Perkembangan zaman yang semakin canggih, menuntut sebuah negara harus mengikuti trend yang ada. Terlebih pada soal militer. Di mana ancaman terorisme dan gerakan separatis akhir-akhir ini menjadi sebuah permasalahan global. Untuk itu, penguatan pada sektor militer dengan beragam alutsista canggih dan modern menjadi sebuah harga mati yang tak bisa ditawar. Hal ini tampaknya disadari betul oleh Singapura.

Negara tetangga Indonesia ini, mempunyai luas wilayah yang terbilang kecil di antara anggota ASEAN lainnya. Agar tak menjadi bulan-bulanan negara lain, sektor militer pun diperkuat dengan sejumlah mesin perang berteknologi tinggi. Salah satunya adalah AV-81 Terrex 8×8, panser tercanggih yang bakal menjadi saingan kendaraan lapis baja Indonesia, Anoa. Seperti apa kehebatan mesin tempur satu ini? Simak ulasan berikut.

Variannya dibuat mirip dengan Indonesia

Jenisnya diperbanyak dengan fungsi tertentu [sumber gambar]
Sebagai kendaraan lapis baja fungsional, Terrex hadir dalam beberapa varian yang digunakan untuk tugas yang berbeda-beda. Di antaranya adalah APC (Armoured Personnel Carrier) untuk mengangkut pasukan, IFV (Infantry Fighting Vehicle) untuk membantu pertempuran, varian ATGM (Anti Tank Guided Missile), kendaraan medis, reparasi hingga varian Engineering untuk mendukung satuan zeni tempur di lapangan. Prototipenya diperkenalkan secara perdana pada ajang DSEI 2001 dan resmi meluncur pada 2009 silam.

Panser tercanggih se-Asia Tenggara dengan persenjataan modern

Tercanggih se-Asia Tenggara [sumber gambar]
Singapura boleh saja berbangga hati. Pasalnya, panser Terrex buatan mereka telah dilengkapi persenjataan yang mendukung era perang modern. Terutama Untuk varian IFV dan ATGM. Dilansir dari indomiliter.com, kubah dengan sistem RCWS (Remote Control Weapon System) EOS R-600 yang dilengkapi kanon MK44 Bushmaster II kaliber 30 mm, dipasang pada varian IFV. Sementara untuk ATGM yang diplot sebagai penghancur tank, dibekali dengan rudal anti tank Spike LR dengan kemampuan fire and forget.

Kendaraan lapis baja amfibi dengan kemampuan spesial

Handal sebagai kendaran amfibi [sumber gambar]
Dirancang untuk memudahkan operasi pertempuran, Terrex juga dibekali kemampuan sebagai kendaraan amfibi. Pada bagian depan, panser ini dibekali dengan fording plate. Terutama saat melintasi sungai dan pendaratan pasukan di tepi pantai. Selain itu, alat ini juga berfungsi untuk memecah ombak manakala diturunkan dari kapal laut saat hendak menuju ke daratan. Menggunakan dua propeller dan bobot apung maksimal hingga 24 ton, Terrex dapat melaju dengan kecepatan 10 km per jam di permukaan air.

Mengutamakan keamanan dan kenyamanan pasukan

Navigasi super canggih mirip kokpit pesawat tempur [sumber gambar]
Terrex tergolong kendaraan militer yang sangat memanjakan sekaligus memperhatikan keselamatan krunya. Panser ini telah menggunakan pelat baja berbahan komposit berlabel AMAP (Advanced Modular Armour Protection) buatan IBD Jerman. Armor ini telah sesuai dengan standar NATO STANAG 4569 level 3 dan 4 untuk menahan peluru kaliber 14,5 mm/12,7 mm dan pecahan artileri 20 mm. Ruang kemudinya juga tergolong sangat canggih dan mirip dengan dashboard pilot jet tempur. Untuk memudahkan navigasi, Terrex menggunakan kamera dengan tiga buah layar sebagai display yang dilengkapi mode thermal untuk medan yang minim pencahayaan.

Sempat latihan bersama dengan Panser Anoa Indonesia

Sempat beradu dalam latihan gabungan Indonesia-Singapura [sumber gambar]
Pada tahun 2012, Terrex APC pernah melakukan latihan tempur bersama antara TNI AD dan Angkatan bersenjata Singapura berkode SAFKAR Indopura 2012. Simulasi tempur yang dilaksanakan di Cipatat, Jawa Barat tersebut, APC Anoa Indonesia berkesempatan untuk bersanding dengan Terrex buatan Singapura. Latihan ujicoba itu memberikan kesempatan pada dua negara untuk memahami kelebihan dan kekurangan masing-masing. Terutama pada sistem alutsista yang dimiliki serta kemampuannya di medan tempur.

Dengan mengusung beragam perangkat perang modern, panser Terrex Singapura tentu tidak bisa diremehkan begitu saja. Bahkan melalui latihan bersama, Indonesia bisa belajar sekaligus mengambil pengalaman yang ada. Harapannya, kemampuan alustista TNI pun bisa dikembangkan secara bertahap. Gimana menurutmu sahabat Boombastis?