Situasi dunia yang masih berjuang melawan wabah virus corona (Covid-19), rupa-rupanya mengalihkan perhatian banyak negara soal Laut Cina Selatan (LCS) yang menjadi sengketa banyak negara. Seperti yang dilakukan oleh Cina baru-baru ini, negeri Tirai Bambu itu kembali menunjukkan Aktivitasnya di sana.

Salah satu hal yang dilakukan adalah dengan melakukan pengerukan sumber daya alam secara ilegal. Hal ini pun kembali membuka perhatian dunia soal sengketa Laut Cina Selatan yang sempat mengemuka beberapa waktu. Bahkan, Malaysia pun dikabarkan ikut terseret dalam upayanya melawan dominasi Cina di sana.

Langkah Malaysia yang ‘melawan’ Cina di Laut Cina Selatan

Beberapa waktu lalu, Malaysia terlibat sebuah ‘insiden’ di Laut Cina Selatan lantaran kapal eksplorasi yang disewa oleh perusahaan migas Petronas sempat ‘beradu’ dengan kapal survei Cina, Haiyang Dizhi 8. Keduanya sama-sama beroperasi di wilayah yang sejatinya masuk sebagai zona ekonomi eksklusif Malaysia. Hal tersebut kemudian dipandang oleh Amerika Serikat sebagai bentuk ‘intimidasi’.

Kapal pengeboran lepas pantai yang disewa Malaysia, West Capella [sumber gambar]
Dilansir situs Asia Maritime Transparency Initiative, kapal Kapal West Capella milik perusahaan pengeboran laut Inggris tersebut disewa oleh pihak Petronas untuk melakukan eksplorasi di dua ladang minyak lepas pantai, yakni Arapaima-1 dan Lala-1. Sementara itu, kapal penjaga pantai Cina diketahui kerap melakukan pengawasan terhadap kegiatan yang dilakukan oleh West Capella.

Kekuasaan Cina atas Laut Cina Selatan membuatnya bersitegang dengan Vietnam

Sengketa Laut Cina Selatan tak hanya dialami oleh Malaysia saja. Vietnam pun merasa punya hak dan mulai mengambil sikap terhadap dominasi Cina di wilayah tersebut. Pemerintah Vietnam pun mendorong nelayan di negaranya untuk tetap melaut di sekitar kepulauan Paracel yang kaya akan biota laut seperti ikan, meski sebelumnya telah dilarang oleh Cina.

Kapal penjaga pantai Cina mencoba menghalau kapal nelayan Vietnam [sumber gambar]
Sebelumnya, Cina telah mengeluarkan larangan kegiatan penangkapan ikan di wilayah paralel ke-12 yang termasuk daerah di dekat Scarborough Shoal, Kepulauan Paracel, dan Teluk Tonkin. Kebijakan tersebut diambil guna melestarikan cadangan biota laut yang berada di sana. Oleh Vietnam, keputusan Cina ini dianggap secara sepihak dan dinilai melangkahi kedaulatan laut negara mereka.

Melakukan pengerukan sumber daya alam secara ilegal

Manuver Cina di kawasan Laut Cina Selatan baru-baru ini berhasil ditangkap oleh Satelit Sentinel Hub milik badan antariksa Eropa (ESA). Dilansir dari Forbes (17/05/2020), ada sekitar 40 kapal keruk milik Cina yang beroperasi di sana dikejar-kejar oleh aparat penegak hukum Taiwan. Hal tersebut terjadi di suatu wilayah yang berada di ujung utara Laut Cina.

Citra satelit yang dikeluarkan oleh Sentinel Hub [sumber gambar]
Berdasarkan citra satelit, terlihat kapal-kapal cina melakukan pengerukan dan menyedot ratusan ton pasir. Presiden Masyarakat Margasatwa dan Alam Taiwan, Jeng Ming-shiou, berdasarkan laporan media lokal Taiwan, Taipei Times mengatakan, kegiatan tersebut telah dilakukan selama beberapa tahun dengan hasil kerukan lebih dari 100.000 ton per hari. Jika dilakukan dengan banyak kapal, jelas ini merupakan kegiatan ilegal yang luar biasa.

Angkatan Laut AS mulai bergerak ke wilayah Laut Cina Selatan

Angkatan Laut Amerika Serikat rupa-rupanya ikut menaruh perhatian terhadap Laut Cina Selatan. Terlebih setelah adanya sengketa antara Malaysia dan Tiongkok di sana, AL AS langsung merespon dengan mengirimkan dua kapal perangnya, yakni kapal kargo kering kelas Lewis USS Montgomery (LCS 8) dan kapal Clark USNS Cesar Chavez (T-AKE 14), dengan melakukan patroli di wilayah sengketa.

Kapal tempur USS Montgomery (LCS 8) tampak berpatroli di sekitar kapal pengeboran West Capella [sumber gambar]
Pihak Angkatan Laut AS sendiri mengungkapkan, kehadiran mesin perangnya di sana tak lain sebagai bentuk kepeduliannya terhadap kebebasan navigasi, transparansi, dan supremasi secara hukum. Sebelumnya, AL AS sempat mengirim kapal serbu amfibi USS America (LHA-6), kapal perusak kelas Arleigh Burke USS Barry (DDG- 52), dan kapal penjelajah rudal berpemandu kelas Ticonderoga USS Bunker Hill (CG-52) ke Laut Cina Selatan.

BACA JUGA: Menilik Sangarnya Pangkalan Militer China yang Berpotensi Ancam Wilayah NKRI Lewat Natuna

Wilayah perairan di Laut Cina Selatan memang dikenal memiliki sumber daya alam (SDA) yang melimpah seperti ikan dan kandungan gas. Selain itu, posisinya yang strategis sebagai jalur perdagangan, memiliki nilai miliaran dolar dari transportasi maritim global. Tak heran jika negara-negara besar seperti Cina dan Amerika Serikat terlihat berlomba-lomba menunjukkan kekuatannya di sana. Indonesia pun sebaiknya juga mulai ikut mempertahankan haknya di sana.