Percayalah, orang-orang jujur pasti masih ada di dunia ini. Tapi ya gitu, jumlahnya sudah nggak banyak bahkan bisa dihitung dengan jari. Karenanya, merupakan hal menakjubkan jika bisa menemukan orang-orang jujur di zaman yang sudah bisa dikatakan mulai edan ini.

Karena itu menjadi sangat istimewa jika kita menemukan anak-anak yang sudah berani jujur bahkan bertanggung jawab. Ya meski mereka masih lugu dan polos, ternyata beberapa kisah kejujuran yang mengetuk nurani justru datang dari para bocah itu. Nah, berikut ini deretan kisah kejujuran anak-anak mungkin akan membuatmu menitikkan air mata. Yuk simak.

Alif, Bocah SD yang Berani Laporkan Contek Massal di Sekolahnya

Masih ingat contekan massal saat Ujian Nasional di SDN Gadel II Surabaya yang menghebohkan pada tahun 2011? Ya, bocah SD bernama Alifa Achmad Maulana yang melaporkan pada publik contekan massal di sekolahnya. Contekan yang rupanya melibatkan oknum wali kelas sebagai perancang skenario itu sempat membuat Alif dan ibunya diusir dari kampung. Ia pun sempat mendatangi KPAI untuk meminta perlindungan pada 30 Juni 2011 silam.

Alif [image: source]
Warga dan orang tua murid lainnya melakukan demo karena Alif membongkar kasus pencontekan besar-besaran. Mereka menganggap Alif dan keluarganya membesar-besarkan masalah dan mencoreng nama baik sekolah maupun desa karena pelaporan kecurangan. Beruntung Alif tetap kuat dan ia bahkan mendapat beasiswa SMP dan SMA di sekolah yang baik. Saat ditanya tentang keberaniannya mengungkap penyontekan, Alif mengatakan, “saya suka tidak mencontek”. Pun saat ditanya apa cita-citanya, ia mengatakan mau menjadi apa saja yang penting jujur dan berguna.

Kisah Remaja Jujur yang Diangkat Anak TNI AD

Dulu, tepatnya 15-17 September 1997 terjadi kerusuhan berbau SARA di sekitaran ibukota Sulawesi Selatan. Tokoh-tokoh dan rumah kepunyaan warga keturunan dijarah dan dibakar. Kala itu Panglima Kodam Wirabuana dijabat oleh Mayjen Agum Gumelar. Saat patrol, Agum melihat sesosok pemuda hanya duduk di atas becaknya. Sementara ribuan orang lain sibuk menjarah toko-toko yang terbakat.

Mustafa [image: source]
Penasaran, Agum yang kala itu tidak memakai baju seragam lantas bertanya pada pemuda itu mengapa tak ikut menjarah. “Itu perbuatan haram. Saya tida pernah diberi makan barang haram oleh orang tua saya” tutur pemuda yang belakangan diketahui bernama Mustafa.

Agum pun kagum dan memberi uang Rp 20.000 yang awalnya ditolak oleh Mustafa. Setelah didesak banyak orang, baru Mustafa mau menerimanya. Saat beranjak dewasa, Mustafa rupanya pindah dari kampunya Janeponto untuk melanjutkan kuliah di Makassar. Melihat hal itu, Agum pun mengangkat Mustafa sebagai anak angkat dan tinggal di rumah dinas Pangdam.

Di tahun 1998, Agum pindah ke Jakarta. Namun kabar duka datang, Mustafa sudah meninggal dunia lantaran sakit-sakitan dan tak mempunyai biaya berobat. Sekali lagi, Mustafa tak memberitakan hal ini pada Agum. Agum pun melayat ke Janeponto, dan saat itu juga secara tak resmi ribuan warga mengangkat Mustafa sebagai pahlawan kejujuran dari Janeponto. Kisah nyata ini dituliskan Agum dalam biografinya Jendral Bersenjata Nurani terbitan Pustaka Sinar Harapan pada tahun 2004 silam.

Masih SD, Seorang Anak Tulis Memo Pertanggungjawaban

Saat melakukan kesalahan dan tidak ada orang yang tahu, orang-orang umumnya akan memilih jalan pura-pura tak melakukan. Lantas ya lari dari tanggung jawab. Tapi berbeda dengan Zhafran, bocah murid SD yang viral sebab kisah inspiratifnya di awal tahun 2018 ini. Diceritakan bahwa Zhafran tidak sengaja jatuh ketika bersepeda dan tak sengaja menggores bumper mobil yang sedang parkir di pinggir jalan. Sebab takut dan sedih atas perbuatannya, bocah itu pulang dan menangis sambil minta maaf pada orang tuanya.

Memo Zhafran [image: source]
Ibunya pun menyuruh Zhafran meminta maaf pada si pemilik mobil namun tak kunjung bertemu. Akhirnya, anak ini pun menulis memo yang berisi kesungguhan hatinya meminta maaf dan pernyataan akan bertanggung jawab. “maaf ya Pak, mobil Bapak tergores saat saya jatuh dari sepedah. Ini no. hp bunda saya 0813XXXXXXXX. Zhafran” tulisnya.

Kejujuran Bocah Penjual Tisu di Jakarta

Terjadi di jembatan penyeberangan Setia Budi, Jakarta, dua sosok bocah berusia 8 tahun menjadi perbincangan netizen. Pasalnya, keduanya yang memang berjualan tisu ternyata memiliki kejujuran yang amat menginspirasi. Awalnya, seorang wanita menghampiri membeli tisu seharga Rp 2.500, sayangnya bocah-bocah itu tidak memiliki uang kembalian sejumlah Rp 7.500.

Ilustrasi [image: source]
Si pembeli bermaksud mengikhlaskan uang kembaliannya untuk bocah tersebut dan berlalu. Namun salah satu bocah berinisiatif mencari uang tukar agar bisa mengembalikan uang. Setelah dapat, si bocah pun berlarian mengembalikan uang si pembeli meski cuma Rp 4 ribu rupiah. Tidak hanya itu, si bocah pun berkata “maaf mbak, cuma ada empat ribu, nanti kalau lewat sini lagi saya kembalikan”. Sontak si pembeli pun terkejut, sebab melihat bocah yang begitu jujurnya di tengah kerasnya kehidupan di Jakarta.

Meski dilakukan oleh anak-anak yang masih belia, keempat kisah di atas sungguh luar biasa. Demi kejujuran, bocah-bocah di atas bahkan rela menapaki jalan sulit mulai dari kekurangan uang hingga terusir dari lingkungan sekitar. Yang begini nih, patut banget diteladani.