Zaman sekarang mencari pekerjaan memang susah. Jangankan mereka yang berpendidikan rendah, para sarjana saja masih banyak yang pengangguran. Untuk bisa meraup rupiah, biasanya orang rela melakukan hal apapun. Termasuk menipu atau berpura-pura susah untuk mendapat belas kasihan orang lain.

Mungkin kita sudah tidak asing dengan pengemis. Memang, profesi tersebut sebenarnya tidak dilarang, namun jika orang tersebut benar-benar membutuhkan. Namun, ada beberapa oknum yang sebenarnya tidak pantas mendapat belas kasihan justru memilih jadi pengemis karena enggan bekerja keras. Cara orang-orang tersebut juga beragam, dan berikut ini adalah lima modus terbaru dari para pengemis gadungan.

Memaksa seorang nenek mengemis

Video seorang nenek yang mengemis di Semarang, Jawa Tengah sempat menghebohkan netizen baru-baru ini. Pasalnya, dalam video tersebut memperlihatkan sang nenek tersebut mengemis bukan untuk dirinya sendiri, melainkan dipaksa oleh seorang pemuda yang diduga cucunya. Tiap harinya, seorang pemuda akan menghampiri nenek bernama Supini itu untuk mengambil hasil belas kasihan orang lain.

https://www.youtube.com/watch?v=izTm0UpWPxo

Berkat video yang tersebar tersebut, Dinas Sosial Kota Semarang langsung melakukan pengecekan. Nenek dan cucu yang beroperasi di lampu merah perempatan Rumah Sakit Umum Pusat Dr Kariadi Semarang pun akhirnya diamankan. Pria yang diduga cucu nenek tersebut ternyata bukanlah cucu yang sebenarnya. Akhirnya, pria tersebut diamankan pihak kepolisian karena melakukan eksploitasi terhadap nenek Supini. Sementara sang nenek malang tersebut saat ini diurus oleh Dinas Sosial.

Pura-pura hamil

Ada-ada saja cara orang untuk mendapatkan belas kasihan. Salah satunya dengan berpura-pura hamil. Warga Jakarta sempat dirisaukan dengan banyaknya perempuan hamil yang mangkal di perempatan jalan raya untuk meminta-minta. Saat ditanya, banyak yang mengaku membutuhkan biaya untuk melahirkan. Maraknya ibu-ibu berperut buncit tersebut pun menyita perhatian Kepala Seksi Rehabilitasi Suku Dinas Sosial Jakarta.

Lucunya, saat orang-orang tersebut hendak ditertibkan petugas, mereka mampu melarikan diri dengan cepat, bahkan ada beberapa yang berhasil menghilangkan jejak. Hal itu sudah membuktikan bahwa kehamilan tersebut hanya pura-pura. Pihak dinas sosial sendiri mengingatkan masyarakat yang ingin berzakat untuk menyerahkan sedekahnya pada pihak yang resmi. Hal itu untuk mengurangi praktek pengemis ngibul yang makin marak saja.

Pura-pura jadi petugas kebersihan

Ada saja cara yang digunakan untuk lolos dari pantauan dinas sosial. Baru-baru ini, ada seorang pengemis yang menyamar jadi petugas kebersihan. Mursidin, Ketua Suku Dinas Sosial Kota Administrasi Jakarta Selatan mengaku sempat terkecoh karena penampilan pengemis tersebut mengenakan seragam dinas kebersihan. Namun, Mursidin akhirnya sadar karena bagian yang dibersihkan oleh petugas tersebut hanya itu-itu saja.

Pengemis pura-pura jadi tukang sapu tertangkap [image source]
Mursidin pun melakukan pemantauan, dan melihat sendiri bagaimana si petugas kebersihan gadungan tersebut minta-minta uang pada pejalan kaki yang lewat. Diketahui petugas kebersihan gadungan tersebut adalah Rahmad Suhardi yang tinggal di Kebayoran Lama. Sebenarnya, Rahmad berprofesi sebagai tukang jual beli barang bekas. Ia mengaku jika pengemis hanya ikut-ikutan teman saja.

Menyewa balita orang lain dan dibius

Selama ini mungkin kamu pernah melihat seorang wanita meminta-minta sambil menggendong balita yang tertidur. Yang harus diketahui, biasanya bayi yang dibawa oleh pengemis tersebut bukanlah anak kandung mereka. Bayi tersebut sengaja disewa pengemis untuk mendapatkan rasa iba. Besarnya uang sewa sendiri biasanya kisaran 50-100 perhari.

Modus sewa bayi makin marak [image source]
Para pengemis biasanya sengaja memakaikan baju kucel pada si balita, kemudian memberikan noda arang di wajahnya hingga membuat siapapun merasa iba saat melihatnya. Agar si bayi tidak rewel selama ‘misi’, pengemis juga mencampurkan obat tidur dalam susu yang diminumnya. Para pengemis yang suka melibatkan anak tersebut bisa dijerat dengan Pasal 2 UU No, 23 Tahun 2002 dengan hukuman penjara 5 tahun atau denda 100 juta.

Pura-pura buta

Jumlah pengemis akhir-akhir ini memang makin banyak di berbagai kota, salah satunya Medan. Dinas Sosial dan Tenaga Kerja (Dinsosker) Kota Medan berhasil menangkap sepasang kekasih yang berpura-pura buta untuk mendapatkan belas kasihan.

Pengemis yang aslinya keren banget kalau lagi gaya [image source]
Umumnya, saat mengemis mereka mendapatkan 150 ribu rupiah. Menurut Kadinsosnaker Kota Medan, Syarif Armansyah Lubis, selain pasangan muda tersebut masih banyak pengemis gadungan yang beroperasi. Mereka yang tertangkap langsung dibawa ke Panti Punggai di Binjai.

Itulah modus terbaru para pengemis gadungan yang patut diwaspadai. Sebagai manusia yang merupakan makhluk sosial, sudah selayaknya kita berbagi pada sesama. Namun jangan sampai niat baik kita jatuh pada orang-orang yang kurang tepat.