Preman juga manusia. Meski punya kekuatan untuk mengintimidasi dan mendapat apa yang ia mau, toh ia bisa merasakan kehampaan. Itulah yang dialami Bagas Suratman, tatkala hidup mabuk-mabukan dan berjudi hanya bisa memberi ketidakpastian.

Titik jenuh itu menyadarkan Bagas hingga membawanya menjadi petani beromset Rp 15 juta sehari seperti saat ini. Sesuatu yang bahkan tidak ada seperempatnya ia dapatkan saat menjalani kehidupan serabutannya dulu. Barangkali, pengalaman mantan porter bandara ini bisa jadi suntikan motivasi buat Sobat Boombastis.

Jalani kehidupan keras melelahkan dan kelam

Masa lalu Bagas Suratman dikisahkannya seolah madesu, alias masa depan suram. Bagaimana tidak? Karena masih belum menemukan jalan yang tepat, ia pernah menjalani beberapa pekerjaan yang nasibnya luntang-lantung. Misalnya porter bandara, lantas kondektur dan berujung jadi preman.

Masa lalu Bagas Suratman kelam sebelum bertani [Sumber Gambar]
Kondisi ini diperparah dengan kebiasaannya yang suka mabuk hingga judi. Pantaslah uang itu tidak pernah beranak pinak, karena ia lebih pilih memutar uangnya untuk bertaruh dengan teman-temannya. Sampai akhirnya pria bertubuh besar ini menyadari ada anak-anak yang mulai tumbuh besar dan masa depan mereka menjadi tanggung jawabnya.

Banting setir, berdamai dengan sayur mayur

Uniknya, Bagas ini sebenarnya adalah keturunan keluarga petani. Hanya saja profesi bertani mungkin masih dilihatnya sebelah mata dan kurang bergengsi. Awalnya ia masih enggan menjalaninya, sehingga memilih jualan sayur mayur saja. “Waktu itu saya tidak mau jadi petani karena gengsi. Menjadi petani itu nggak keren,” ujarnya dilansir dari Kompas.com. Yah, apa yang jelek menurutmu, bisa jadi malah yang terbaik bagimu.

Bagas Suratman sempat gengsi jadi petani [Sumber Gambar]
Pemikiran ini akhirnya tersandung ketika ayah tiga anak ini menyadari harga sayur tak menentu dan cenderung mahal. Suatu hari dalam perjalanan pulang ia melihat orang bekerja di sawah dengan telaten. Jiwa agrikultur Bagas Suratman bergetar, ia mulai bertekad mau menanam sendiri.

Mulai punya lahan sendiri, tapi dihantam banjir

Tahun 2004, Bagas Suratman memberanikan diri beli lahan di dekat Bandara Soekarno Hatta. Bahkan, ia mengelola lahan tersebut dengan mengkaryakan pengangguran yang butuh untuk bekerja, sebagian di antaranya juga preman seperti dirinya. Syarat untuk bisa bekerja di lahan tani Bagas adalah berhenti mabuk dan siap bekerja keras.

Anak buah Bagas Suratman bukan sebagai preman, tapi petani [Sumber Gambar]
Pernah di tahun 2007, saat Bagas dan kawanan mantan preman ini sedang giat-giatnya dan bersemangat menyambut panen, diuji dengan bencana banjir satu hari sebelum mereka siap menuai hasil. Meski sempat gagal, mereka belum ingin menyerah. Yah, namanya hidup pasti ada cobaan.

Lahan membengkak, omset merangkak

12 tahun kemudian, tiba-tiba lahan 3000m2 itu menjadi seluas 26 hektar. Produktivitasnya bisa menghasilkan Rp 15 juta sehari. Sayur mayur dan buah potensial yang ditanam seperti melon, pakcoy, butternut, cabai, aneka bayam dan masih banyak lagi. Yang lebih berfaedah lagi, kini beberapa pekerja Bagas Suratman sudah banyak yang jadi petani sukses baru.

 

Kisah Bagas Suratman sampai dibahas di Hitam Putih [Sumber Gambar]
Padahal, tadinya ia hanya bermaksud fokus bertani. Tapi, kesungguhan membawanya pada rezeki dan pembuka jalan bagi orang lain. Siapa sih yang menyangka hal sebesar dan sebaik ini bisa datang dari seorang preman yang serabutan dan luntang-lantung?

Itulah, Sobat Boombastis. Awalnya mungkin kita tersesat sejenak, lantas menemukan jalan yang semestinya. Asalkan dimulai dengan niat yang baik, tak terasa dua tiga permasalahan, kebutuhan dan kebaikan malah bisa diselesaikan sekaligus.