Jepang adalah negara maju yang memiliki banyak potensi pada sumber daya alam dan sumber daya manusianya. Berkat kegigihan rakyatnya, Jepang berhasil menjadi salah satu negara dengan perkembangan paling pesat di dunia. Jepang juga terus memperbaiki diri di antara banyak masalah bencana yang mereka hadapi.

Jepang juga dikenal sebagai negara yang memiliki banyak keunikan. Kita selalu dihibur oleh penemuan unik yang berasal dari Jepang. Kultur pop dan seni dari Jepang juga menyebar baik virus ke seluruh dunia. Ironisnya, negara matahari terbit yang tampak sempurna itu memiliki beberapa masalah sosial yang terjadi secara massal di Jepang. Akibat beratnya tekanan hidup, ada beberapa gejala “ketagihan” aneh yang melanda Jepang. Mari kita simak ketagihan unik tersebut.

1. Ketagihan Hidup Sendiri

Hikikomori adalah sebuah istilah yang digunakan orang Jepang untuk gaya hidup seseorang yang menutup diri dari pergaulan. Tidak hanya dari pergaulan kerja atau sekolah, pelaku hikikomori juga menutup dirinya dari keluarganya sendiri. Hal ini terjadi secara masif di kehidupan remaja Jepang.

Ketagihan Hidup Sendiri
Ketagihan Hidup Sendiri

Kasus terakhir adalah seorang pria yang tidak ingin disebut namanya. Suatu siang, dia pulang dari sekolah dan memutuskan untuk tidak mau bertemu dengan siapapun. Dia menutup pintu kamarnya dan tidak akan membukanya untuk siapapun, termasuk kedua orang-tuanya. Dia menyelinap ke dapur ketika tidak ada orang dan mengambil makanan. Lebih dari itu, dia tidak mau meninggalkan kamarnya. Hal ini cukup mengkhawatirkan pemerintah Jepang.

2. Ketagihan Gigi Gingsul

Gigi yang berderet rapi adalah keinginan banyak orang. Banyak sekali orang menghabiskan uang hingga puluhan juta rupiah untuk memasang kawat gigi agar gigi mereka berderet rapi. Namun, berbeda dengan orang Jepang, mereka justru ingin gigi mereka berlapis dua alias bergingsul.

Ketagihan Gigi Gingsul
Ketagihan Gigi Gingsul

Trend ini disebut Yaeba, atau secara harfiah berarti “gigi lapis dua”. Banyak perempuan Jepang menguras kantong mereka agar bisa mengimplan gigi tambahan. Menurut mereka, memiliki gigi gingsul adalah sesuatu yang imut.

3. Ketagihan Bunuh Diri

Jepang merupakan salah satu negara dengan tingkat bunuh diri paling tinggi di dunia. Jumlah kasus bunuh diri di negara matahari terbit ini adalah sebanyak dua kali lipat negara-negara maju lainnya. Memang, sejak jaman Jepang kuno mereka sudah mengenal istilah harakiri, yaitu bunuh diri sebagai bagian dari mempertahankan harga diri.

Ketagihan Bunuh Diri
Ketagihan Bunuh Diri

Salah satu metode bunuh diri yang paling populer di Jepang adalah menabrakkan diri ke kereta api. Selain itu, Jepang juga memiliki sebuah hutan kecil bernama Aokigahara, di dekat Gunung Fuji, yang dikenal sebagai tempat “favorit” bagi pelaku bunuh diri.

4. Ketagihan KFC

Pola makan orang Jepang yang teratur dan seimbang membuat orang Jepang menjadi panjang umur dan selalu sehat. Namun, masuknya produk fast-food ala Amerika ini membuat pola makan yang sehat itu menjadi kacau. Orang Jepang yang sibuk kini sudah sulit memperhatikan menu makan mereka dan lebih memiliki makanan cepat saji seperti ayam goreg ala KFC.

Ketagihan KFC
Ketagihan KFC

Tidak hanya itu, di Jepang anda akan melihat banyak sekali antrian panjang di restoran KFC. Bahkan, ketika malam natal tiba, anda harus memesan beberapa bulan sebelumnya jika ingin makan malam di restoran KFC.

5. Ketagihan Bekerja

Bangsa Jepang memang bangsa pekerja keras. Rata-rata orang di Jepang mengahabiskan hampir 12 jam waktunya untuk bekerja. Loyalitas dan tanggung jawab inilah akhirnya yang mengantarkan negara sakura tersebut ke gerbang kesuksesan.

Ketagihan Bekerja
Ketagihan Bekerja

Namun tampaknya bekerja terlalu keras menimbulkan masalah baru di negara tersebut. Banyak sekali karyawan yang meninggal akibat kelelahan bekerja. Oleh karena itu, perusahaan di Jepang memberlakukan aturan “inemuri” yaitu tidur siang dalam waktu singkat di kantor. Orang yang melakukan tidur siang di kantor akan dihargai karena tidur siang dianggap sebagai salah satu tanda dari komitmen dan kerja keras.

Demikianlah lima ketagihan yang dialami rakyat Jepang. Meski beberapa kebiasaan di atas merupakan kebiasaan baik, namun jika sudah berlebihan tentu akan merugikan kita.

Bagaimana tanggapan anda mengenai ketagihan-ketagihan di atas? Apakah orang Indonesia memiliki kecenderungan untuk memiliki ketagihan yang sama? (HLH)