Nama besar Soekarno ternyata bergaung jauh hingga ke benua hitam Afrika. Sebagai penggagas Gerakan Non-Blok yang berpengaruh luas hingga ke pemerintahan dunia, membuat Soekarno sangat dihormati atas ketegasannya tersebut. Sebagai bentuk penghormatan, namanya pun diabadikan sebagai nama jalan oleh beberapa negara.

Bagi masyarakat Afrika, Soekarno adalah sebuah penggagas yang menggerakkan jiwa-jiwa kemerdekaan di benua hitam. Tak salah bila kemudian banyak anggapan yang mengatakan bahwa Soekarno telah membangkitkan harga diri Afrika dan orang Afrika itu sendiri. Semua hal ini berawal dari ide Soekarno yang memilih Gerakan Non-Blok.

Soekarno bersama para pemimpin dunia di Konferensi Asia Afrika [sumber gambar]
Di tengah pertarungan ideologi antara Blok Barat maupun Blok Timur yang halus namun tajam di dalam, membuat Soekarno harus merumuskan sesuatu agar negaranya tak ikut terseret dalam pusaran konflik tersebut. Gerakan Non-Blok dipilihnya bersamaan dengan gagasan tentang Konferensi Asia Afrika (KAA) yang kemudian diselenggarakan pada 1955.

Dari sana getaran-getaran yang dianggap membangkitkan semangat Afrika dan orang Afrika itu muncul. Konferensi tersebut juga diikuti oleh negara-negara Asia lainnya – terutama yang belum merdeka, yang kemudian memenuhi undangan Soekarno untuk membahas kemerdekaannya.

Suasana KAA di Bandung pada 1955 silam [sumber gambar]
Salah satunya seperti yang terjadi di Maroko. Di negara Afrika Utara tersebut, Indonesia menjadi negara pertama yang melakukan Kunjungan Kepresidenan secara resmi pada 1956, sekaligus membuka Kantor Kedutaan Besar di Rabat. Kunjungan yang kedua kalinya dilakukan pada 2 Mei 1960, kali ini sebagai bentuk ucapan selamat atas kemerdekaan Maroko atas Prancis.

Bagi masyarakat dan pemerintah Maroko, Soekarno adalah inspirator sekaligus roda penggerak semangat di negara tersebut untuk berdaulat dan meraih kemerdekaannya. Untuk menghormati jasa Soekarno, Raja Mohammed V mengabadikan nama Soekarno di salah satu jalan besar di Rabat.

Hal serupa juga terjadi di Mesir. Di mana negeri Piramid itu mengabadikan nama Soekarno pada sebuah jalan dengan nama Ahmed Sokarno St yang menuju pusat kota dan pusat kebudayaan di Tahrir Square. Uniknya, Soekarno sendiri sempat tak menyukai jika namanya dibubuhi Ahmad di depan. Hal tersebut akhirnya terlanjur melekat dan dikenal di seantero Afrika.

Besarnya pengaruh Soekarno juga dirasakan oleh mantan gubernur Nusa Tenggara Timur, Ben Mboi. Sebagai salah satu dari ratusan anggota DPRGR/MPRS, dirinya ternyata pernah ikut memberhentikan Soekarno dan mengangkat Soeharto sebagai Presiden. Dalam Memoar Seorang Dokter, Prajurit, Pamong Praja, Ben bercerita betapa kecewanya masyarakat Afrika saat mengetahui kisah tragis Soekarno di akhir hidupnya.

Pada Pada 1971, Ben tengah mengambil gelar Master in Public Health di Belgia. Di sana, ia bertemu dengan dokter-dokter dari Afrika dan Timur Tengah, antara lain Tanzania, Uganda, Kongo, Kamerun, Nigeria, Mesir, Irak, Iran, dan Kuwait. Setelah mengetahui akhir kisah Soekarno yang tersingkir karena pergolakan politik di tanah air, mereka pun mengutarakan kekecewaannya pada Ben.

Ben sendiri pada saat itu mengisahkan bahwa Soekarno disingkirkan karena bersimpati pada komunisme. “Supaya Anda tahu, kami orang Afrika merdeka oleh getaran yang digerakkan oleh Soekarno, yang membangkitkan harga diri Afrika dan orang Afrika. Aneh, dia yang bawa kamu ke pintu gerbang kemerdekaan malah kamu singkirkan!” ucap mereka seperti yang dikutip dari Historia.

BACA JUGA: Nggak Banyak yang Tahu Jika Soekarno Pernah Punya Anjing, Begini Ceritanya

Begitu besarnya jasa Soekarno hingga menginspirasi bangsa-bangsa lainnya untuk bangkit dan maju, membuat sosoknya terkenang abadi hingga saat ini. Sebagai orang Indonesia, kita tak hanya merasa bangga terhadap rekam jejak dan kiprah manis sang proklamator, tetapi juga harus meneladani dan terpacu untuk memberikan manfaat pada sesama.