Berbisnis di dunia perkopian nampaknya sedang menjadi tren tersendiri sekarang. Setiap kota atau daerah memiliki puluhan kafe-kafe instagramable dan unik yang pamornya tak kalah dengan warung kopi kebanyakan. Uniknya, kedai-kedai kopi kekinian ini tak pernah sepi pelanggan karena memang generasi millennial gemarnya nongkrong sambil menyeruput kopi.

Dari semua kedai kopi unik, Boombastis.com akan mengulas salah satu tempat yang mungkin memiliki konsep satu-satunya di Indonesia. Namanya Kopi Tuli (Koptul) yang berlokasi di Depok. Yap, sesuai namanya, kedai ini didirikan oleh tiga orang disabilitas tuli. Latar belakang berdirinya pun sangat bisa dijadikan pelajaran dan inspirasi, simak ulasan dari hasil wawancara kami di bawah ini ya!

Membuka Kopi Tuli karena ratusan kali ditolak saat melamar kerja

Kopi Tuli ini didirikan oleh tiga orang sahabat disabilitas tuli, yaitu Erwin, Adhika, dan Putri. Berdiri pada 12 Mei 2018, tempat ngopi yang biasa disebut KopTul ini hadir karena pengalaman pahit ketiganya dalam memasuki dunia kerja. Tidak bisa mendengar ternyata dianggap sebagai kekurangan oleh para HRD. Kepada tim Boombastis.com, baik Putri maupun Erwin menceritakan jika mereka pernah memasukkan 200-500 surat lamaran kerja ke berbagai perusahaan, tetapi hasilnya semua ditolak.

Begitu pula dengan Adhika, meskipun berhasil mendapatkan pekerjaan, dirinya sering mendapat perlakuan kurang baik di kantor. Berawal dari kekecewaan tersebut ketiganya kemudia membuat terobosan membangun bisnis bersama –yang ketika itu diputuskan adalah bisnis kopi, karena salah satu dari mereka, Erwin, suka minum kopi. Ide ini kemudian disetujui oleh Putri dan Adhika.

Sepak terjang membangun bisnis dari nol

Dalam berbisnis, hobi saja rasanya tidak cukup untuk membuat produk laku di pasaran. Harus ada skill, biaya, serta tempat untuk memastikan bisnis tersebut berjalan lancar.  Kesulitan ini juga dialami oleh ketiganya. Demi mewujudkan impian bersama, Erwin harus meminjam salah satu Gedung milik pamannya yang berlokasi di Jl. Krukut Raya No.70, Limo.

Para owner Kopi Tuli [Sumber gambar]
Beruntung, mereka diberikan izin selama tiga bulan. Selanjutnya, mereka belajar bagaimana caranya meracik kopi yang enak. Dalam hal ini, baik Erwin, Adhika, serta Putri harus kursus di salah satu lembaga selama 3 bulan full. Gagal, bangkit lagi, jatuh, berdiri lagi, hingga mereka menemukan rasa yang pas di lidah dan layak dijual untuk para konsumen.

Susahnya berkomunikasi dengan teman dengar ketika awal berdirinya KopTul

Selasai satu masalah, kesulitan lain datang lagi. Setelah KopTul berdiri, ketiganya mengalami kendala dalam berkomunikasi, terutama untuk teman dengar. ”Kami putuskan sodorkan kertas untuk menulis menunya,” begitu ujar Adhika. Namun karena dinilai tidak efektif dan membuat bingung, mereka sepakat untuk memasang tabel menu dengan ukuran besar sehingga pelanggan bisa langsung menunjuk saja.

Susahnya berkomunikasi pada awal KopTul berdiri [Sumber gambar]
Selain itu, setiap menu terdapat simbol bahasa isyarat yang ditandai dengan A,B, serta C (karena hanya ada tiga menu kopi). Untuk yang tidak mengerti bahasa isyarat, pelanggan bisa menggunakan bahasa vocal. Tidak hanya itu, di gelas kopi juga terdapat alfabet bahasa isyarat, sehingga pelanggan bisa ngopi sekaligus belajar bahasa isyarat.

Memberdayakan teman-teman tuli melalui industri bisnis kopi

Hadirnya KopTul bukan semata-mata sebagai ‘balas dendam’ kepada ratusan perusahaan yang sudah menolak mereka saja. Erwin, Adhika serta Putri mengatakan bahwa KopTul adalah salah satu dari banyak jalan untuk memberdayakan teman-teman disabilitas dengar (tuli). Di KopTul sendiri semua karyawannya adalah orang tuli.

Memberdayakan teman tuli [Sumber gambar]
Sesuai dengan visi mereka, ke depan KopTul akan menjadikan kaum tuli sebagai produsen kopi menjangkau pasar nasional maupun internasional. Ya, dengan kata lain, di sini kepercayaan diri mereka dimunculkan. Mereka ditempa bahwa kekurangan itu bisa disulap menjadi kelebihan. Sehingga ke depannya, orang tuli tidak lagi dipandang dengan sebelah mata.

Harapan untuk kopi tuli di masa mendatang

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, bahwa tujuan adanya KopTul adalah memberdayakan teman tuli agar tidak minder dan selalu dipandang sebelah mata. Ternyata tidak hanya itu harapan para owner-nya untuk kopi tuli, ke depannya mereka ingin kopi tuli ada di setiap daerah di Indonesia. Dengan adanya KopTul, setiap orang juga bisa lebih mengenal Bisindo (bahasa isyarat Indonesia) demi kelancaran komunikasi dengan orang tuli.

Belajar bahasa insyarat Bisindo [Sumber gambar]
Sekarang, Erwin, Adhika dan Putri sudah memiliki satu cabang KopTul baru yang ada di Kawasan Duren Tiga (Kindo Square A9). Di sini, pelanggan tidak hanya bisa nongkrong tetapi juga belajar dan berdiskusi dengan teman tuli. Erwin sendiri menjadi salah satu guru di sana karena sudah memiliki sertifikat layak mengajar Bisindo.

BACA JUGA: Bayar Seikhlasnya Sampai Pakai Bahasa Isyarat, 4 Kedai Kopi Ini Unik dan Hanya di Indonesia

Saat tim Boombastis.com menanyakan tentang tanggapan orang-orang tentang KopTul, mereka mengatakan semua memberikan dukungan positif. Bahkan beberapa kali, tim KopTul sudah diundang ke acara talkshow di televisi Indonesia. Nah, kalau kamu mau tau banyak tentang KopTul bisa berkunjung ke laman instagramnya langsung di @koptul.id, atau bisa samperin di alamatnya langsung, harganya dijamin bersahabat, hanya 10-20k per gelasnya. Plus, sudah bisa belajar Bisindo loh~