Selama ini, masyarakat Indonesia hanya mengenal B.J Habibe sebagi pencipta pesawat terbang paling masyhur di Tanah Air. Namun jangan salah. Ternyata masih ada sosok lain yakni Nurtanio Pringgoadisurjo, yang juga menjadi pionir kedirgantaraan Indonesia. Jauh sebelum masa B.J Habibie yang merancang pesawat semacam N250 pada tahun 1995.

Berkat ketelitian serta kejeniusan dirinya, Nurtanio berhasil membuat pesawat terbang pertama di Indonesia yang menggunakan metal di keseluruhan badan. Moda transportasi udara yang dinamakan Sikumbang tersebut, merupakan sebuah pesawat tempur dengan spesifikasi antigerilya. Hobi dengan dunia pesawat semenjak kecil, tak salah bila ia kemudian disebut sebagai perwira penggila pesawat.

Pemuda sederhana yang berminat dengan peswat udara

Nurtanio yang lahir di Kandangan, Kalimantan Selatan, 3 Desember 1923, semenjak kecil memang telah menggilai pesawat terbang. Dalam buku Nurtanio: Perintis Industri Pesawat Terbang Indonesia yang dilansir dari cnnindonesia.com, ia kerap mengajak sang adik, Nurprapto, pergi ke Lapangan Terbang Kalibanteng Semarang (kini Bandara Achmad Yani) untuk melihat pesawat pada akhir 1930-an.

Nurtanio penggila pesawat terbang sejak kecil [sumber gambar]
Kebiasaan itu membuat dirinya semakin terobsesi pada dunia penerbangan hingga menginjak di sekolah menengah tinggi teknik, Surabaya. Saat bersekolah di tingkat inilah, Nurtanio bertemu dengan kawan-kawannya yang kelak menjadi pionir penerbangan modern Angkatan Udara Indonesia.

Dirikan perkumpulan penghobi pesawat terbang

Di masa kekuasaan Jepang, Nurtanio yang saat itu tengah menempuh sekolah menengah tinggi teknik atau Kogyo Senmon Gakko di Sawahan, Surabaya, Jawa Timur, sempat mendirikan sebuah perkumpulan yang dinamakan Junior Aero Club. Komunitas penghobi pesawat itu, banyak mendiskusikan tentang bagaimana teknik pembuatan pesawat model yang merupakan dasar-dasar Aerodinamika.

Nurtanio dan pesawat Si Kunang [sumber gambar]
Di sana pula, ia bertemu dengan R.J Salatun dan seorang guru olahraga bernama Iswahyudi. Mereka bertiga sangat menggemari dunia penerbangan. Saat itu, Nurtanio dan kawan-kawan banyak terinspirasi dari majalah kedirgantaraan Vliegwereld yang berbahasa Belanda.

Masa Kemerdekaan menjadi awal karir Nurtanio membangun kekuatan udara

Awal-awal masa kemerdekaan Indonesia menjadi jalan bagi Nurtanio untuk membangun peswat impiannya. Bersama kawannya, R.J Salatun, Nurtanio bergabung dengan Angkatan Udara di Yogyakarta yang dipimpin oleh Suryadi Suryadarma. Kala itu, AU Indonesia masih bernama TKR Jawatan Penerbangan. Di satuan baru tersebut, Nurtanio kebagian tugas merancang sekaligus mewujudkan kekuatan udara Indonesia dalam bentuk peswat terbang. Hasilnya, sebuah glider yang bernama NWG-1 (Nurtanio Wiweko Glider), berhasil dibuat.

Nurtanio dengan pesawat buatannya [sumber gambar]
Nurtanio mengubah sepenuhnya dari pesawat yang sudah ada. Pesawat tua disesuaikan dan disempurnakan menjadi lebih modern. Bukan sekadar pesawat yang bisa terbang, tapi bisa aerobatik,” kata Suharto, kawan Nurtanio lulusan Institut Teknologi Bandung dan Universitas Teknologi Braunschweig Jerman, yang dilansir dari cnnindonesia.com.

Berhasil ciptakan peswat tempur pertama yang berbahan full metal

Pesawat NWG-1 (Nurtanio Wiweko Glider) yang pertama kali dibuat oleh Nurtanio, menggunakan 100 persen kandungan lokal Indonesia. Dari sinilah, cikal bakal dirinya mulai banyak menghasilkan produk-produk udara asli anak negeri. Salah satu yang paling membanggakan adalah, hadirnya Pesawat antigerilya Sikumbang yang seluruh badannya menggunakan metal. Dilansir dari cnnindonesia.com, pesawat buatan Nurtanio itu mendapat sorotan internasional dan dimuat di majalah penerbangan Amerika, Inggris, Jepang, sampai Filipina. Sikumbang bahkan masuk ke dalam jurnal publikasi tahunan penerbangan dunia, Jane’s All the World’s Aircraft.

Nurtanio berhasil ciptakan Sikumbang [sumber gambar]
Bangsa yang merdeka harus memiliki pesawat buatan sendiri untuk keperluan sipil dan militer. Jangan bergantung pada bangsa lain, bangun kekuatan udara sendiri,” kata Nurtanio yang dilansir dari cnnindonesia.com.

Lulusan luar negeri yang akhirnya gugur di dalam pesawat buatan asing

Dilansir dari tirto.id, Nurtanio yang sempat mengikuti pendidikan Far Eastern Air Transport Incorporated (FEATI), di Manila, Filipina. Sepulangnya dari sana, ia menerima dana bantuan dari Polandia sebesar US$ 1,5 juta untuk digunakan sebagai eksperimen Depot Penyelidikan, Percobaan dan Pembuatan AURI.

Ilustrasi pesawat Nurtanio jatuh [sumber gambar]
Dilansir pula dari cnnindonesia.com, Nurtanio berhasil membuat pesawat latih Belalang, pesawat olahraga Kunang, pesawat penyemprot hama Kinjeng, helikopter ‘kursi terbang’ Gyrocopter Kolentang, dan pesawat serbaguna Gelatik. Sayang prestasi itu harus terhenti lantaran Nurtanio gugur dalam kecelakaan pesawat. Kala itu, ia menerbangkan Aero 45 atau Arev buatan Cekoslowakia yang telah dimodifikasi.

Tak banyak memang yang mengenal sosok Laksamana Muda Udara (Anumerta) Nurtanio Pringgoadisuryo. Selain berhasil menciptakan pesawat mandiri bagi Indonesia, ia juga menjadi peletak dasar-dasar penerbangan modern bagi Angkatan Udara Indonesia. Selamat jalan pahlawan bangsa.