Nasib dan urusan takdir, memang menjadi rahasia Tuhan yang paling misterius dalam kehidupan umat manusia. Dari yang dulunya sempat merasakan hidup susah dan merana, siapa sangka jika kini suratan takdir telah mengubah kehidupan kelamnya menjadi sukses. perjalanan hidup nan berliku ini dialami oleh Leonardus Tumuka.

Anak seorang pencari ikan dari Suku Kamoro itu, berhasil menjadi Doktor pertama dari keturunan kelompoknya di sebuah universitas luar negeri. Berkat penelitiannya yang mengangkat tema dan kehidupan sosial dari Suku Kamoro, ia kini diangkat sebagai konsultan di PT Freeport Indonesia. Padahal, Leonardus dulunya merupakan sosok yang hidup serba kekurangan. Kok bisa ya sukses ya?

Kehidupan keras yang menempa hidupnya sejak kecil

DR Leonardus Tumuka akrab dengan kesusahan saat masih kecil [sumber gambar]
Bergumul dengan kekurangan dan kemelaratan, membuat Leo kecil harus mampu bertahan dalam ujian hidup tersebut. Dilansir dari salampapua.com, Ia harus bekerja keras lantaran kedua orang tuanya sakit-sakitan. Dirinya yang saat itu berusia sekitar 7-8 tahunan, tinggal di Gorong-Gorong lantaran ia dan saudaranya yang lain dianggap tak memiliki keluarga.

Sekolah yang sempat tertunda meski telah memenuhi syarat

Ilustrasi Suku Kamoro [sumber gambar]
Selain berjuang untuk kedua orang tua dan dirinya, Leo juga harus membantu saudara-saudara lainnya yang berjumlah sembilan orang. Sebagai keturunan dari Suku Kamoro, ia menekuni profesi sebagai pencari ikan di sungai-sungai. Meski dirasa berat untuk anak seusianya, Leo tetap ikhlas menjalani demi menjaga agar dapur keluarganya tetap mengepul. Alhasil, pendidikannya sempat terhambat meski usianya telah memasuki kecukupan untuk mengenyam pendidikan.

Kehilangan mata pencaharian sebagai pencari ikan

Suku Kamoro bermatapencaharian sebagai pencari ikan [sumber gambar]
Belum habis perjuangannya membantu keluarga, cobaan yang lebih berat datang menimpa dirinya. Dilansir dari salampapua.com, ia kehilangan pekerjaannya sebagai pencari ikan lantaran sungai yang biasa ia tuju lenyap seketika. Hal ini disebabkan adanya penggalian dari PT Freeport untuk membuat bendungan di sekitar Gorong-Gorong hingga di samping Bandara Mozes Kilangin Timika. Secara otomatis, sungai yang dulu penuh dengan air dan ikan, hilang tak berbekas. Leo pun merasa frustasi atas kejadian itu.

Terpanggil untuk melanjutkan sekolah

Ilustrasi anak sekolah Papua [sumber gambar]
Di tengah keluh kesahnya, ia berdo’a pada Tuhan agat diberikan jalan keluar. Tak disangka, ia menerima panggilan dari guru SD Inpres Koperpoka untuk bersekolah pada 1992. Dilansir dari liputan6.com, ia melanjutkan pendidikan di SMP YPPK Santo Bernadus Timika hingga selesai pada 2002. Bersama 72 anak Papua lainnya, ia mendapat beasiswa dari Direktorat Pendidikan Menengah Umum Kemendikbud untuk melanjutkan pendidikan di SMA Negeri 2 Madiun, Jawa Timur. Leo juga berhasil meraih gelar sarjana di Jurusan Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik pada 2009 Universitas Pasundan. Dari sinilah, Leo mulai tertarik menuntut ilmu hingga ke jenjang yang lebih tinggi.

Raih gelar doktor dan jadi salah satu orang penting di PT Freeport Indonesia

Lulusan Filipina dan raih gelar Doktor [sumber gambar]
Berkar prestasinya, Leo mendapat bantuan beasiswa dari Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme dan Kamoro (LPMAK). Ia pun akhirnya melanjutkan studi strata dua pada Universitas Katolik Soegiyapranoto Semarang hingga selesai pada 2011. Dilansir dari salampapua.com, pria kelahiran Kampung Koperapoka, Mimika, Papua, 20 Juli 1984 itu, akhirnya berhasil menyelesaikan pendidikan doktoral pada University of the Philipines Los Banos, Filipina, tahun 2015 silam. Tak hanya itu, karya tulisnya yang mengangkat masalah sosial Suku Kamoro, menjadikan dirinya dipercaya sebagai Konsultan pada Departemen Community Affairs PT Freeport Indonesia di Kuala Kencana, Timika.

Nasib yang sejatinya memang telah menjadi sebuah misteri dalam hidup manusia, tak akan kita ketahui tanpa berupaya untuk menyingkapnya dengan cara berusaha keras. Apa yang dilakukan oleh sosok Leonardus Tumuka di atas, menjadi sebuah bukti nyata. Bahwa kesuksesan itu bisa dinikmati oleh siapapun, asalkan mau dan terus berusaha tanpa kenal lelah atau putus asa.