Konflik bersenjata yang terjadi di Suriah hingga saat ini, telah banyak memakan korban yang kian hari semakin bertambah jumlahnya. Tidak ada angka pasti dari mereka yang meregang nyawa dari kecamuk peperangan tersebut. Sumber dari bbc.com menuliskan, Syrian Center for Policy Research memperkirakan sekitar 470.000 orang meninggal. Sementara PBB, mencatat korban yang tewas berjumlah 400.000. Sangat miris ya Sahabat Boombastis.

Tentu saja, kita sebagai warga negara kesatuan Republik Indonesia wajib membantu mereka. Baik dalam hal tenaga kesehatan, layanan pangan dan lainnya. Selain itu, ideologi Pancasila yang telah menjadi dasar negara, juga harus dijaga. Terutama dari pemahaman radikal dan sejumlah kisruh di Suriah yang berusaha di bawa ke Indonesia untuk menciptakan chaos di tengah-tengah masyarakat. Seperti apa bentuknya?

Isu panas politik yang dibungkus dengan nama agama

Ilustrasi demo di masyarakat [sumber gambar]
Menjelang tahun politik pada 2019 mendatang, masyarakat Indonesia sering terpapar oleh adanya berita dan isu-isu menjurus hoax yang kerap hilir mudik di media sosial. Oleh beberapa pihak yang tidak bertanggung jawab, hal tersebut bahkan dikait-kaitkan dengan sebuah ormas yang mengusung agama tertentu di dalamnya. Tentu saja, hal ini bisa menimbulkan polemik sekaligus rawan terjadinya gesekan di tengah-tengah masyarakat Indonesia yang dikenal beragam dan majemuk.

Membenturkan kepercayaan yang ada di tengah-tengah masyarakat

Ilustrasi sedekah laut yang dulu propertinya sempat dirusak [sumber gambar]
Isu lainnya yang tak kalah penting adalah, pembenturan keyakinan agama antara satu dengan yang lainnya. Berkaca dari kondisi Suriah seperti yang dituliskan oleh bbc. com, unsur sektarian menjadi salah satu pemicu konflik yang berkepanjangan. Tentu saja, hal ini tidak boleh terjadi di Indonesia. Negara kepulauan yang terdiri dari banyak suku dan keberagaman kepercayaan ini. Alangkah baiknya jika kita saling nasehat menasehati dan mengedepankan dialog secara sehat, manakala ada ketidakcocokan antara satu dan lainnya. Bukan dengan mengobarkan kebencian yang membabi buta yang berujung tindakan pengerusakan.

Waspadai pengaruh pihak luar yang bisa menjadi bibit konflik

Propaganda ISIS yang sempat meracuni pikiran masyarakat Indonesia [sumber gambar]
Berdasarkan penuturan WNI yang sempat menjadi bagian dari ISIS, semua propaganda yang dilancarkan kelompok tersebut hanyalah kepalsuan belaka. Dilansir dari bbc.com, hal ini terbongkar kala mereka yang sempat ‘silau’ oleh ideologi kelompok teroris tersebut, pulang ke Indonesia. Sejatinya, bibit-bibit radikalisme macam ISIS di Timur Tengah merupakan ideologi yang salah dalam memahami ajaran Islam secara utuh. Hal ini inilah yang harus menjadi perhatian bagi pemerintah agar mengawasi masyarakatnya. Terutama hasutan-hasutan berbau propaganda yang menyerukan peperangan terhadap sesama umat dan penganut agama lainnya.

Hasutan radikalisme untuk memberontak pada pemerintahan yang sah

Persatuan di masyarakat menjadi salah satu kunci untuk menangkal radikalisme [sumber gambar]
Sudah takdirnya, bahwa mereka yang telah termakan propaganda semu macam ISIS, berusaha menebar benih-benih teror di Indonesia. Hal ini terkait Indonesia merupakan negara muslim terbesar di Indonesia selain negara-negara yang berada di Timur Tengah. Para ideolog ulung ini, kerap beretorika seakan-akan menyiratkan agar masyarakat peduli dengan perjuangan para mujahidin di Indonesia. Padahal, tujuan utama mereka adalah mencuci otak orang awam agar ikut memberontak pemerintahan yang sah di Indonesia. Sama seperti yang terjadi di Suriah, para simpatisan ini berusaha mengimpor konflik yang ada dengan menanamkan pemahaman yang radikal.

Kondisi masyarakat yang menjadi bahan propaganda

Kemiskinan bisa menjadi propaganda empuk untuk menggerakkan masyarakat [sumber gambar]
Sebelum Suriah dilanda konflik bersenjata, banyak warganya yang mengeluh tentang tingginya angka pengangguran, korupsi di kalangan pegawai negeri dan tak adanya kebebasan politik. Hal ini pun serupa dengan yang dialami oleh Indonesia. Dikhawatirkan, kondisi semacam ini bisa ditunggangi oleh kelompok tertentu untuk melancarkan misi terselubungnya. Dengan menyiarkan propaganda yang bermuatan narasi penderitaan rakyat, ketidakmampuan pemimpin dalam mengelola negara, korupsi dan sebagainya, bisa memicu konflik yang berpotensi memecah belah kerukunan di antara masyarakat.

Sejatinya, peperangan tak akan membawa hasil bagi kedua pihak yang bertikai. Terlebih jika motivasinya hanyalah berupa ambisi politis dan sejumlah kekayaan materi. Alhasil, masyarakat awam yang bakal menjadi korban sesungguhnya. Ibarat pepatah, “Menang jadi arang, kalah jadi abu”. Tentu saja, kita harus menjaga iklim kondusif di Indonesia agar tak berubah menjadi ladang perang Suriah ke-2. Gimana menurutmu Sahabat Boombastis?