Beberapa waktu lalu, berita tentang kemenangan seorang atlet UFC asal Rusia, Khabib Nurmagomedov atas lawannya, Connor McGregor banyak menghiasi media di dalam maupun luar negeri. Bukan hanya Khabib semata. Sang lawan yang berasal dari Irlandia itu juga pantas menjadi sorotan. Bukan karena prestasinya, melainkan tindakan provokatif bernada rasial yang kerap ia gembar-gemborkan di atas panggung.

Hidupnya yang glamor sebagai atlet UFC dan bisnisnya di bidang fashion dan minuman keras, membuat pria kelahiran Crumlin, Dublin, Republik Irlandia, 14 Juli 1988 itu merasa jumawa. Hal ini terlihat dari aksinya di dalam maupun luar panggung yang kerap nyinyir dan bertindak provokatif terhadap lawan-lawannya. Hingga pada akhirnya, mulut besar McGregor pun harus kandas saat ia dikalahkan oleh petarung UFC asal Rusia, Khabib Nurmagomedov.

Merasa kuat dan angkuh karena prestasinya

Merasa kuat hingga berujung keangkuhan [sumber gambar]
Dilansir dari tirto.id, Connor McGregor mulai mengawali karirnya sebagai petarung seni bela diri campuran/ MMA (Mixed Martial Arts) di kelas bulu pada 2008-2015. Karena prestasinya yang terus menanjak, ia kemudian berhasil naik ke kelas ringan hingga 2016. Hal ini pun mencatatkan McGregor menjadi satu-satunya atlet UFC yang mampu menjuarai 2 kelas divisi secara langsung. Pria yang memiliki tato di dadanya itu juga sempat menjajal olahraga tinju pofesional pada 2017. Alhasil, sederet prestasinya itu membuat McGregor terlihat angkuh dan kerap meremehkan  lawan tandingnya.

Sombong karena merasa dirinya adalah atlet yang terkenal

Dengan rating pay-per-view (PPV) tertinggi di sejarah MMA, McGregor menjadi sosok atlet UFC yang paling dikenal diseluruh dunia. Dilansir dari tirto.id, ia bahkan menjadi headline di 4 dari 6 pertandingan dengan bayaran tertinggi di event pay-per-view UFC. Di antaranya, saat melawan Nate Diaz dengan penonton sebanyak 1,65 juta PPV, dan ketika bersua petinju Floyd Mayweather yang menghasilkan rating tayang sebesar 4,3 juta PPV di Amerika Utara. Sayang, ketenarannya itu membuat McGregor seakan lupa daratan. Lihat saja gayanya saat berjalan di dalam arena pertarungan. Sangat sok dan terkesan meremehkan lawan-lawannya.

Hobi minum-minuman keras yang sejatinya merusak dari dalam

Saat konferensi pers mengenai pertandingannya melawan Khabib Nurmagomedov, McGregor sempat membawa sebotol whisky untuk dinikmati sembari melayani sesi tanya jawab dari awak media. Saking provokatifnya, ia bahkan menuangkan segelas sloki kecil minuman keras pada Khabib sembari mengucapkan selamat ulang tahun. Sontak hal itupun ditolak oleh petarung asal Dagestan, Rusia itu karena dirinya seorang muslim. Karena tak mendapat tanggapan, ia pun lanjut meminum whisky tersebut dengan sang moderator sembari tertawa-tawa dan melontarkan kata-kata kasarnya. Astaghfirullah…

Kasar dan temperamental yang berlebihan

Sejatinya, emosi yang berlebihan merupakan jebakan hawa nafsu yang bisa merusak jiwa dan psikologis seseorang. Hal ini pun ternyata dialami oleh Connor McGregor. Saat sesi timbang badan dan bertemu dengan calon lawan, ia terlihat begitu sombong dan emosional. Bahkan saat berhadapan dengan Khabib, ia sempat memukulkan tangannya serta berusaha menendang. Tak hanya itu, ia juga melontarkan komentarnya yang bernada mengejek terhadap lawannya. Sebaliknya, Khabib terlihat tenang dan tak terpancing dengan emosi. Hasilnya, lihatlah apa yang terjadi pada McGregor di akhir pertandingannya melawan petarung asal Rusia tersebut.

McGregor yang akhirnya tersungkur oleh kesombongannya sendiri

Connor McGregor kalah dari Khabib Nurmagomedov [sumber gambar]
Karena sering memprovokasi dan merendahkan lawan-lawannya, McGregor harus merasakan buah dari kebiasaan negatifnya tersebut. Pada laga melawan Khabib Nurmagomedov, pria 30 tahun itu terlihat kewalahan menghalau serangan dari rivalnya. Saat awal pertandingan dimulai, ia sempat terkena hook di sisi kanan wajah dan terhuyung sejenak. Bahkan saat akhir pertandingan yang akhirnya dimenangkan oleh Khabib, wajah McGregor terlihat babak belur dan harus ditangani oleh tim medis. Ekspresinya yang terduduk di pinggir arena, seakan menyiratkan betapa kesombongannya selama ini telah menghancurkan dirinya sendiri.

Apa yang ditabur, itulah yang bakal dituai. Seperti kesombongan McGregor di atas, ia harus membayar mahal karena kekalahan telaknya tersebut. Bukan dalam bentuk uang, melainkan runtuhnya popularitas, moral dan harga dirinya yang selama ini ia anggap sebagai yang terbaik dari lainnya. Mungkin, mulutmu adalah harimaumu menjadi pepatah yang cocok untuk menggambarkan situasi McGregor kala ditundukan oleh Khabib yang diremehkannya.