Bagi masyarakat Kota Depok, jalan Margonda merupakan salah satu kawasan yang paling dikenal. Selain aroma kemacetan yang penuh sesak dengan lautan manusia, tempat ini merupakan rumah bagi pusat perbelanjaan, restoran hingga lokasi gaul anak-anak muda Depok. Namun, siapapun pasti mengernyitkan dahi ketika muncul sebuah pertanyaan, “Siapa itu Margonda?”.

Sebagai jantung kota Depok, nama Margonda dipilih karena jasa dari sang pemilik nama tersebut. Kisah heroik pertempuran enam hari setelah peristiwa 10 November 1945 di Surabaya, turut mengerek nama Margonda sebagai salah satu pahlawannnya. Meski penuturan sejarahnya mengenai dirinya masih simpang siur, nama Margonda akan tetap dikenang sebagai pejuang yang bertempur demi kemerdekaan Indonesia.

Menurut tulisan Wenri Wanhar dalam Gedoran Depok: Revolusi Sosial Di Tepi Jakarta 1945-1955 (2012), Margonda menjadi salah satu dari sekian pejuang yang gugur akibat disergap tentara Belanda. Dilansir dari tirto.id, Tubuhnya hancur akibat granat tangan yang diletupkannya sendiri ketika sebuah peluru tepat menembus dadanya. Usia baru menginjak 27 tahun pada saat itu.

Bertempur di front Depok hingga tewas [sumber gambar]
Wajar jika berita mengena dirinya masih simpang siur. Bahkan di kalangan pejuang Depok sendiri. Mirisnya, kematian Margonda sendiri baru diketahui sang istri empat tahun setelahnya. Bahkan, ada versi cerita mayatnya dikuburkan satu liang dengan pejuang lainnya yang gugur. Bukan apa-apa, pertempuran Depok banyak diikuti oleh pejuang yang meninggal tanpa tahu identitas sebenarnya.

Ilustrasi front pertempuran kota Depok [sumber gambar]
Praktis, nama Margonda kini hidup dalam lipatan kenangan orang-orang terdekat dan dokumentasi sejarah. Menurut Yano Jonathans, dalam Depok Tempo Doeloe (2011), Margonda pernah mengikuti Analysten Cursus yang diadakan Indonesiche Chemische Vereniging—sekarang dikenal sebagai Sekolah Menengah Analis Kimia Bogor.

Ilustrasi Margonda pernah mengenyam pendidikan analis kimia [sumber gambar]
Rekam jejak pendidikan sebenarnya cukup mentereng pada zaman itu. Selain sekolah analis kimia, Margonda juga dikabarkan pernah ikut kursus penerbangan di Luchtvaart Afdeeling (bagian penerbangan) Belanda menjelang pan kolonialis tersebut runtuh.

Ilustrasi Margonda pernah ikut sekolah penerbangan Luchtvaart Afdeeling, Belanda [sumber gambar]
Masih menurut catatan Yano Jonathans, Margonda juga pernah bekerja di lembaga pertanian di Bogor demi menafkahi keluarganya. Ia bahkan menjadi pemimpin organisasi Angkatan Muda Republik Indonesia (AMRI) di kota hujan tersebut. Kelompok ini berisikan para pemuda yang mendukung kemerdekaan Indonesia.

Ilustrasi sempat aktif di gerakan kepemudaan [sumber gambar]
Menurut penelusuran Alwi Shahab yang dimuat republika.co.id, Margonda yang bernama asli Margana, lahir dan besar di Bogor. Semasa sekolah, dirinya terkenal sebagai atlet berprestasi. Pada saat revolusi meletus, Margonda turut bertempur bersama dengan Tole Iskandar yang merupakan komandan Laskar Rakyat Depok (kelompok 21) yang akhirnya menggabungkan diri ke dalam Batalion 1 Depok.

Ilustrasi Margonda mengikuti pertempuran [sumber gambar]
Sayang, Tole gugur saat pasukannya baku tembak dengan Belanda di kawasan perkebunan Cikasindu. Berbeda dengan versi sejarah yang lain, Margonda tewas kala pasukannya mencoba menyerang tentara Inggris di Kalibata. Ia gugur bersama dengan Sutomo yang merupakan rekannya sesama anggota BKR. Atas aksi heroiknya itulah, nama Margonda kini diabadikan menjadi nama sebuah jalan yang menjadi jantung bagi Kota Depok.

Meski telah tiada, nama Margonda akan tetap abadi dan menjadi sebutan bagi sebuah jalan. Aksi heroiknya di masa revolusi, turut mewarnai perjalanan sejarah Kota Depok. Terlepas dari informasi sejarah yang minim, epik kepahlawanan seorang Margonda akan tetap ditelusuri sebagai bagian sejarah yang hampir terlupakan oleh era modern.