Gegap gempita keberhasilan Lalu Muhammad Zohri menjadi juara di ajang atletik dunia, banyak menyita perhatian masyarakat Indonesia. Mulai dari Presiden, pengusaha, artis, hingga tokoh-tokoh terkenal, semua mengelu-elukan namanya. Namun sayang, ada atlet lain yang juga berprestasi seperti dirinya, namun ditinggalkan begitu saja.

Dia adalah Fauzan Noor. Seorang atlet Karateka yang berhasil menyabet gelar WASO World Championship pada Januari 2018 di Rep Ceko. Beda nasib, berlainan pula perlakuan yang ia terima. Meski menyandang status sebagai juara dunia, kehidupannya tak semujur Lalu Muhammad Zohri yang dibanjiri berbagai tawaran dan hadiah. Ia hanya bisa bisa bercerita pasrah tentang nasibnya setiba di tanah air.

Perjalanan panjang sang juara dunia

Sempat kesulitan dana untuk berangkat ke Ceko [sumber gambar]
Langkah Fauzan menjawab tantangan kejuaraan dunia di Ceko, tak semudah atlet lainnya. Kesulitan biaya dan akomodasi selama di negeri orang, sempat menghantui pikirannya. Untuk menghemat, Fauzan bahkan membawa bekal ikan asin, telur, dan mie instan sendiri. Untungnya, sejumlah bantuan datang dari lembaga yang peduli. Korda Federasi Karate Tradisional Indonesia Kalimantan Selatan, akhirnya mewujudkan keinginan Fauzan bertarung di kancah dunia.

Sempat bingung karena kesulitan biaya, padahal harus ngurus visa dan tiket pesawat. Tapi, kemudian kami dibantu oleh beberapa pihak asing dan dapat bantuan dari Ketua Korda Federasi Karate Tradisional Indonesia,” ujar Ozan, panggilan akrabnya yang dikutip dari regional.kompas.com.

Diabaikan pemerintah, diperhatikan negara asing

sukses jadi juara meski minim perhatian pemerintah [sumber gambar]
Beruntung, Ceko sebagai penyelenggara kejuaraan karate sangat memperhatikan para pesertanya. Mereka memberi bantuan berupa dan kemudahan seperti menyediakan fasilitas tempat istirahat, dan keperluan sehari-hari selama mereka tinggal di sana. Bukan gratis belaka. Semua kebaikan ini harus diganti dalam bentuk uang setelah kejuaraan usai.

Setelah pengumuman kejuaraan, kami mengganti uang yang kami pinjam ke pihak WASO,” ujar Ozan yang dilansir dari regional.kompas.com.

Berhasil menjadi juara dunia dan akhirnya terlupakan

Prestasinya seolah terlupakan [sumber gambar]
Meski berangkat dengan kondisi yang serba kekurangan, Oza tetap fokus terhadap pertandingan yang akan dihadapinya. Terbukti ia sukses menyabet juara versi Internasional Traditional Karate Federation (ITKF), setelah menundukkan karateka asing yang menjadi lawannya. Dengan bangga, Ozan membawa kemenangannya itu ke tanah airnya yang hasilnya ternyata sia-sia belaka.

Atlet yang minim pemberitaan dan penghargaan

Prestasi Fauzan Noor minim pemberitaan [sumber gambar]
Setibanya di tanah air, tak ada sambutan maupun hadiah dan penghargaan terhadap dirinya. Berbeda dengan Lalu Muhammad Zohri yang ketiban rezeki nomplok, prestasi Ozan seakan terlupakan begitu saja. Yang miris, ia sempat mendaftar sebagai Polisi namun gagal karena tak lolos seleksi. Kemudian mencoba melamar sebagai Anggota Satpol PP di Provinsi Kalimantan Selatan, namun belum ada kelanjutan yang pasti. Alhasil, kini Ozan harus berlapang dada dengan bekerja sebagai karyawan di sebuah toko retail.

Berangkat dari keluarga sederhana

Berangkat dari keluarga sederhana [sumber gambar]
Senasib dengan Lalu Muhammad Zohri, Ozan juga berangkat dari keluarga yang sederhana. Ia merupakan anak ketiga pasangan Adnan Firdaus (60 tahun) dan Jamariyah (56 tahun). Sang ayah hanyalah seorang buruh bangunan dengan penghasilan tak menentu. Sedangkan ibunya berprofesi sebagai pekerja rumah tangga yang sekali-kali menjadi tukang pijat dan lulur.

Sungguh ironis! Apa yang dirasakan oleh Lalu Muhammad Zohri, ternyata tak terjadi pada diri Ozan. Sama-sama menyandang titel sebagai juara dunia di bidangnya masing, namun perlakuan yang diterima harus berbeda. Yang satu bergelimang harta dan panen pujian. Sementara yang lainnya seperti ozan, hanya senyap tanpa embel-embel apapun. Jika sudah begini, siapa yang patut disalahkan?