Kendaraan bermotor yang jumlah semakin bertambah dari hari ke hari, membuat wilayah DKI Jakarta kini terkepung dengan polusi udara. Dilansir dari news.detik.com, ibu kota Indonesia itu sempat menempati urutan pertama sebagai kota dengan polusi paling parah berdasarkan aplikasi pemantau kualitas udara AirVisual. Alhasil, warga pun disarankan agar menggunakan masker saat berakftifitas di luar ruangan.

Tak hanya soal polusi udara yang belakangan menjadi perbincangan hangat. Beberapa masalah lain seperti tingkat kemacetan hingga suasana yang kumuh, menjadi perhatian serius yang harus segera ditangani. Jika tak segera di atasi, tentu masyarakat di dalamnya yang akan terancam. Tak hanya dari sisi kesehatan, tapi juga membuat Jakarta nantinya tak layak untuk ditinggali.

Sampah yang menumpuk hingga mendapat kritik dari aktor Leonardo DiCaprio

Kepadatan penduduk yang ada di Jakarta, tentu berimbas dengan semakin banyaknya sampah yang dihasilkan. Salah satunya tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang yang sempat disorot oleh aktor Hollywood, Leonardo DiCaprio. Dilansir dari cnnindonesia.com, Pemeran film Titanic itu menyoroti bahaya efek rumah kaca dari produksi sampah plastik yang kini ditampung di TPST tersebut.

View this post on Instagram

#Regram #RG @everydayclimatechange: This is Elisabetta Zavoli @elizavola taking over the @everydayclimatechange Instagram account this week and sharing my documentary work of the ‘Landfill midwife’ project. . Some men, from Cikiwul village, catch up fishes in the highly polluted muddy waters that percolate from Bantar Gebang biggest dump zone. Banter Gebang landfill receives the waste of about 15 millions people living in Jakarta. Trash pickers need the litter to make a living and the Indonesian society needs trash pickers to recycle all possible materials that otherwise would be just discarded. . Indonesia, is ranked the second largest plastic polluter in the world behind only China with reports showing that the country produces 187.2 million tonnes of plastic waste each year of which more than 1 million tons leaks into the ocean. Recent studies discovered that as plastics decay, they emit traces of methane and ethylene, two powerful greenhouse gases, and the rate of emission increases with time. The emissions occur when plastic materials are exposed to ambient solar radiation, whether in water or in the air, but in air, emission rates are much higher. Results show that plastics represent a heretofore unrecognized source of climate-relevant trace gases that are expected to increase as more plastic is produced and accumulated in the environment. Polyethylene, used in shopping bags, is the most produced and discarded synthetic polymer globally and was found to be the most prolific emitter of methane and ethylene. It’s estimated that over 8 billion tons of virgin plastic have been produced since 1950, making plastic one of the largest man-made materials on the planet, behind steel and cement. Of that volume, more than half was produced in the last 16 years, amid a global boom in single-use, disposable plastic. Current annual production levels are expected to double in the next 20 years. #everydayclimatechange #climatechange #globalwarming #climatechangeisreal #environment #waste #plasticwaste #plastics #dumpsite #midwife #health #garbage #trash #plasticpollution #Indonesia #Jakarta #childbirth #children #mothers #pregnantwomen

A post shared by Leonardo DiCaprio (@leonardodicaprio) on

Dalam akun Instagram pribadinya, DiCaprio mengatakan bahwa Indonesia menyumbang polusi plastik tertinggi kedua setelah Cina. “Indonesia berada di peringkat kedua polusi plastik terbesar di dunia setelah Cina dengan laporan menghasilkan 187,5 ton sampah plastik per tahun, sekitar 1 juta ton di antaranya bocor mencemari laut,” ujar akun Instagram @leonardodicaprio pada 15 Maret lalu.

Kemacetan sehari-hari yang merepotkan warga

Menurut The TomTom Traffic Index, Jakarta menempati posisi ke-7 sebagai ibu kota termacet dari 403 kota besar yang ada di belahan dunia di tahun 2018. Sebelumnya pada 2017, bahkan menempati urutan ke-4. Meski mengalami penurunan tingkat kemacetan di tahun 2018, tentu saja hal ini masih perlu menjadi perhatian serius agar kualitasnya terus menerus diperbaiki.

macet jakarta
Ilustrasi kemacetan di Jakarta [sumber gambar]
Dikutip dari news.detik.com, setidaknya ada beberapa faktor penurunan tingkat kemacetan versi Dishub DKI, seperti Beroperasinya beberapa underpass dan flyover yang dibangun, kebijakan ganjil genap yang diperluas area dan diperpanjang waktunya, hingga bergulirnya program JakLingko yang merangkul angkutan umum dan Membuka rute-rute baru untuk area layanan TransJakarta.

Tingginya polusi udara akibat kendaraan bermotor

Setelah kemacetan, polusi udara menjadi ancaman lain yang tak kalah pentingnya. Bukan apa-apa, kualitas udara yang buruk bakal menimbulkan hal yang negatif pada masyarakat, utamanya dari sisi kesehatan. Dilansir dari megapolitan.kompas.com, buruknya kualitas udara ibu kota berasal dari kendaraan bermotor sebanyak 47 persen, power plant industri , domestik, dan debu jalanan (11 persen), Sementara itu, pembakaran sampah menyumbang 5 persen, dan proses konstruksi 4 persen.

kabut jalarta
Kabut polusi di Jakarta yang sangat mengkhawatirkan [sumber gambar]
Melihat kenyataan di atas, jelas sudah bahwa polusi udara telah menjadi ancaman berikutnya yang harus diwaspadai oleh masyarakat yang tinggal di wilayah DKI Jakarta. Bahkan menurut hasil penelitian kerjasama antara Komite Penghapusan Bensin Bertimbal (KPBB) dan United Nations Environment Programme (UNEP) menyebutkan, total masyarakat telah mengeluarkan biaya sebesar Rp 51,2 triliun hanya untuk mengobati penyakit yang timbul akibat pencemaran udara.

BACA JUGA: Mengenali Detik-detik Prediksi Jakarta Utara yang Bakal Hilang dari Peta di Tahun 2050

Tak cukup jika pemerintah sendirian yang harus turun tangan untuk menyelesaikan masalah serius di atas. Masyarakat juga perlu dilibatkan agar bisa membantu mencari solusi yang efektif, demi kelangsungan nasib Jakarta di masa depan. Tak harus langsung dengan sesuatu yang besar, tapi bisa dimulai dari hal-hal kecil yang bisa diterapkan secara konsisten. Kira-kira, kamu kasih saran apa buat mengatasi masalah di atas Sahabat Boombastis?