Perputaran sejarah yang terus bergulir dari masa ke masa, menyisakan banyak cerita heroik dan epik dari sosok kepahlawanan. Salah satunya adalah M.Pardi. Sebagai satu di antara sedikit anak muda Indonesia yang dilantik menjadi perwira oleh Koninkijke Marine (K.M)—satuan Angkatan Laut di zaman Hindia Belanda, M.Pardi sukses menorehkan sejarah dengan tinta emas.

Berkat perjuangan, ide serta tangan dinginnya, Indonesia mampu memiliki satuan Angkatan Laut yang mandiri pada saat itu. Meski demikian, ia meniti karirnya dari posisi paling bawah. Bukan sebagai opsir, melainkan dipekerjakan oleh satuan Angkatan Laut Belanda sebagai pelayan dan Koki. Seiring berjalannya waktu, karirnya pun melesat naik hingga dianugerahi sebagai bapak ilmu pelayaran. Bagaimana perjuangannya sebagai Angkatan Laut Indonesia? Simak ulasan berikut.

Dikenal sebagai pelaut yang berpengalaman

Ilustrasi TNI Angkatan Laut Indonesia [sumber gambar]
Untuk soal kelautan, sosok M. Pardi terhitung aktif sejak zaman penjajahan Belanda. Ia bahkan berhasil mengenyam pendidikan perwira laut Koninkijke Marine dan mengabdi untuk militer kerajaan Belanda. Saat Jepang masuk pada 1942, ia mendapat kepercayaan bergiat di semacam Jawatan Pelayaran yang bernama Gun Sei Kanbu Kaiyi Sokyoko. Berkat dirinya, berdirilah Kooto zeh Inyu Yoseiso di Jakarta, Tegal, Semarang dan Cilacap yang nantinya berubah nama menjadi Sekolah Pelayaran Tinggi (SPT).

Berperan membentuk embrio Angkatan Laut Indonesia

Ilustrasi pembentukan awal Angkatan Laut Indonesia [sumber gambar]
Setelah Indonesia merdeka, sidang Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) memutuskan pembentukan Komite Nasional Indonesia (KNI), Partai Nasional Indonesia (PNI) dan Badan Keamanan Rakyat (BKR) pada 22 Agustus 1945. Para tokoh pelaut termasuk dirinya, kemudian mendirikan BKR Laoet (Cikal bakal TNI AL) pada 10 September 1945. M.Pardi dipilih sebagai pimpinan yang didampingi oleh Martadinata, Adam, Darjaatmaka, R. Surjadi, Oentoro Koesmardjo. BKR Laoet kemudian hari menjadi TKR Laoet, lalu jadi Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) dan kini TNI AL.

Dekat dengan sosok Jhon Lie

Dekat dengan sosok Jhon Lie [sumber gambar]
Jhon Lie yang dikenal sebagai penyelundup senjata untuk pasukan republik, ternyata pernah menghadap M.Pardi sebelum masuk menjadi anggota ALRI. Ia menugaskan sosok yang telah menjadi Pahlawan nasional itu ke Cilacap, untuk mempersiapkan pelatihan perwira remaja, membuat alat penyapu ranjau, keahlian hitung pasang surut hingga merekrut pemuda potensial.

Dirikan banyak akademi kelautan

Ilustrasi Akademi Pelaut Indonesia [sumber gambar]
Tak hanya membidangi kelahiran TNI AL, M.Pardi juga merintis pendirian Akademi Ilmu Pelayaran (AIP), tak lama setelah pensiun dari kemiliteran. Saat itu, dirinya bekerja di Jawatan Pelayaran yang berkedudukan di Yogyakarta. Tak hanya di Yogyakarta, M.Pardi juga berhasil dirikan AIP Jakarta, pada 1951 dan Sekolah Pelayaran Semarang (SPS) di Jl. Siwalan No.30, Semarang, Jawa Tengah. Namanya kemudian berubah menjadi Sekolah Pelayaran Menengah atau SPM Semarang. Di sinilah para calon pelaut bangsa Indonesia dididik dan ditempa agar menjadi sosok bahari sejati. Berkat usahanya, Indonesia pun menyematkan gelar sebagai Bapak dari ilmu pelayaran pada M. Pardi.

Meski sosoknya tak banyak dikenal dalam buku sejarah, M.Pardi merupakan salah satu tokoh sejarah yang membidangi kelahiran TNI Angkatan Laut. Berkat dirinya pula, muncullah generasi penerus yang handal agar negara ini tetap dikenal sebagai bangsa pelaut yang handal.