Belum lama ini, nama Livi Zheng sempat menghebohkan jagad perfilman Indonesia. Livi sendiri adalah seorang sutradara tanah air yang sudah lama menetap di Amerika Serikat. Ia menuai banyak kritik dan kontroversi karena menyebut bahwa bebepa filmnya masuk dalam seleksi nominasi ajang penghargaan paling bergengsi di dunia, Academy Award atau lebih kita kenal dengan Piala Oscar.

Klaim tersebut membuat banyak orang ingin tau dan kepo, seberapa bagus sih film yang dibuat oleh Livi ini? Sedangkan, namanya saja sebagai sutradara mungkin tak banyak diketahui, filmnya juga tak banyak ditonton. Lalu, siapakah dia? Yuk, baca kisah tentang perjalanan karier Livi Zheng dalam bahasan Boombastis.com kali ini.

Berkuliah di bidang Cinematic Arts di California

Sebelum membahas mengenai pendidikan Livi, mari kita ungkap dulu siapakah sineas muda yang menuai banyak kontroversi ini. Bernama lengkap Livia Notoharjono, ia lahir di Blitar, Jawa Timur, pada 3 April 1989. Selanjutnya, Livi diboyong pindah ke Jakarta saat berusia 4 tahun. Kemudian saat umurnya 15 tahun, Livi pindah ke Beijing. Pada 2007, setelah Livi lulus dari SMA pada umur 18, ia pindah ke Amerika Serikat, seperti yang dimuat dalam Fimela.com.

Livi Zheng [sumber gambar]

menetap di Amerika Serikat, Livi kemudian S1 jurusan Ekonomi di Universitas Washington. Sambil menempuh pendidikan sebagai mahasiswa, ia juga menekuni beladiri karate. Dari karate ini, ia menjadi wakil dari Washington dan berhasil memboyong setidaknya 25 penghargaan. Lulus S1, Livi meneruskan kuliah bidang perfilman di  Universitas California Selatan. Kampus ini sudah terkenal mencetak sineas ternama seperti George Lucas, sutradara Star Wars lalu Brian Grazer produser A Beautiful Mind, Robert Zemeckis yang bikin Forest Gump.

Difasilitasi rumah produksi sebagai hadiah debut untuk Livi

Berdasarkan ulasan dari geotimes.co.id, Lizi Zheng sudah memulai debutnya di dunia perfilman sejak usianya 15 tahun. Kala itu, ia berperan sebagai stuntwoman dalam series Laksamana Cheng Ho, yang tayang pada 2008. Series ini cukup panjang dan mempunyai 30 episode. Sedangkan karier sebagai sutradara sendiri ia mulai pada tahun 2012. Melansir Tirto.id, Livi Zheng bertindak sebagai sutradara, pemeran utama, sekaligus penulis naskah film Brush with Danger –di mana adik kandungnya juga bermain di sana.

Film Bali Beats of Paradise [sumber gambar]

Di usia 25 tahun tersebutlah, ibunya memfasilitasi Livi dengan mendirikan sebuah rumah produksi bernama Sun and Moon Films Limited Liability Company (LLC). Perusahaan yang bergerak di bidang seni, hiburan, serta rekreasi inilah yang kemudian menjadi tempat Livi mempromosikan karya dan membesar-besarkan namanya.

Segala macam kegiatan Livi yang masuk dalam media mainstream tanah air

Nama Livi Zheng memang tak dikenal di kalangan sineas Indonesia. Namun, ia sudah wira-wiri di berbagai kanal berita nasional tanah air, sebut saja Kompas, Jawa Pos, Tempo, bahkan The Jakarta Post juga punya banyak sekali arsip berita mengenai Livi. Tak hanya itu, Livi juga dekat dengan sejumlah pemangku kekuasaan di tanah air.

Livi kerap jadi pembicara [sumber gambar]

Terbukti dalam filmnya Bali: Beats of Pradise, ada testimoni dan dukungan dari Wapres Jusuf Kalla, Tito Karnavian, serta Luhut Pandjaitan sebagai Menko Kemaritiman Indonesia. Pernak-pernik lain seperti Livi ulang tahun, makan nasi kuning, berlatih poco-poco bahkan mencari judul saja masuk dan diliput oleh media. Singkatnya, Livi seolah diagungkan dan disebut telah membanggakan tanah air, padahal film-nya juga tidak terkenal-terkenal banget. Bahkan, mungkin kalau berita tentang dirinya tidak viral, banyak orang tak tau siapa itu Livi Zheng dan apa karya yang sudah ia buat.

Klaim filmnya yang masuk dalam seleksi nominasi Oscar

Nah, karena dirinya yang viral tersebut, Livi akhirnya mendapat undangan untuk menghadiri acara talkshow Belaga Hollywood yang dipandu oleh Andini Effendi. Dalam talkshow ini juga dihadirkan beberapa sineas dan para pakar perfilman senior dan berbakat yang sudah meraih penghargaan level Internasional. Ada Joko Anwar, John De Rantau, Andibachtiar Yusuf, Adrian Jonathan Pasaribu, Nadine Alexandra, serta Maman Suherman.

Mereka menanyakan tentang kebenaran klaim Livi yang sempat viral. Yap, Livi mengaku bahwa dua karyanya Brush with Danger dan Bali: Beats of Paradise masuk dalam seleksi nominasi Oscar untuk kategori Best Picture –Livi membawa salinan website Oscar sebagai bukti. Ia mengatakan bahwa film-filmnya tersebut sudah tayang di bioskop Hollywood dan masuk ajang penghargaan paling bergengsi.

Review buruk dan kritik dari para pakar film

Dalam Q&A Belaga Hollywood ini, 5 panelis lain menyebut bahwa Livi tampaknya tidak mengerti dengan konsep penghargaan Oscar itu sendiri. Joko Anwar yang sudah sangat geram mengatakan bahwa dalam Oscar sebenarnya tak ada seleksi nominasi. Film seburuk apapun sebenarnya bisa masuk dan mendaftar, asalkan memenuhi persyaratan administrasi. Dua film Livi sendiri mendapat review buruk dari kritikus film Amerika, serta Imdb dan Rotten Tomatoes (web reviewer).

Simon Abrams salah satunya, kritikus film untuk The New Yorker dan Esquire ini mengatakan kalau Brush with Danger adalah film rasis, membingungkan, dan seluruh koreografinya buruk. Sementara itu, review untuk Brush with Danger dari IMBd hanya rating 4.5 dari 10. Sedangkan Rotten Tomatoes, Brush With Danger hanya mendapatkan nilai 20 persen di Tomatometer yang berarti termasuk buruk. Untuk Bali: Beats of Paradise, tak kalah buruk, laman IMDb hanya memberi rating 3.0 dari 10.

BACA JUGA: Sepak Terjang Sosok Penting yang Membuat Daur Ulang “Pengabdi Setan” Lebih Menegangkan daripada Anabelle Creation

Seperti yang disampaikan Nadine Alexandra di hadapan Livi Zheng, bahwa ada gap pemahaman mengenai pencapaian sutradara perempuan tersebut. Apa yg dimaksud Livi sebagai prestasi, ternyata dalam dunia perfilman dianggap sebagai teknis yang umum. Semoga gembar-gembor yang terjadi padanya sekarang bisa jadi awal munculnya seorang sutradara keren Indonesia di masa depan.