Semakin hari, dunia pendidikan di negeri kita semakin carut-marut. Jelas ada banyak perbedaan jika mau dibandingkan dengan sekolahan generasi jadul zaman dulu, terutama dari segi akhlak murid dan guru serta sebaliknya. Belum lagi, orangtua juga ikut berperan jika anak mereka terlibat dalam urusan sekolah.

Ya, sebenarnya memang sebagai orangtua, ayah dan ibu tentu punya peran penting memperhatikan anak mereka. Namun, saat di sekolah rasanya semua kelakuan murid full menjadi urusan guru. Sehingga tak heran jika kenakalan mereka diganjar dengan hal serupa, hukuman yang membuat jera misalnya. Namun, ternyata ada saja orangtua yang tidak terima dengan hal tersebut. 4 kasus di bawah ini contohnya.

Rambut anaknya dipotong, orangtua potong balik rambut guru

Orangtua dan guru yang dipotong rambutnya [Sumber gambar]
Kasus kemarahan orangtua karena guru memotong rambut anaknya ini terjadi di beberapa sekolah. Pertama, ada wali siswa dari SD Inpres Madawat, Nusa Tenggara Timur yang memotong balik rambut sang guru bernama Pramusrita saat ia mengetahui rambut anaknya dipotong di sekolah. Pramusrita saat itu sedang mengajar dan duduk di kelas posisinya. Padahal, sekolah memang punya aturan untuk memotong rambut siswa yang panjang. Toh, sebelumnya, Pramusrita mengatakan sudah ada 3 kali peringatan, tetapi para siswa lelaki tak mengindahkannya. Sehingga sebagai salah satu tindakan agar kapok, guru mengambil tindakan potong rambut sang siswa.

Laporkan ke polisi anak yang potong rambut anaknya

Rambut siswa yang dipotong [Sumber gambar]
Cerita kedua, masih di perihal potong rambut siswa. Belasan wali murid di Banyuwangi (11/3/19) melaporkan seorang guru pencak silat yang telah memotong berantakan rambut siswanya. Salah satu orangtua bahkan mengatakan bahwa kepala anaknya sampai luka dan berdarah. Yang lain angkat bicara jika sebelum dipotong secara berantakan, rambut sang siswa sudah pendek, sehingga memotong lagi menjadi tidak masuk akal. Di sisi lain, Arya selaku guru yang melakukan hal tersebut diam saja dan tidak mau memberi komentar saat dirinya ditanya oleh para wartawan. Hingga sekarang kasus ini masih dalam penyelidikan.

Mencubit siswa dua kali, guru ini berhadapan dengan polisi

Guru cubit Murid [Sumber gambar]
Kalau dulu, menangis di cubit guru di sekolah lalu melapor kepada orangtua akan ditambah dengan cubitan mereka. Berbeda lagi dengan nasib yang dialami oleh Malayanti, guru Bahasa Inggris di Wajo, Sulawesi Selatan ini. Karena mencubit seorang muridnya yang berinisial DAB karena terus bermain gadget dan tidak memperhatikan seminar yang sedang berlangsung. Berkali-kali ditegur, DAB tetap saja tak memberikan respons. Ya, karena kesal, guru Bahasa Inggris tersebut mencubit lengan DAB dua kali. Tak disangka, cubitan yang niatnya mendidik itu malah menggiring dirinya ke kantor polisi. Sepele banget kan?

Menasehati anaknya sebagai murid, eh malah ditendang oleh orangtuanya

Guru yang ditendang wali murid [Sumber gambar]
Kejadian yang paling miris adalah perilaku orangtua kepada guru anaknya di SMA Negeri IV Penfui, Kota Kupang ini. Semua berawal dari murid MT yang menabrak gurunya bernama Makrina. Bukannya minta maaf, si murid langsung pergi begitu saja. Ya, sebagai seorang guru pasti ada perasaan jengkel kan, sehingga Makrina memanggil MT dan menanyakan alasan mengapa kok tidak meminta maaf. MT hanya menjawab acuh tak acuh. Karena hal tersebut Makrina akhirnya memberi ceramah dan menelepon orangtua MT. Parahnya, orangtua MT datang ke sekolah dengan membabi buta dan malah menendang Makrina. Ya, si bapak kalau enggak mau anaknya ditegur guru mungkin bisa dididik sendiri di rumah ya, Pak.

Masuk kantor polisi gara-gara mistar kayu

Guru yang dilaporkan (kedua dari kiri) karena memukul siswa dengan mistar [Sumber gambar]
Kasus yang terakhir ini juga membuat sang guru berakhir di kantor polisi. Guru bernama Sahrati ini dilaporkan memukul salah satu siswa inisial UL dengan mistar kayu. Sahrati sendiri mengatakan bahwa ia memukul muridnya karena memang perilaku UL yang dinilai nakal. Ketika sedang bermain, ia mendorong dua temannya hingga membuat kedua siswa tersebut terjatuh dan menangis. Ya, layaknya seorang guru yang ingin memberi efek jera, betis UL dipukul dengan mistar kayu. Setelah pulang dan melapor kepada ibunya, sang ibu ternyata tak terima hingga Sahrati dilaporkan ke kantor polisi. Duh, zaman dulu mah mistar gituan makanan sehari-hari murid kalau nakal.

BACA JUGA: Inilah 5 Kisah Tragis Murid Durhaka yang Aniaya Guru Karena Masalah Sepele

Begitulah perseteruan antara wali murid dan guru yang mengajarkan anak mereka. Hanya karena perihal sepele, sang orangtua tak terima dan ingin guru anaknya masuk penjara. Padahal kalau dulu, saat sang anak menangis pulang sekolah karena dihukum guru, orangtua akan balik memarahi si anak. Ya karena memang di sekolah guru berhak atas muridnya lebih dari orangtua.