Belum lama KPI diserbu karena kebijakannya yang mengusik keberadaan Netflix dan konten Youtube, kini komisi lainnya ikutan kena sembur kejamnya jempol netizen. Apalagi kalau bukan masalah Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) yang menuding Perkumpulan Bulu tangkis (PB) Djarum sebagai eksploitasi anak untuk pemasaran rokok.

Ini memang menjadi masalah yang dilematis, anak dan rokok. Tapi yang membuat banyak orang tepok jidat terhadap prahara ini ada dua. Pertama, tudingan eksploitasi oleh KPAI ini disebut tidak pada tempatnya. Kedua, kok baru diusut sekarang setelah setengah abad berjalan terus kemarin ke mana aja?

Bahkan PB Djarum kini ikut bereaksi tegas dengan rencana hengkang dari perhelatan Audisi Djarum Beasiswa Bulu Tangkis tahun depan. Yah… kok sayang sekali? Well, mari kita telisik kronologi kasus ini bersama-sama.

PB Djarum dan kiprah setengah abad di dunia bulu tangkis

Singkatnya, PB Djarum ini tadinya hanya ajang main bersama untuk karyawan pabrik PT Djarum. Namun akhirnya bertransformasi dengan mendidik calon atlit di mana saat itu yang pertama kali dibina adalah Liem Swie King. Pembinaan ini berbuah manis karena beberapa tahun setelahnya, Liem kerap menyumbangkan prestasi di Thomas Cup.

Kesuksesan Liem Swie King ini kemudian semakin dibudidayakan oleh PB Djarum dengan membuka Audisi Djarum Beasiswa Bulutangkis setiap tahun. Peminatnya? Jangan ditanya. Tahun 2016 saja mereka pernah mencatat rekor dengan 4,547 peserta audisi.

Liliyana Natsir dan Tontowi Ahmad [Sumber Gambar]

Dari sinilah pernah lahir banyak bibit atlit yang unggul seperti Eddy Hartono, Haryanto Arbi, Chandra Wijaya, Liliyana Natsir dan Tontowi Ahmad sampai duo tengil Kevin-Marcus. Jangan lagi minta prestasi, hampir semua nama ini sekarang bahkan jadi legenda di panggung bulu tangkis nasional.

KPAI: Hentikan penggunaan anak untuk promosi

Kemudian tak ada hujan tak ada angin setelah puluhan tahun berlalu, datanglah KPAI dengan misinya meminta Djarum Foundation menghentikan penggunaan anak sebagai media promosi citra merek dagang rokok Djarum melalui audisi beasiswa bulutangkis. Ringkasnya, KPAI minta agar tidak ada embel-embel nama Djarum di seleksi beasiswa tersebut karena lekat dengan image rokok. 

Sitti Hikmawatty [Sumber Gambar]

Audisi Beasiswa Bulutangkis Djarum dianggap tidak mengindahkan  Peraturan Pemerintah Nomor 109 Tahun 2012 mengenai Pengamanan Bahan yang Mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tembakau Bagi Kesehatan. “Bukan audisinya yang kami minta dihentikan, tetapi eksploitasi anaknya. Kami sepakat bahwa terjadi eksploitasi anak dalam audisi tersebut,” kata Komisioner KPAI Sitti Hikmawatty.

Jadi yang dibahas oleh KPAI adalah pasal 35 Ayat (1) huruf c bahwa pengendalian promosi produk tembakau dilakukan dengan tidak menggunakan logo dan/atau merek produk tembakau pada suatu kegiatan lembaga dan/atau perorangan.

Juga pasal 37 menyatakan sponsor industri rokok hanya dapat dilakukan dengan tidak menggunakan nama merek dagang dan logo produk tembakau termasuk brand image produk tembakau.

PB Djarum memilih pamit per 2020

Sebenarnya kalau mau disingkat, masalah ini bisa selesai dengan PB Djarum mengganti nama audisinya. Namun tentu saja hal ini tidak mudah dilakukan, karena secara peruntukan PT Djarum dan PB Djarum tidak sama. Selain itu, permasalahan inti adalah penggunaan istilah ‘eksploitasi’ yang seolah ini untuk kepentingan Djarum sendiri. Sementara, ada banyak pihak yang berkembang dan menikmati, termasuk harumnya nama Indonesia atas kemenangan bulu tangkis hingga level internasional.

Bagaimana masa depan Audisi Beasiswa Djarum? [Sumber Gambar]

Maka PB Djarum pun memilih untuk mundur di tahun depan. “Biar reda dulu dan masing-masing pihak dapat berpikir dengan baik,” kata Direktur Program Bakti Olahraga Djarum Foundation, Yoppy Rosimin saat menggelar konferensi pers di Hotel Aston Purwokerto pada Sabtu (7/9) lalu.

Sempat ada yang menduga PB Djarum sedang ‘ngambek’, tapi ternyata apa yang disampaikan pihak Djarum ini justru bertujuan meredam kemelut yang sedang terjadi. Pemberitaan semakin santer, netizen tak henti-hentinya menghujat KPAI, maka PB Djarum yang sudah seusia bapak atau kakek kita ini memilih untuk mundur sambil refleksi. Pihak Djarum menyebutkan, nantinya tidak akan mengharuskan anak-anak menggunakan kaos dengan logo Djarum, cukup kaos dari klub badmintonnya masing-masing.

Erick Thohir dari KOI akan tengahi masalah PB Djarum dan KPAI

Polemik PB Djarum dan KPAI ini memang bikin gemas banyak pihak, apalagi keputusan PB Djarum hengkang masih ditafsirkan macam-macam. Tapi tenang, kabarnya Ketua Umum Komite Olahraga Indonesia (KOI), Erick Thohir, akan ikut turun tangan menengahi drama yang juga melibatkan banyak argumen masyarakat sehingga jadi ‘drama nasional’ ini. 

Yah, secara bulu tangkis saat ini hampir menjadi satu-satunya cabang olah raga paling menyumbang prestasi di Indonesia. Semoga ada jalan, ya.