa yang ada di kawasan lain membuat Indonesia terguncang. Bahkan sampai hari ini, pemberitaan tentang kematian karena ledakan belum juga berhenti. Segala macam jenis himbauan ini-itu sampai tagar jangan takut teroris, rasanya seolah tetap kalah dengan rasa parno dan shock yang mendera.

Tidak hanya umat Kristen saja yang menjadi korban dalam tragedi ini, Islam pun sama, bahkan mungkin menjadi hari yang cukup berat untuk dilalui. Apalagi setelah pemberitaan tentang pelaku yang notabenenya diketahui muslim. Hal tersebut tambah membuat citra Islam tercoreng, ya walaupun banyak sekali yang berkomentar ‘Terrorist has no religion’.

Tak hanya sebatas masalah agama, terror bom yang masih terus berlanjut ini juga merugikan sebagian profesi, karena kesalahan beberapa orang yang tak bertanggung jawab. Seperti para driver ojol yang harus sepi pelanggan karena terkena dampak hoax terorisme dan ISIS. Lebih lengkapnya, berikut ulasan Boombastis.

Driver ojol yang meracuni makanan konsumen dan dikira anggota ISIS

Ojek online Go-Jek juga mengalami kerugian dari rentetan peristiwa bom ini. Informasi yang semula beredar melalui Whatsapp ini sudah tersebar ke mana-mana. Pesan singkat tersebut berisi pengakuan konsumen yang menyatakan kalau dirinya order makanan yang sudah dibubuhi racun. Hal tersebut terbukti dengan adanya keluarga yang masuk rumah sakit. Tak hanya itu saja, pesan ini juga menyebut bahwa ojol yang menjadi pelaku adalah anggota ISIS yang berstatus mitra baru transportasi online itu.

Berita Hoax [Sumber gambar]
Kejadian ini pun kemudian menciptakan polemik. Para pelanggan akhirnya ketakutan kalau kabar ini benar dan ia jadi korban, para driver pun juga sepi dan malah sempat kehilangan trust dari customer. Peristiwa ini terus menggema di masyarakat sampai akhirnya pihak kepolisian mengatakan ini hanyalah berita hoax belaka. Entah dari mana awalnya, tapi kabar ini seolah sengaja disebarkan agar masyarakat semakin was-was setelah kejadian-kejadian bom itu. Jadi tak perlu khawatir ketika memakai aplikasi ojol tersebut khususnya Gojek yang dalam hal ini jadi korban. Dijamin driver-mu akan tetap orang baik-baik, dan takkan ada setitik racun pun dibubuhkan di order-an makananmu.

Pemilik usaha yang berada di pusat perbelanjaan

Para penjual di pusat perbelanjaan [Sumber gambar]
Setiap kali ada pemberitaan tentang ledakan bom, broadcast yang pertama kali melayang adalah larangan untuk mengunjungi tempat-tempat yang ramai, misalnya saja pusat perbelanjaan, mall, serta pasar. Di satu sisi hal ini bisa diterima karena memang tempat terjadinya terror selalu tempat umum yang padat manusianya. Namun, di sisi lain jelas saja merugikan para penjual yang mencari nafkah dari hasil dagangan mereka. Dengan tak usainya berita tentang bom ini, tak hilang pula gusar para penjual.

Penjaga keamanan atau security

Satpam yang terkena tragedi bom gereja [Sumber gambar]
Berprofesi sebagai satuan pengaman bukanlah hal ditakuti sebelum kejadian bom di gereja Surabaya beberapa waktu lalu. Namun, saat membaca kisah Yesayas (satpam yang berakhir di rumah sakit karena luka-luka) saat terjadinya ledakan di GKI (Gereja Kristen Indonesia) ini kok rasanya menjadi petugas keamanan tiba-tiba terasa menakutkan. Mungkin ada yang sampai berpikiran ‘bagaimana kalau ternyata saya adalah korban selanjutnya, yang bisa saja berakhir seperti para satpam gereja Surabaya?’. Lantas, kalau semua petugas keamanan merasa takut dengan kejadian ini, tugas mereka dibebankan kepada siapa?

Tukang antar paket dan penjual busana muslimah

Tukang antar paket dan pedagang busana [Sumber gambar]
Karena festival kematian yang digelar oleh para teroris beberapa waktu lalu, semua orang merasa parno dan menaruh curiga kepada mereka yang notabenenya berjenggot, memakai cadar, serta memanggul ransel gede. Yah, walaupun tak bisa disangkal jika pelaku pengeboman rata-rata memiliki ciri fisik seperti itu. Tak hanya itu, menerima kiriman dari tukang antar paket pun rasanya deg-degan, jangan-jangan isinya bom juga. Melihat orang yang berjualan busana muslimah, cadar, perasaan negative thinking tiba-tiba saja menghantui ‘jangan-jangan, si ibu ikut aliran ini itu’. Yah, ujung-ujungnya mereka juga ikut dirugikan dan menanggung akibat dari pekerjaan yang sebenarnya tidak mereka lakukan.

Untuk pembaca semuanya, terorisme itu sebenarnya bisa diibaratkan sebuah penyakit. Seperti kutipan ‘teroris mungkin bisa dibunuh dengan senjata, tapi ideologinya mungkin masih terus bercokol di mana-mana’. Di sini, tugas itu menjadi kewajiban kita semua untuk melenyapkan penyakit tersebut agar tidak terus semakin berkembang dan merugikan banyak pihak. Ya, dari kejadian ini mungkin beberapa profesi di atas yang dirugikan. Besok lusa bisa jadi kita semua yang terkena imbasnya, who knows?