Kedatangan Raja Arab Saudi, Salman bin Abdulaziz  cukup membuat heboh publik di Indonesia. Pemberitaannya ramai hampir di semua media. Dari sebelum datang, sampai bertemu Presiden Joko Widodo, Raja Salman jadi pusat pemberitaan. Segala hal tentangnya dikupas, lengkap dengan bumbu-bumbunya.

Mari sejenak kita lupakan dulu kisah tentang Raja Salman, beserta pernak-perniknya. Tanah Arab, khususnya Arab Saudi memang memiliki banyak kisah menarik. Terutama tentang tokoh-tokoh lainnya. Nah, ada sebuah kisah tentang tokoh di Arab Saudi yang layak untuk diulas. Kisah hidupnya cukup inspiratif dan bisa jadi teladan bagi siapa pun.

Tokoh tersebut adalah Abdurrahman al Jarisi. Tentu, nama itu agak asing bagi kita. Dia memang bukan kerabat kerajaan. Bukan pula cendekiawan Arab yang mendunia. Tapi, namanya cukup harum di tanah Arab. Bahkan, Al Jarisi dikenang karena mencetak sejarah di Arab.

Siapa Al Jarisi?

Al Jarisi lahir bukan dari keluarga kerajaan. Bahkan bukan pula datang dari keluarga yang dekat dengan orang-orang pemerintahan, misalnya ia putra pejabat. Justru, Al Jarisi lahir dari keluarga yang bisa dikatakan kaum ‘jelata’. Ia lahir di sebuah kampung di Arab, bernama Raghbah. Kampung ini ada di wilayah Mahmal yang masuk wilayah Riyad. Dia lahir tahun 1351 Hijriyah atau 1932 Masehi.

Ilustrasi Al Jarisi [Image Source]
Masa kecilnya, bisa dikatakan cukup getir. Pada usia dua tahun, Al Jarisi sudah jadi anak yatim, karena ditinggal ayahnya yang meninggal dunia. Al Jarisi kecil pun kemudian diasuh kakeknya. Umur delapan tahun, dia pindah ke ibukota Saudi, Riyad. Di kota itu, dia numpang hidup di keluarga pamannya.

Tapi, meski yatim, Al Jarisi punya semangat tinggi untuk berubah. Usai lulus dari sekolah tingkat lima Ibtidaiyah, semacam sekolah dasar di Indonesia, Al Jarisi ikut pelatihan di departemen tenaga kerja dan akuntasi. Tidak hanya itu, Al Jarisi juga rajin belajar bahasa Inggris dan Italia.

Ilustrasi Al Jarisi yang tengah bekerja [Image Source]
Pada usia 14 tahun, dia sudah bekerja. Di sebuah kantor dagang yang berpusat di Riyad, Al Jarisi mulai menapaki karirnya. Gajinya hanya 20 riyal. Tapi karena ketekunan, kerajinan serta dedikasinya, karir Al Jarisi melesat hingga jadi manajer. Gajinya pun melonjak menjadi 5000 riyal.

Tapi kemudian Al Jarisi banting stir. Dia mulai menapaki dunia bisnis dengan mendirikan perusahaan yang bergerak di bidang penjualan alat rumah tangga. Modalnya patungan dengan temannya. Jatuh bangun dia bangun dan membesarkan perusahaan tersebut. Hingga kemudian ia pun membeli seluruh saham perusahaan tersebut. Perlahan tapi pasti, perusahaannya mulai menuai keuntungan.

Sampai ia kemudian melirik usaha di bidang pengadaan komputer. Ketika itu, di Arab Saudi, belum ada satu pun perusahaan yang tertarik menjual komputer. Insting bisnis Al Jarisi cukup jeli. Ia menangkap peluang dan prospek penjualan komputer. Dan, ia pun kemudian memutuskan untuk menjual komputer di Arab Saudi.

Persebaran komputer di Arab adalah jasa Al Jarisi [Image Source]
Namanya pun tercatat sebagai pemilik perusahaan yang pertama kali menjual komputer di Arab Saudi. Sebuah torehan sejarah yang cukup manis. Torehan sejarah yang kemudian selalu dikenang rakyat Saudi.  Al Jarisi pun dianggap sebagai pengubah peradaban di Saudi. Lewat perusahaannya, rakyat Arab kemudian mengenal komputer.

Kisah Al Jarisi layak untuk diceritakan. Kisah hidupnya inspiratif dan jadi bahan pelajaran berharga. Al Jarisi mengajarkan kita, bahwa semangat yang dibarengi kerja keras akan menorehkan hasil gemilang di kemudian hari. Al Jarisi juga mengajarkan, keterbatasan hidup bukan alasan untuk menggapai masa depan yang lebih baik. Justru kesulitan hidup jadi cambuk untuk mengubah masalah jadi berkah.