Dalam beberapa bulan terakhir, sosial media masih meributkan soal Ahok yang merupakan etnis Tionghoa dan non-muslim tapi tetap ingin memimpin Jakarta. Lalu yang paling gres adalah perihal jilbab atau hijab dari Cut Meutia dalam pecahan kertas terbaru terbitan BI dan masalah pekerja Tiongkok yang diisukan berjumlah jutaan orang dan siap menguasai negeri ini.

Pada artikel ini kita tidak akan membahas pekerja yang berasal dari Tiongkok atau mungkin kasus Ahok yang entah bagaimana rimbanya. Pada artikel ini kita akan membahas perjuangan dari etnis Tionghoa yang dahulu pernah dengan gagah berani melawan VOC di Lasem dalam Geel Oorlong atau Perang Kuning. Berikut kisah heroik dari pejuang etnis Tionghoa di Lasem, Jawa Tengah.

Pemicu Hadirnya Perang Kuning

Salah satu pemicu munculnya Perang Kuning atau Geel Oorlong adalah rusaknya perekonomian VOC di Batavia. Harga komoditas seperti gula akhirnya anjlok dengan parah dan menyebabkan banyak pabrik menjadi tutup dan terpaksa memecat banyak sekali pekerja yang berasal dari bumiputra dan juga etnis Tionghoa yang datang jauh-jauh dari negerinya.

Pembantaian etnis Tionghoa [image source]
Hancurnya perekonomian di Batavia terjadi akibat maraknya korupsi di lingkungan VOC. Banyak pekerja dan pejabat melakukan manipulasi datang sehingga keuangan dari VOC semakin anjlok dan mau tidak mau harus mencari pemasukan baru lagi degan memanfaatkan etnis Tionghoa sebagai sapi perah.

Kala itu, etnis Tionghoa yang ada di Batavia akan diminta membayar pajak yang tinggi. Dengan alasan yang mengada-ada, mereka dipaksa membayar atau diancam akan dibuang ke Srilanka atau dibuang begitu saja ke laut. Desas-desus ini tentu membuat banyak warga Tionghoa tidak tahan dan akhirnya melakukan pemberontakan.

Migrasi Etnis Tionghoa ke Lasem dan Sekitarnya

Pemberontakan yang dilakukan oleh etnis Tionghoa ternyata berakhir dengan kekalahan. Kekuatan Belanda terlalu besar hingga ribuan penduduk dari Tiongkok itu dibunuh dengan tanpa ampun sehingga memunculkan adanya Geger Pacinan pada tahun 1740. Akibat tragedi ini, ribuan etnis Tionghoa yang masih tersisa di Batavia hijrah ke Lasem untuk menyelamatkan diri.

Migrasi Etnis Tionghoa ke Lasem [image source]
Di Lasem mereka disambut dengan baik karena bumiputra tidak pernah terlibat peperangan dengan etnis Tionghoa. Bahkan, mereka memiliki kebencian yang sama yaitu VOC yang berusaha mengeruk apa saja yang ada dari negeri hingga habis dan tidak meninggal apa-apa selain kengerian dan penindasan.

Pecahnya Perang Kuning yang Mematikan

Sejak pembantaian etnis Tionghoa yang dilakukan VOC di Batavia merebak, etnis Tionghoa di berbagai daerah terutama di kawasan Jawa Tengah gerah. Mereka yang sudah tidak tahan dengan perlakukan dari Belanda yang menjadikan raja Jawa sebagai boneka untuk semua aksinya. Akhirnya rencana penyerangan dan pengepungan kawasan yang dikuasai oleh Belanda dilakukan.

Raden Panji Margono di Kelenteng Lasem [image source]
Ribuan pasukan Tionghoa dan bumiputra berkumpul untuk membicarakan pengepungan dan peperangan. Dalam perang yang terjadi selama 10 tahun ini dua komandan dari etnis Tionghoa berjuang mati-matian dengan komandan wakil bumiputra dan santri. Komandan dalam perang ini adalah Tan Kee Wiw, Oei Ing Kiat, Raden Panji Margono, dan Kiai Ali Badawi. Keempat pejuang ini berjuang memimpin pejuang yang tidak ingin terus dijajah oleh Belanda.

Kemenangan VOC dan Meredanya Pemberontakan

Perang Kuning yang berakhir sengit dan korban berjatuhan dari kedua belah pihak dimenangkan oleh Belanda. Dengan kekuatannya, kompeni mampu memukul mundur etnis Tionghoa dan juga warga bumiputra. Belanda akhirnya mampu menguasai kawasan utara Jawa kembali dan melakukan monopoli perdagangan di sana.

Kemenangan VOC dan Meredanya Pemberontakan [image source]
Meski peperangan dimenangkan oleh Belanda dengan telak, pemberontakan ini menjadi bukti perjuangan yang hebat. Di masa lalu, warga etnis Tionghoa dan bumiputra Jawa serta santri bisa bergabung menjadi satu. Mereka tidak melihat agama dan ras dalam berjuang. Asal untuk kepentingan bersama, nyawa akan dikorbankan. Demi Nusantara, mereka rela berhadapan dengan senjata Belanda yang mampu menembus badan mereka hingga tidak bernyawa.

Inilah kisah perjuangan dari etnis Tionghoa dan bumiputra yang terjadi ratusan tahun yang lalu. Jika sejak beberapa abad silam, semua orang bisa bersatu-padu dalam memberantas penjajah mengapa saat ini sudah sekali bersatu untuk kemajuan negeri?