Naik gunung memang jadi salah satu hobi favorit anak muda hingga orang dewasa. Ada sensasi tersendiri ketika bisa mencapai puncaknya, hingga konon saat sudah turun, kita akan menjadi pribadi yang berbeda.

Namun, naik gunung bukan hanya tentang mencapai tujuan. Ketika kita sedang mendaki dengan banyak teman, saat itu menjadi latihan untuk mengasah solidaritas. Berangkat enam orang, pulangnya juga harus berenam. Lengkap sehat jiwa raga.

Baru-baru ini seorang pendaki ditemukan meninggal dunia di pos 7 Gunung Slamet. Setiap kali ada kabar pendaki gunung hilang atau gugur dalam pendakian, selalu membuat hati bergetar. Warganet yang mengetahui kabar ini membanjiri dengan doa dan simpati. Beberapa di antaranya juga mengisahkan seringnya menemukan kasus yang miris seperti ini.

Jangan egois menuju ke puncak

Menuju puncak gunung kerap dijadikan konten [Sumber gambar]
“Tujuan akhir naik gunung bukanlah puncak,” ujar salah seorang netizen. Ya, pendakian sejati memang bukan tentang seberapa tinggi puncaknya, namun lebih ke menaklukkan ego bawaan manusia yang kadang setinggi langit. Apalagi sekarang, foto berada di puncak kerapkali menjadi konten. Namun semua itu tidak ada artinya jika ada teman yang ditinggal di belakang. Apalagi sendirian di gunung penuh dengan risiko tersesat, hingga hypothermia yang mengancam nyawa.

Kalau tujuanmu hanya puncak maka belum paham arti mendaki

Ilustrasi mendaki gunung bersama teman [Sumber Gambar]
Melansir dari salah satu tulisan Rizqi Y. di Phinemo, yang pas untuk menjadi renungan anak gunung masa kini tentang pendakian. Karena berambisi ingin sampai puncak, seringkali memaksakan diri cepat sampai padahal kondisi tidak memungkinkan atau malah jadi meninggalkan teman. Jika puncak adalah tujuanmu, maka artinya belum mengerti tujuan naik gunung. Mendaki bertujuan untuk kembali. Jadi meski kita meniti dengan perlahanpun tak apa. Tak sampai puncak pun, tak apa. Asalkan bisa pulang dengan selamat.

Naik bersama, pulang bersama

Artis Yuki Kato pernah melakukan pendakian ke Gunung Slamet bersama rekannya [Sumber Gambar]
Di dalam pendakian memang tidak diperbolehkan meninggalkan teman dalam kondisi apapun. Komitmen ini perlu ditanamkan sejak awal merencanakan naik gunung bersama teman. Bukan hanya pulang sama-sama dengan raganya saja, namun juga jiwanya. Kebersamaan ini yang menjadikan acara naik gunung lebih paripurna, Sobat Boombastis.

Aa Gym pernah mengatakan, ada 3 cara melihat karakter seseorang. Salah satunya dengan safar atau perjalanan jauh. Memang sih dengan menempuh perjalanan mendaki gunung yang tak jarang bertemu kesulitan atau melelahkan, bakal tersingkap aslinya sifat rekan seperjalanan kita. Bahkan, tak menutup kemungkinan bisa muncul ‘drama’.

BACA JUGA: 4 Tragedi Para Pendaki Hilang di Gunung, Ada yang Tak Pernah Pulang Hingga Kini

Namun, jangan jadikan alasan untuk berpisah jalan. Temukan solusi untuk bersama, paling tidak hingga selesai pendakian. Karena, tujuan utamamu adalah untuk PULANG.