Sungguh miris nian nasib kakek Tajuddin. Ibarat sudah terjatuh, masih tertimpa tangga pula. Kisah dirinya yang sempat viral karena menikahi gadis jelita tersebut, semakin menggemparkan netizen dengan jumlah mas kawin yang diberikan. Tak tanggung-tanggung, si kakek yang merupakan mantan Wakil Walikota Parepare, menghadiahkan mahar sebesar Rp 1 miliar demi mendapatkan cinta sang daun muda tersebut.

Sayangnya, pernikahan yang berusia seumur jagung tersebut, harus kandas di tengah jalan. Momen sakral yang harusnya membawa keberkahan dan kebaikan, malah berubah menjadi nestapa, terutama bagi si kakek. Bagi kalian yang masih jomblo dan ngebet ingin menikah, kisah di bawah ini bisa pelajaran yang ampuh untuk disimak agar tak terperosok ke lubang yang sama.

Mahar pernikahan semampunya dan pantas. Paling penting khan sah!

Yang penting khan sah mblo! [sumber gambar]
Melaksanakan acara pernikahan dengan pesta besar-besaran, sebenarnya sah-sah saja. Yang utama, momen sakral tersebut bisa menyatukan kedua pasangan dalam ikatan suci yang sah. Untuk masalah biaya, usahakan agar dianggarkan secukupnya sesuai kesepakatan kedua belah pihak. Karena yang terpenting adalah, bagaimana agar pernikahan tidak memberatkan keluarga dan calon mempelai. Jadi, enggak perlu keluar duit Rp 1,4 Miliar kayak kakek Tajuddin ya Saboom.

Kenali bibit bebet dan bobot pasangan

Kenali pasangaan sebelum terlambat [sumber gambar]
Sekali-kali kepo terhadap pasangan, sebenarnya sah-sah saja kok, asal dengan cara yang santun. Hal ini perlu dilakukan, agar tidak terjadi kesalahpahaman di kemudian hari. Jangan hanya ngebet ingin menikah karena faktor ganteng atau cantik, keturunan dan hartanya, namun lihat juga sisi yang lain. Komunikasikan dengan cara yang terbaik agar masing-masing mau menerima kekurangan dan kelebihan yang ada. Jangan mentang-mentang daun muda, terus main serobot aja.

Catat baik-baik, restu Orang Tua itu penting!

Ilustrasi restu Orang Tua [sumber gambar]
Dalam sebuah pernikahan, hal yang paling penting adalah mendapatkan restu Orang Tua dari kedua mempelai. Enggak lucu khan kalo acara pernikahan berantakan gara-gara salah satu pihak menolak. Atau bisa juga meminta saran bagi mereka yang dituakan di antara keluarga. Meski banyak bernuansa mitos, nasihat Orang Tua justru ikut mempengaruhi kelancaran jalannya proses pernikahan. Intinya, minta nasihat terbaik dan jangan melawan Orang Tua, dijamin aman sentosa.

Kenali keluarga dan saudaranya dengan baik

Kenali keluarga agar tak menyesal di belakang [sumber gambar]
Restu orang tua sudah, biaya nikah siap. Ibarat mobil, tinggal menghidupkan mesin dan dijalankan. Terdengar mudah memang. Namun ada satu hal yang pantang terlewatkan, yaitu mengenali saudara-saudaranya yang lain. Bukan apa-apa, setelah berkeluarga kita tentu akan masuk dalam lingkaran yang sebelumnya bukan siapa-siapa. Jangan sampai di kemudian hari, justru terjadi konflik hanya karena kita maupun pasangan merasa tidak cocok dengan keluarga masing-masing. Hal ini nyata sering terjadi di mana-mana. Jadi hati-hati ya Saboom.

Cari pasangan yang jarak umurnya tidak terlalu jauh

Umurnya cari yang pas di hati ya mblo! [sumber gambar]
Sebenarnya pilihan ini tergantung dari pribadi masing-masing. Karena ada ungkapan, cinta tak mengenal usia, maka sah-sah saja untuk memilih. Hanya saja, usahakan agar usianya tak terpaut jauh dengan diri kita. Selain faktor kedewasaan, pertimbangan kebosanan dalam sebuah perkawinan karena faktor usia, juga harus dicermati. Berkaca dari pernikahan kakek Tajuddin yang terpaut usia 45 tahun dengan sang istri, akhirnya terpaksa kandas karena salah satu pihak diisukan selingkuh. Jadi, pilihan ada di tangan kalian masing-masing. Semangat!

Kisah pernikahan kakek Tajuddin yang hanya seumur jagung, menjadi pelajaran bagi kita semua. Peristiwa unik sekaligus tragis tersebut, seakan menyadarkan kita bahwa jabatan, ketenaran dan harta, tak bisa menjadi jaminan kebahagiaan dalam hidup, terlebih sebuah pernikahan.