in

Kisah Dahsyatnya Letusan Tambora pada 1815 dan Mitos-mitos yang Ada di Baliknya

April 1815 adalah hari terkelam dalam sejarah umat manusia, bukan hanya Indonesia saja. Karena Gunung Tambora memuntahkan isinya yang berupa lava panas dan memusnahkan banyak sekali nyawa. Tidak hanya itu saja, dampak dari letusan tambora ini mengubah iklim di dunia, gagal panen di Britania, wabah tifus di Eropa, serta Asia Tenggara yang diliputi oleh kegelapan.

Hingga hari ini, letusan Tambora masih tercatat sebagai salah satu musibah terbesar yang pernah mengguncang dunia. Namun, sebelum Tambora meletus, ada beberapa mitos dan hal yang mungkin tak banyak diceritakan oleh orang-orang. Simak dalam ulasan Boombastis.com berikut ini ya!

Tambora sebagai tanda murka Tuhan kepada Raja Tambora

Ilustrasi meletusnya Tambora [sumber gambar]
Kisah pertama ini diambil berdasarkan sebuah kisah sastra dari Makassar bertajuk Asal Mulanya Meletus Gunung Tambora. Dalam naskah cerita tersebut, dikisahkan bahwa Raja Tambora sat itu dianggap sebagai seseorang yang melanggar perintah Tuhan. Ia membiarkan anjing masuk ke dalam masjid, saat ada ulama yang protes akan hal itu, sang raja malah menjebaknya dengan mengundang ulama tersebut dalam jamuan makan. Dalam jamuan inilah, sang ulama itu diberi makan daging –yang ternyata daging anjing—kemudian ia digiring ke puncak Tambora dan dibunuh. Karena pembunuhan itulah, Sang Penguasa Alam murka, kemudian pecahlah ledakan Gunung Tambora.

Cerita ini berkembang dan dipercaya oleh masyarakat

Tambora [sumber gambar]
Seperti kebanyakan mitos pada umumnya, naskah cerita ini juga sangat populer di kalangan mereka yang tinggal di sekitar Tambora. Bahkan, Putri keturunan terakhir Sultan Bima, Siti Maryam Salahuddin atau yang biasa disapa Ina Kau Mary juga menceritakan hal yang sama terkait dengan letusan Gunung Tambora. Mayoritas orang yang tinggal di daerah Bima, dari berbagai kalangan juga mengenal cerita ini dari mulut ke mulut, bahwasanya letusan Gunung Tambora terjadi karena seorang ulama yang dibunuh.

Cerita lain dari masyarakat lokal

Tambora meletus [sumber gambar]
Selain mitos mengenai seorang ulama yang dibunuh dan hukuman Tuhan kepada raja yang membangkang, ada mitos lain lagi yang pernah disebutkan oleh Koordinator Komunitas Pecinta Alam Tambora (K-Pata), Saiful Bahri. Tambora sendiri dikaitkan dengan makna kata dalam bahasa Lokal. ‘Tambora’, oleh masyarakat lokal acap dimaknai ajakan menghilang. ‘Ta’ dalam bahasa Bima berarti ajakan, sedangkan ‘mbora’ diartikan menghilang. Erupsi Tambora dilekatkan dengan arti namanya. Ada kisah, sebelum gunung meletus, seorang ulama sakti yang mengajak orang-orang untuk menghilang. Ada yang pernah mendengar mitos ini?

Huru-hara saat meletusnya Tambora

Gunung Tambora pada 1821 [sumber gambar]
Letusan pertama Tambora terjadi pada 5 April 1815. Suara dentuman yang sangat dahsyat ini terdengar dengan jelas di penjuru Indonesia. Namun, karena zaman itu belum secanggih sekarang, ledakan dahsyat Tambora tak bisa disebarluaskan di internet dalam hitungan detik. Orang yang berada di pulau lain juga mengira-ngira terkait ledakan itu, hingga ia dikira sebagai letusan meriam dari musuh. Orang-orang yang berada di Gresik mengira bahwa letusan itu merupakan pesta pernikahan Putri Nyi Roro Kidul. Bahkan, warga yang berada di Bengkulu sepakat bahwa suara dentuman itu adalah suara dari pasukan jin.

BACA JUGA: 7 Fakta Meletusnya Gunung Tambora, Bencana Alam Terburuk dalam Ingatan Manusia

Ungkapan-ungkapan di atas hanya sebatas mitos ya, ucapan dari mulut ke mulut yang masih dipercaya oleh masyarakat hingga kini. Namun, terlepas dari kisah-kisah di balik letusan Tambora, peristiwa ini merupakan musibah terbesar dalam sejarah umat manusia. Karena letusan Tambora, selama belasan tahun kemudian, negara-negara dari berbagai belahan dunia mengalami kegagalan dalam beternak dan bertani, bahkan ada yang kelaparan dan terserang wabah.

Written by Ayu

Ayu Lestari, bergabung di Boombastis.com sejak 2017. Seorang ambivert yang jatuh cinta pada tulisan, karena menurutnya dalam menulis tak akan ada puisi yang sumbang dan akan membuat seseorang abadi dalam ingatan. Selain menulis, perempuan kelahiran Palembang ini juga gemar menyanyi, walaupun suaranya tak bisa disetarakan dengan Siti Nurhalizah. Bermimpi bisa melihat setiap pelosok indah Indonesia. Penyuka hujan, senja, puisi dan ungu.

Leave a Reply

Inilah Bahaya Penularan Micro-Droplet Lewat Bersin dan Pentingnya Lakukan Physical Standing

Jadi Kasus Baru, Waspadai Orang Tanpa Gejala yang Terlihat Sehat tapi Bisa Tularkan Virus