in

Asisten Rumah Tangga sampai Buruh, Ini 5 Kisah Mereka yang Harus Kerja Keras Sambil Kuliah

Profesi buruh, kuli, hingga asisten rumah tangga, kerap dipandang sebelah mata. Bahkan, tak jarang mereka mendapat perlakukan tak mengenakkan dari atasan. Alasannya, orang-orang dengan profesi tersebut biasanya memiliki tingkat pendidikan yang rendah.

Namun, nyatanya ada beberapa dari mereka yang berhasil menempuh pendidikan ke perguruan tinggi. Mereka semangat menuntut ilmu meski sambil menjadi pekerja kasar. Inilah kisah inspiratif mereka.

Asisten rumah tangga jadi lulusan terbaik

Setelah lulus dari SMA Muhammadiyah 5 Todanan Blora, Darwati terpaksa berjualan es campur karena tuntutan ekonomi. Orang tuanya yang bekerja sebagai petani, tak mampu menguliahkan dirinya. Kemudian, Darwati mencoba bekerja sebagai asisten rumah tangga di rumah seorang dokter gigi bernama Lely Atasti. Saat itu, ia memberanikan diri untuk mengutarakan niatnya melanjutkan pendidikan kepada sang majikan.

Darwati [sumber gambar]
Rupanya, majikan Darwati mendukung tekadnya tersebut. Darwati pun mulai bekerja sambil kuliah. Ia harus pintar berhemat dan menempuh jarak lebih dari 50 km demi berkuliah di Universitas 17 Agustus Semarang. Cemoohan dan ejekan menjadi makanan sehari-hari bagi Darwati. Namun, ia tetap semangat untuk mengejar cita-citanya. Usaha Darwati akhirnya berbuah manis. Ia berhasil menjadi lulusan terbaik jurusan Administrasi Niaga dengan IPK 3,68.

Kuli angkut sukses raih gelar Sarjana Teknik Sipil

Didik Setyo [sumber gambar]

Berawal dari mengungkapkan keinginannya untuk pindah kuliah yang ditolak oleh orang tuanya, Didik Setyo lebih memilih menjadi kuli daripada melanjutkan kuliahnya. Ia putus kuliah di semester lima. Didik pun menjadi kuli angkut di Pasar Gemolong, Sragen. Ia juga menjajal beberapa profesi, mulai dari makelar motor, tukang ojek, dan drafter dengan bayaran seadanya. Didik mengaku tak mau menerima beasiswa. Ia yakin masih mampu membiayai kuliahnya sendiri. Keyakinan Didik akhirnya terbukti. Ia lulus dari jurusan Teknik Sipil Universitas Sebelas Maret.

Buruh migran tamatkan kuliah di Korea Selatan

Seorang warga Trenggalek, Jawa Timur, bernama Waras bekerja sebagai buruh migran di pabrik onderdil di Korea Selatan. Setelah tiga kali memperpanjang kontrak, Waras bersiap pulang ke tanah air. Namun, ia yang sedari kecil selalu haus dengan pengetahuan, tertarik untuk melanjutkan pendidikan saat Universitas Terbuka membuka kelas.

Waras dan teman-temannya [sumber gambar]
Kuliah sambil bekerja di negeri orang, penuh dengan tantangan. Itulah yang dihadapi Waras. Saat giliran shift malam, ia hanya bisa tidur setengah jam dan langsung berangkat ke kampus. Padahal ia sudah bekerja 10-14 jam sehari. Setelah mendapat ijazah, Waras memiliki niat mulia menggunkan ijazah tersebut untuk menciptakan lapangan kerja.

Kuliah sambil kerja, ART berhasil mewujudkan mimpinya jadi guru Matematika

Faktor ekonomi membuat Yesti Rambu Jola Pati mengubur impiannya untuk berkuliah. Gadis asal NTT ini memilih merantau ke Surabaya untuk bekerja sebagai asisten rumah tangga. Setahun bekerja, Yeti mendapat motivasi dari sang kakak yang bekerja di Singapura untuk melanjutkan pendidikan. Ia pun bersedia membiayai kuliah Yeti dengan syarat ia harus kuliah di Yogyakarta atau Malang. Sang majikan yang mengizinkan Yeti untuk kuliah, menyarankan agar Yeti tak bergantung kepada keluarga.

Yeti Rambu Jola Pati [sumber gambar]
Yeti pun memilih Universitas Dr. Soetomo Surabaya karena dekat dengan rumah sang majikan. Perjuangan Yeti kuliah sambil bekerja tidak mudah. Setelah bekerja di pagi hari, ia harus kuliah mulai dari 17:00 hingga 21:00 WIB. Yeti sempat kelelahan dan terancam drop out karena keluar dari kampus tanpa kabar. Namun, ia kembali melanjutkan kuliahnya dan menyelesaikan jurusan Pendidikan Matematika. Setelah lulus, Yeti berniat kembali ke NTT untuk menjadi guru Matematika.

BACA JUGA: Jadi Pembantu di Rumah Dokter, Wanita Ini Sukses Jadi Sarjana dan Raih Lulusan Terbaik

Semoga semangat para pekerja tersebut melanjutkan pendidikan tinggi dapat menjadi inspirasi bagi siapa saja yang sedang mengejar cita-cita. Mereka membuktikan bahwa segala sesuatu yang terlihat sulit ternyata bisa dijalani dengan niat dan usaha yang sungguh-sungguh. Wajar saja jika lelah, namun jangan sampai menyerah.

Written by F A Agustina

Proses evakuasi mobil pengisi ATM yang jatuh ke Sungai Citarum. [Sumber Gambar]

Ada Uang Senilai 70 Juta, Ini Kronologi Mobil Pengisi ATM Bawa 6 Koper Uang Jatuh ke Sungai

Bang Kwang, Penjara Khusus Penjahat Kelas Kakap yang Bikin Napi Kehilangan Kewarasan