Setelah sempat viral karena metode ‘cuci otak’ yang menjadi sorotan di kalangan pelaku kesehatan, sosok Mayor Jenderal Dr. dr. Terawan Agus Putranto kembali mencuri perhatian karena diangkat sebagai Menteri Kesehatan di Kabinet Indonesia Maju periode 2019-2024. Sebelumnya, dokter kepala RSPAD Gatot Subroto itu dikenal lewat kasus cuci otak untuk menyembuhkan pasien stroke.

Dilansir dari cnnindonesia.com, metode yang disebut Digital Substraction Angiography (DSA) itu bisa menyembuhkan stroke pasiem selang 4-5 jam pasca-operasi berdasarkan pengalaman dr Terawan. Bahkan, metode pengobatannya disebut telah diterapkan di Jerman dengan nama paten ‘Terawan Theory’. Lantas, seperti apa bentuknya?

Metode kontroversial yang berawal dari penelitian ilmiah dr Terawan

Metode dr Terawan yang berawal dari penelitina ilmiah [sumber gambar]
Berawal dari disertasi dr Terawan bertajuk ‘Efek Intra Arterial Heparin Flushing Terhadap Regional Cerebral Blood Flow, Motor Evoked Potentials, dan Fungsi Motorik pada Pasien dengan Stroke Iskemik Kronis’, kemudian muncul metode yang popuer disebut sebagai ‘cuci otak’. Hal inilah yang di kemudian hari bergulir dan menjadi kontroversi lantaran disorot oleh para dokter dan pelaku kesehatan.

Mengkombinasikan teknik DSA dan injeksi heparin yang kemudian disebut ‘cuci otak’

Dr Terawan di ruangan medis [sumber gambar]
Dalam kinerjanya, dr Terawan memadukan teknik Digital Substraction Angiography (DSA) dan injeksi heparin, yang digunakan sebagai anti-koagulan (pengencer darah), untuk mengobati sekaligus mencegah pembekuan darah. Sementara DSA sendiri, teknik pencitraan lewat sinar X-ray untuk memvisualisasikan pembuluh darah pasien. Oleh dr Terawan, metode ini mempromosikan sebagai ‘cuci otak’, yang juga dikenal sebagai pembilasan otak intra-arterial.

Memiliki banyak pasien dan telah digunakan sejak 2004 silam

Dr Terawan dengan salah satu pasiennya [sumber gambar]
Meski menuai kontroversi, sejumlah nama besar di Indonesia tercatat pernah menjadi pasien dari metode dr Terawan. mantan Wapres Try Sutrisno, mantan kepala BIN Hendropriyono, tokoh pers Dahlan Iskan beserta istrinya, Jaya Suprana, mantan Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyoo (SBY), Aburizal Bakrie, hingga Menteri Pertahanan Prabowo Subianto.

Cuci otak’ ala dr Terawan yang menuai kritikan tajam

Ilustrasi metode dr Terawan [sumber gambar]
Seiring metode dr Terawan yang mulai banyak dikenal, saat itu pula hujan kritikan mulai berdatangan. Salah satunya dari Fritz Sumantri Usman, dokter spesialis saraf. Menurutnya, ada tiga poin yang menjadi titik lemah riset, yakni soal kesesuaian daftar pustaka dengan topik penelitian. “Kalau kita mau membuat suatu tulisan maka daftar pustaka yang harus kita gunakan adalah yang menyokong atau menolak hipotesa kita,” jelasnya, yang dikutip dari cnnindonesia.com.

Diberi sanksi berupa pemecatan oleh Ikatan Dokter Indonesia (IDI)

Setelah menuai kritikan dari sejumlah pihak, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) pun bereaksi. Dilansir dari sainskompas.com, IDI memberikan sanksi berupa pemecatan selama 12 bulan dari keanggotaan, terhitung dari 26 Februari 2018 hingga 15 Februari 2019. Bahkan, lembaga tersebut juga mencabut izin praktek dari dokter bintang dua itu. Keputusan tersebut diambil setelah sidang Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK), yang menilai dr Terawan melakukan pelanggaran etika kedokteran.

BACA JUGA: Fakta Dokter Terawan, Penemu Metode Cuci Otak Terhebat yang Malah Dipecat IDI

Uniknya, metode yang digunakan oleh dr Terawan dianggap sangat ampuh untuk menyembuhkan penyakit oleh para pasiennya, meski hal tersebut pada akhirnya menuai kontroversi dan dianggap melanggar kode etik kedokteran oleh IDI. Terlepas dari semuanya, yang jelas dr Terawan kini telah dipercaya untuk menjadi Menteri Kesehatan di Kabinet Indonesia Maju periode 2019-2024.