Siapapun pasti ingin merasakan hidup yang tenang di masa tuanya. Terlebih jika sosok tersebut pernah berjasa besar terhadap negaranya. Tentu mereka ingin agar kerja kerasnya yang mengharumkan nama bangsa, mendapatkan apresiasi yang setimpal. Namun sayang, hal itu tampaknya seakan menjauh dari kehidupan Suharto. Mantan Atlet Sepeda ini justru harus menderita di usianya yang telah senja.

Diketahui, Suharto merupakan mantan Atlet Sepeda Indonesia yang pernah menyumbangkan emas di Sea Games tahun 1979 silam di Kuala Lumpur, Malaysia. Ia juga meraih medali perunggu pada ajang open turnamen di China, tahun 1978. Yang miris, Suharto harus hidup sebagai tukang becak sederhana. Jasanya mengibarkan merah putih di pentas internasional, kini tenggelam di ingatan masa masa lalunya. Seperti apa kisah haru mantan Atlet satu ini? Simak ulasan berikut.

Sosok atlet yang berprestasi

Sosok atlet yang berprestasi [sumber gambar]
Tak semua orang Indonesia bisa menorehkan tinta emas di dunia olahraga internasional. Dan Suharto adalah salah satu dari sekian juta rakyat tanah air yang sukses meraih juara di ajang luar negeri tersebut. Bersama tiga rekannya saat itu, yakni Sutiono, Munawar Saleh, dan Dasrizal, tim balap sepeda Indonesia mampu mempecundangi pesaingnya dari Malaysia dan Thailand untuk merebut medali emas. Di ajang sebelumnya yaitu SEA Games 1977, ia bahkan menyumbang dua medali perak di kategori jalan raya beregu dan perorangan.

Jadi Atlet balap sepeda yang berawal dari faktor ketidaksengajaan

Ilustrasi atlet sepeda [sumber gambar]
Pada awal 1970-an. Soeharto tak sengaja berkenalan dengan olahraga kayuh itu berkat sang ayah. Ia mencoba mengendarai sepeda pancal yang telah dimodifikasi sedemikian rupa hingga cocok digunakan untuk balapan. Lucunya, ia malah tak mendapatkan izin dari sang ayah saat hendak mengikuti lomba balap sepeda tingkat lokal, yaitu Piala Wali Kota Surabaya. Tak disangka, namanya ternyata berhasil keluar sebagai pemenang.

Bakat sepedanya semakin berkembang di klub profesional

Ilustrasi klub sepeda [sumber gambar]
Tak ingin menyia-nyiakan bakat yang ada, Soeharto pun masuk ke sebuah klub sepeda Porseni Korpri Surabaya. Bersama badan profesional tersebut, ia kerap mengikuti berbagai kejuaraan balap sepeda nasional. Ia juga merupakan rekan seangkatan dengan mantan pebalap nasional Sutarwi dan Sapari yang juga sama-sama berasal dari Jatim. Bakatnya mengayuh pedal sepeda juga mengantarkan Suharto masuk dalam tim SEA Games 1977.

Saya dipanggil bergabung di tim nasional setelah mengalahkan pebalap nasional pada kejuaraan di Jawa Barat sekitar tahun 1975. Kemudian saya masuk tim SEA Games 1977,” ujarnya yang dilansir dari kompas.com

Kerja serabutan karena tak dihiraukan pemerintah

Ilustrasi tukang becak [sumber gambar]
Pada tahun 1981, ia memutuskan gantung sepeda alias pensiun dari dunia balap yang membesarkan namanya. Hal ini disebabkan oleh tuntutan ekonomi yang semakin besar. Terlebih, pemerintah juga tak memberikan janji apa-apa untuknya. Praktis, Suharto pun akhirnya harus kerja serabutan untuk menyambung hidup. Ia pernah menjadi kernet angkot, berjualan ayam kampung dan AC bekas hingga tukang becak yang menjadi profesinya saat ini. Pekerjaan terakhir itulah yang ia tekuni hingga saat ini.

Suharto menngatakan, “Uang dari hasil menarik becak hanya cukup untuk makan keluarga. Kalau ada sisanya kami tabung untuk bayar sewa kamar kos,”  yang dilansir dari kompas.com

Hidup kekurangan dan menderita sakit

Sakit-sakitan akibat hernia [sumber gambar]
Bersama sang istri, Suharto hidup sederhana di sebuah kamar kos di kawasan Kebon Dalem VII, Surabaya yang sudah ditempati lebih dari 15 tahun. Ia sering hidup berpindah dari satu kos ke kos lainnya. Bahkan belakangan ini,Suharto terpaksa berhenti dari aktivitasnya menarik becak lantaran penyakit hernia yang dideritanya. Mirisnya, ia bahkan harus mengikat perut dengan ban dalam bekas untuk menahan rasa nyeri yang timbul dari hernia yang dideritanya. Beruntung, KONI Jatim akan berupaya membantu Suharto untuk menyembuhkan penyakitnya itu.

Miris memang. Atlet yang dulunya dipuja saat berjaya, kini malah ditelantarkan saat sudah tak berdaya. Sang atlet pun harus hidup kekurangan di masa senjanya. Semoga ke depannya, pemerintah lebih peka dan memberikan perhatian lebih pada pahlawan olahraga yang mengharumkan nama bangsanya.