Profesi nelayan yang identik dengan bau amis dan penampilan yang lusuh, telah menjadi mindset bagi banyak orang terhadap mereka yang menggelutinya. Lingkungan yang buruk dan kumuh, seolah menjadi stigma negatif yang kadung melekat. Pun dengan kondisi keluarganya yang tak jauh berbeda.

Namun saat melihat sosok Elita Tirta Triningrum, semua anggapan negatif di atas bakal buyar seketika. Meski kerap membantu sang ayah mencari ikan, tak ada yang menyangka jika ia merupakan sosok cerdas yang berprestasi. Kegiatannya melaut, semata-mata hanyalah niat tulus dirinya untuk membantu keadaan ekonomi keluarganya yang pas-pasan.

Ilustrasi membantu ayah melaut mencari ikan [sumber gambar]
Dulu, saya sendiri sering ikut orang tua ke laut untuk cari ikan. Biasanya saya disuruh ngumpulin hasil tangkapan atau membuang air laut yang masuk ke perahu supaya enggak tenggelam waktu menjaring ikan,” kata Elita yang dilansir dari edukasi.kompas.com.

Di tengah-tengah himpitan ekonomi, Elita justru tak mengendurkan semangat untuk mengejar mimpinya meraih prestasi. Untuk itu, ia pun berusaha aktif mengikuti pendidikan formal di salah satu SMK Remaja di kawasan Pluit. Elita bahkan rela meluangkan waktunya untuk mengajar anak-anak nelayan lainnya di PAUD, Paket A, B, C, TPA, serta menari.

Kerap membantu mengajar anak PAUD [sumber gambar]
Sang ibu pun juga turut membantu perekonomian keluarganya dengan menjadi penjahit. Tentu saja hasilnya tak cukup untuk membiayai kebutuhan seluruh keluarganya. Untuk mengatasi hal tersebut, Elita juga kerap membantu kedua orang tuanya berjualan otak-otak.

Ilustrasi membantu orang tua menjual otak-otak [sumber gambar]
Saya sehari hari ngajar anak-anak, kalau libur itu bantu mamah sama bapak jualan otak-otak. Cuman kalau misalnya emak ada yang bantu ya saya ngelaut sama bapak,” ujar Elita yang dilansir dari merdeka.com.

Sebagai nelayan, sang ayah berpenghasilan rata-rata Rp 50 ribu per-hari. Sementara dari hasil menjahit, sang ibu mendapatkan Rp 57 ribu per harinya. Untuk itu, Elita mencari tambahan pemasukan dengan menjajakan otak-otak di pelabuhan Muara Angke. Dari hasil berjualan tersebut Elita mampu menyisihkan uang untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari.

Ilustrasi berjualan otak-otak [sumber gambar]
Inisiatif sendiri dengan berjualan otak-otak itu ya emang enggak seberapa hasilnya. Cuman ya bisa disisihin dari uang jual otak-otak itu diolah lagi biar cukup untuk seminggu kuliah. Kalau kuliah bawa bekel dari rumah,” ucap Elita┬ádilansir dari merdeka.com.

Berhasil raih beasiswa [sumber gambar]
Karena perannya yang aktif di sekitar lingkungan nelayan, membuat sosok Elita menyita perhatian banyak pihak. Ia pun kerap ditunjuk sebagai perwakilan untuk beberapa kegiatan. Seperti menjadi Duta Anak DKI, peserta Kongres Anak Indonesia di Banten, serta Forum Anak Nasional.

yang membanggakan, Elita juga berhasil menerima penghargaan berupa beasiswa penuh untuk menempuh pendidikan di Podomoro University. Semua usaha dan kerja kerasnya pun terbayar lunas. Berbekal beasiswa yang diperolehnya, Elita siap merajut asanya meraih prestasi yang selama ini diidamkannya. Salut ya Sahabat Boombastis.