“Setiap kejadian baik atau buruk pasti ada pelajaran yang bisa diambil” agaknya menjadi kalimat yang tidaklah asing bagi kita semua. Banyak insiden dari A sampai Z yang mengandung hal positif untuk menjadikan kita lebih baik. Seperti salah satu contoh kala kita rajin berolahraga maka akan berimbas pada kesehatan yang didapatkan, begitu juga sebaliknya. Berkaca dari kejadian tersebut meninggalnya Haringga Sirila akibat kekerasan juga menyimpan hal-hal yang tidaklah semuanya negatif.

Pemuda yang meninggal lantaran dikeroyok oknum suporter itu, seperti membuka mata kita mengenai sebuah sikap bar-bar yang ada diri fans bola tanah air. Mata kita juga dibuka dan diperlihatkan bagaimana kondisi sepak bola Indonesia saat ini. Tentu bukan hal itu saja hal baik bisa di petik dari peristiwa kelam tersebut. Lalu apa sajakah pelajaran mulia dari Kematian Haringga Sirila? Temukan jawabannya di ulasan ini.

Perdamaian Persija Vs Persib semakin intensif lagi

Persija dengan Persib [Sumber Gambar]
Jika, dalam beberapa kesempatan di stasiun Tivi pentolan The Jak yakni Bung Ferry kerap menyuarakan perdamaian antar suporter. Agaknya pasca tragedi berdarah Minggu (23/9), hal positif tersebut akan jauh lebih besar lagi untuk dikampanyekan. Kalau dulu hanya memikirkan bagaimana membuat pondasi persatuan, kini bisa dibilang sudah berubah menjadi jembatan untuk perdamaian. Kendati bukan perkara mudah, namun lewat duka bersama agaknya sekat penghalang akan menjadi lebih lunak dan mudah untuk ditembus. Berkat hal tersebut tentunya peluang damai fans dua klub itu akan sangat besar.  Tinggi harapan ke depan mereka mau untuk berbagi tribun seperti dahulu kala.

Menyatukan orang Indonesia untuk mengutuk kekerasan

Selamat Jalan Haringga [Sumber Gambar]
Selain beberapa hal tadi, insiden Gelora Bandung Lautan Api ini juga membuat banyak kalangan memberikan simpatinya. Mulai dari musisi, pemain, sampai para pesohor tanah air berbondong-bondong ikut mengutuk hal tersebut. Seperti apa yang dilakukan oleh Melly Goeslaw yang menuturkan bela sungkawa. Fenomena ini seperti menjadi gambaran jika semua masyarakat Indonesia sebenarnya menolak kekerasan di sepak bola. Hal ini juga menjadikan banyak kalangan di Indonesia bersatu menyuarakan kebaikan. Seumpama hal baik ini bisa terjadi tanpa menunggu adanya peristiwa mungkin akan jauh lebih baik ya sobat.

Munculnya beragam gagasan agar sepak bola lebih baik lagi

Ridwan Kamil dukung Persib [Sumber Gambar]
Seperti halnya ada gula ada semut, setiap kejadian ternyata juga memunculkan gagasan-gagasan baru. Begitu juga untuk kasus Haringga Sirila ini, banyak kalangan memberikan solusi  agar kejadian ini tidak terulang. Seperti salah satu contohnya Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil yang memberikan ide mengenai adanya wadah kusus membina suporter. Tidak hanya itu Bung Ferry juga menginginkan ada hukuman berat untuk lagu-lagu provokatif di Stadion. Hal ini adalah sebagian kecil saja, namun membuktikan jika banyak orang menginginkan tidak ada lagi Haringga-Haringga yang lain. Kalau menurutmu bagaimana nih sobat, apakah ada ide untuk membuat para suporter lebih bagus?

Ternyata lagu-lagu rasis membentuk perilaku bar-bar suporter

Koreo Suporter [Sumber Gambar]
Bila membandingkan suporter Indonesia dengan manca, tentunya kita akan melihat perbedaan yang amatlah signifikan mengenai aturan. Kalau disini lagu-lagu rasis dan berbau provokatif seperti dilegalkan, di kompetisi-kompetisi luar negeri hal semacam itu sangatlah dilarang dan mereka yang melanggar akan dihukum berat. Kondisi semacam inilah yang akhirnya membentuk karakter bar-bar suporter di Indonesia menjadi bengis. Melansir laman CNBC, kebiasaan-kebiasaan kecil dan rutin akan memicu untuk melakukan yang lebih. Berkaca dari hal itu tak salah jingga pengeroyok Haringga Sirila tidak mempunyai rasa kemanusiaan.

Fanatisme membuka mata kita akan kerasnya sepak bola Indonesia

Fanatisme sepak bola [Sumber Gambar]
Berbicara mengenai kasus Haringga Sirila, kita tidak hanya ditunjukkan penyebab perilaku negatif suporter saja. Lebih dari itu, kita menjadi mengetahui apabila permasalahan jagad fans bola begitu kompleks. Fanatisme yang mereka anut kerap menjadi bara api yang siap membakar siapa saja. Melihat kondisi tersebut sudah saatnya kita memandang kelompok pendukung ini bukan hanya dari sisi komersial saja. Mereka juga harus diberikan pembinaan positif agar bisa memupuk nilai-nilai sportivitas dalam diri. Pasalnya, apa yang mereka buat negatif atau positif pengaruhnya amatlah besar untuk sepak bola Indonesia.

Beberapa hal di ulasan tadi menjadi sedikit gambaran bagaimana setiap peristiwa selalu menyiapkan tempat untuk sebuah pelajaran berharga. Jika pandai memahaminya dan tidak malas untuk belajar pastinya ke depan kita mendapatkan hasil yang baik. Berbeda halnya apabila setiap insiden kita lihat dari kaca mata negatif, tentunya dendam atau keburukan yang akan dituai. Besar harapan kita semua insan bola dapat menjadi pribadi lebih baik lagi dan “tidak ada satu kemenangan pun yang sebanding dengan nyawa”.