in

Penting Banget! Inilah 5 Pelajaran Mahal Supaya Enggak Malu-maluin di Sosial Media

Pasti kalian akhir-akhir ini kupingnya panas gara-gara kabar tentang Syahrini yang lagi-lagi berulah. Awalnya artis Ibukota satu ini berfoto di jalan tol yang jelas-jelas ada larangan untuk tidak mengambil gambar. Tapi, ada satu lagi yang bikin ramai dan membuat para netizen bersemangat mem-bully princess ini. Ia berfoto di sebuah monumen bersejarah yang katanya sudah terpampang jelas kalau tempat sakral tersebut enggak boleh untuk dipublikasikan.

Namun, hal serupa juga dialami oleh beberapa aktris lain. Salah satunya host Katakan Putus yaitu Komo Ricky yang dulu pernah menginjak dinding keraton Yogyakarta. Tidak jauh berbeda dari Syahrini, ia mendapat serangan bebas dari para netizen julita jaya. Tahu akan kesalahannya, akhirnya orang yang suka bilang ‘Hey, whats up yo’ tersebut minta maaf ke semua orang di Indonesia. Yah, bisa kita lihat kalau kelakuan keduanya itu menunjukkan jika mereka masih kurang sadar untuk menaati peraturan. Jadi, supaya kita tidak terperosok ke lubang yang sama, ada beberapa tips nih untuk menjadi pengguna sosial media cerdas dan dijamin tidak mengundang warganet berkomentar pedas.

Di mana kaki berpijak, di situ langit dijunjung

Bukan hal yang lumrah lagi kalau setiap tempat pasti punya aturan masing-masing. Contohnya saja rumah kita sendiri. Ada aturan yang dibuat dan tidak boleh dilanggar oleh kita si pemilik rumah. Tapi, peraturan juga berlaku untuk orang yang sedang berkunjung ke rumah kita. Istilahnya di mana kaki berpijak, di situ langit dijunjung yang artinya taati aturan di tempat kamu berada sekarang. Kalau dia tidak mau mematuhinya, ya usir cantik saja.

Memperhatikan aturan [Sumber Gambar]
Sama halnya dengan kasus yang menimpa artis asal Bandung tersebut. Ia juga bertindak sebagai tamu di negara orang. Ya, seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya kalau bertamu di tempat orang harus lebih sadar dengan adanya aturan. Bukan hanya kesadaran, tapi juga harus lebih peka lagi. Sebab, peraturan dibuat karena ada alasan tertentu yang misalnya adalah untuk menghormati para pendahulu. Bayangkan saja, bagaimana rasanya kalau kita berfoto di tempat pembantaian namun dengan pose yang sama sekali tidak menunjukkan rasa empati. Risikonya ya harus menerima hujatan sana sini.

Sadar dengan etika posting

Punya foto atau video bagus memang jadi kebanggaan tersendiri bagi setiap orang. Apalagi kalau foto atau video tersebut diambil pada waktu kalian sedang berlibur ke tempat yang jarang dikunjungi atau lagi tren saat ini. Rasa ingin memposting semakin tinggi dan tidak sabar bakal dapat pujian dari para followers. Tak peduli itu pantas dilihat orang, yang penting foto atau videonya bisa viral di sosial media.

Paham etika upload di instagram [Sumber Gambar]
Alih-alih dapat pujian, malah cemoohan yang diterima. Foto atau video yang kalian posting mengundang kontroversi dan membuat orang-orang terus berkata kasar. Bukannya jadi bangga, malah rasanya ingin lari dari kenyataan. Pada akhirnya, foto kebanggaan harus dihapus walaupun itu berat sebesar rindu yang dikatakan Dilan. Pasti tidak mau kan hal ini terjadi di kehidupanmu? Ya, mulai sekarang kita harus bisa memilih mana yang pantas atau tidak untuk diposting. Lebih tepatnya harus menahan diri ketika ingin memposting sebuah foto atau video. Sebab, walaupun kita meng-upload hal yang tidak menyinggung siapapun, pasti ada saja orang rumpi dan selalu siap untuk memberikan serangan komentar setajam silet.

Ocehan netizen lebih kejam dari emak-emak yang kehilangan tupperware

Kemudahan bersosial media kerap kali membuat orang enggak berpikir panjang untuk berbuat sesuatu. Contohnya aja berkomentar di postingan orang. Cukup ketik komentar dan tekan enter, tulisan tersebut sudah muncul di foto atau video orang yang dimaksud. Tak peduli dengan yang ditulisnya, yang penting segala perasaannya sudah tercurah di komentar.

Komentar pedas netizen [Sumber Gambar]
Hal itulah yang biasanya bikin perpecahan antara artis dengan netizen. Mulai dari ocehan menyudutkan hingga menjatuhkan mental. Contohnya ya dari postingan Syahrini, bisa dilihat kelakuan-kelakuan warganet yang hampir semuanya menghujat. Jika itu terjadi pada kalian, bisa dibayangkan lah bagaimana sedihnya dan menderitanya kita. Bisa-bisa kita stres menghadapi cemoohan yang tidak ada habisnya. Kalau pukulan sih rasa sakitnya bisa hilang, tapi jika berupa omongan pasti selalu membekas di hati sampai berapapun lamanya.

Pintar-pintarlah dalam menggunakan sosial media

Pintar bersosial media, bukan berarti kita harus membuat postingan dengan caption-caption yang formal. Maksudnya adalah tahu mana yang baik atau buruk untuk diposting. Harus pikirkan juga dampak ke orang lain seperti apa. Ya, walaupun itu adalah sosial media punya kita, tapi yang melihat postingan kan orang lain juga.

Bijak menggunakan sosial media [Sumber Gambar]
Di sosial media, kita juga wajib untuk memikirkan orang lain. Meskipun itu rasanya tidak adil, namun hal tersebut memang harus dilakukan. Sebab, supaya kita tidak jadi sasaran para warganet rumpita. Lebih baik dapat like sedikit daripada viral tapi isinya hujatan dari netizen semua.

Untuk netizen: Harap bersabar, ini ujian

KIta sebagai warganet juga harus bijak nih untuk memberikan komentar pada postingan orang lain. Jangan mentang-mentang banyak orang yang sedang menghujat postingan viral, kita jadi ikut-ikutan untuk memberikan komentar pedas. Kalau kita melakukan itu, apa bedanya diri sendiri dengan orang lain yang mencaci?

Jangan keluarkan komenar negatif [Sumber Gambar]
Jadi, yang perlu diingat adalah kita enggak perlu ikut-ikutan untuk mencerca postingan viral tersebut. Bukan hanya postingan viral, tapi juga kiriman yang dibuat oleh teman kita sendiri. Jika foto atau video yang dibagikan membuat kita gerah, ya cukup diam saja. Anggap aja postingan tersebut adalah ujian untuk menahan kita dari yang namanya berkomentar. Cukup diam dan tidak perlu mengeluarkan kata kasar.

Peristiwa yang dialami oleh Syahrini membuat kita belajar banyak hal. Pertama adalah harus sadar kalau di manapun ada peraturan yang wajib sekali untuk ditaati. Jangan coba untuk melanggar karena pasti ada hukuman yang siap menunggu. Aturan dibuat untuk ditaati, bukan malah dilanggar seenak jidat. Lalu, hal kedua adalah harus bisa bedakan nih mana postingan yang pantas dan tidak untuk dipublikasikan. Kalau tetap memikirkan diri sendiri, ya siap-siap aja deh dihujani dengan ocehan netizen.

Written by Firdha

Firdha Rahma, dilahirkan di Kota Malang tanggal 5 Agustus 1994. Ia tergabung di Boombastis.com sejak bulan Desember 2017. Perempuan bermata sipit ini suka sekali warna merah dan hewan yang bernama kucing. Dia mempunyai hobi menonton film segala genre, menulis dan baca-baca artikel tentang teknologi ponsel yang terbaru.
Punya hobi menulis sejak SMK, tapi belum begitu aktif di dunia blog. Nah, karena kuliah ada sedikit waktu senggang jadi kegiatan menulis bisa diterapkan kembali ke dalam blog. Blognya berisi tentang travelling, kuliner dan review film.

Leave a Reply

Di Tengah Ancaman Kepada Wasit, Inilah 5 Pengadil Lapangan yang Disegani Pemain Indonesia

Jangan Keenakan Gunakan Wi-Fi Gratisan! 4 Risiko Ini Bakal Ancam Data Pribadimu