Salah satu kunci kesuksesan dalam hidup, bisa diraih dengan jalan bekerja keras dengan cerdas. Tak hanya itu, pintar memanfaatkan peluang yang ada, juga bisa menjadi bekal yang bagus untuk mengangkat karir. Seperti yang dilakukan oleh aktor laga Indonesia, Iko Uwais. Sempat bekerja sebagai sopir biasa, siapa sangka jika ia akhirnya sukses menembus jagar perfilman dunia seperti Hollywood.

Namun, bukan perkara mudah bagi seorang Iko Uwais untuk menancapkan kukunya di kancah perfilman hingga tataran internasional. Butuh waktu lama baginya, dengan serangkaian perjalanan hidup yang terbilang cukup keras pada saat itu. Hingga ia sukses seperti saat ini, tak lain adalah buah dari kerja keras serta dukungan dari keluarga dan teman-temanya. Kisahnya berikut ini, tentu bisa kita jadikan sebagai pelajaran hidup yang inspiratif.

Tekuni pencak silat sedari muda

Pria bernama asli Uwais Qorny ini, semenjak kecil telah mengenal baik seni ilmu beladiri pencak silat. Sebagai sosok yang besar di lingkungan Betawi, ia tekun berlatih di bawah asuhan sang paman yang memiliki perguruan bela diri bernama Tiga Berantai dengan aliran Silat Betawi. Sekian lama menekuni pencak silat, Iko telah mengoleksi beberapa kejuaraan bela diri. Seperti posisi ketiga pada turnamen pencak silat DKI Jakarta tahun 2003, dan menjadi yang terbaik di kejuaraan Silat Nasional dalam kategori demonstrasi pada 2005.

Sempat ingin menjadi pemain bola

Selain menekuni pencak silat, Iko ternyata sangat gandrung terhadap sepak bola. Ya, olahraga populer tersebut menjadi salah satu yang ia tekuni kala tak berlatih bela diri. Keseriusannya di dunia bola kaki ia buktikan saat menjadi pemain di liga-B klub sepakbola Indonesia. Sayang, klub tempatnya bernaung itu pada akhirnya bangkrut dan mengandaskan mimpi Iko untuk menjadi pesepakbola profesional. Dari peritiwa itulah, ia akhirnya memantapkan diri untuk fokus pada silat.

Jadi supir di sebuah perusahaan untuk menyambung hidup

Iko Uwais semat jadi supir [sumber gambar]
Roda kehidupan yang terus berputar, membuat Iko kala itu harus berpikir secara realistis untuk menyambung hidup. Dilansir dari video.kapanlagi.com, ia mencoba mengurus SIM A dan mulai melamar pekerjaan. Mujur, Iko diterima sebagai driver di sebuah perusahaan telekomunikasi pada 2008 silam dan bekerjas selama dua tahun di sana. Hal ini sekaligus sebagai bukti bahwa ia bukanlah melakoni profesi sebagai supir truk yang santer diberitakan oleh beberapa media.

Banyak yang bilang kalau saya supir truk, ngarang-ngarang aja itu. Bukan supir truk, supir bener. Saya supir di perusahaan telekomunikasi selama dua tahun,” tuturnya yang dilansir dari video.kapanlagi.com.

Bertemu sutradara ternama yang melambungkan karirnya di dunia film

Iko Uwais bertemu Gareth Evans [sumber gambar]
Titik terang menghampiri Iko Uwais saat dirinya bertemu dengan Sutradara Gareth Evans. Saat itu, sutradara asal Inggris tersebut tengah mengerjakan sebuah film dokumenter tentang silat di Jakarta. Dari situlah, Iko secara perlahan mulai menapaki kesuksesan karir sebagai aktor laga. Debut pertamanya adalah film Merantau pada 2009, yang berlanjut pada The Raid (2012) dan The Raid 2: Berandal (2014). Semuanya adegannya banyak memasukkan unsur silat yang ia kerjakan bersama Gareth Evans. Nama Iko Uwais semakin dikenal secara luas saat memerankan Razoo Qin Fee dalam Star Wars : The Force Awakens (2015).

Sukes berkarir sebagai pesilat sekaligus aktor laga

Meski perannya hanya sesaat di film Star Wars : The Force Awakens (2015), Iko Uwais sukses menarik perhatian khalayak Hollywood untuk bekerjasama dengan dirinya. Aktor-aktor tenar seperti Keanu Reeves dan Mark Whalberg merupakan deretan bintang yang berakting dengan Iko Uwais dalam film yang berbeda. Pria kelahiran 12 Februari 1983 itu, juga sempat menjajal sebuah film sci-fi berjudul Beyond Skyline yang mengambil latar belakang di Candi Prambanan, Indonesia. Hebat ya Sahabat Boombastis.

Sebagai masyarakat Indonesia, kita turut bangga dengan prestasi anak negeri yang diakui secara internasional. Tak hanya itu, sosok Iko Uwais di atas juga berhasil memperkenalkan silat sebagai budaya asli di Indonesia. Tak hanya mendapatkan ketenaran, ia juga ikut melestarikan apa yang telah diwariskan oleh para pendahulu di Tanah Nusantara.