Perputaran waktu yang dirasakan berjalan lebih cepat dari biasanya, ternyata bisa ditelaah dari beberapa penelitian ilmiah yang telah dilakukan oleh para Ilmuwan. Sedikit demi sedikit, fenomena unik yang telah menjadi sebuah misteri tersebut mulai terkuak. Hal ini pun bisa menjadi sebuah informasi penting yang nantinya akan berpengaruh pada eksistensi kehidupan manusia.

Artikel Lainnya
Cerita Robot Gedek, Psikopat yang Sempat Bikin Bocah Enggak Pingin Lahir ke Dunia
Kalah Sengketa dan Jadi Milik Malaysia, Begini Keadaan Pulau Sipadan dan Ligitan Sekarang

Selain masih dilingkupi oleh misteri, jika ditelaah dari sudut pandang ilmiah, selain mempunyai korelasi yang berkaitan erat dengan ingatan dan kegiatan seseorang di masa lalu, cepatnya waktu berjalan ternyata bersumber dari kegiatan kita sehari-hari. Lalu seperti apa penjelasan kenapa waktu berjalan begitu cepat? Simak ulasan menariknya berikut.

Kesibukan Menjadikan Waktu Berjalan Lebih Cepat

Manusia modern yang tinggal di daerah perkotaan, mungkin menjadi sosok pertama yang merasakan perputaran waktu yang begitu cepat. Tinggi intensitas dan rutinitas pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi tinggi di perkantoran, membuat orang-orang tersebut tidak sempat memikirkan waktu yang berjalan dengan sangat cepat.

Terlalu sibuk, lupa bahagia [image source]
Temuan ini disampaikan oleh Steve Janssen, seorang psikolog yang meneliti tentang persepsi waktu pada 1.856 orang. Penelitiannya ini menunjukkan, orang-orang yang telah berusia dewasa, seringkali tak punya cukup waktu untuk melakukan hal-hal lainnya. Alhasil, otak pun merespon dan menterjemahkan fenomena tersebut sebagai waktu yang cepat berlalu.

Memori di Masa Lalu yang Masih Membekas

Secara fungsi, otak akan menyimpan kepingan- kepingan memori yang dianggap menarik. Dari situ, setiap kenangan akan senatiasa “berputar” kembali manakala kita secara tidak sadar merasa bahwa waktu berlalu begitu cepat. Kata-kata seperti “rasanya baru kemarin”, “nggak kerasa ya” atau “kok cepet banget”, merupakan sebuah manifestasi ucapan yang menggambarkan keadaan tersebut.

Banyak pikiran, waktu semakin berlalu [image source]
Hal semacam ini diperkuat oleh penulis sains Claudia Hammond. Fenomena semacam ini ternyata sudah banyak dipelajari oleh pakar psikologi. Dirinya mengatakan bahwa,  setiap ada peristiwa yang dianggap tidak menarik, akan dianggap sebagai kejadian masa lalu. Berbanding terbalik dengan peristiwa yang “menarik” bagi ingatan kita, hal tersebut akan direspon secara alami oleh otak sebagai sebuah kejadian yang seolah baru saja terjadi pada hari ini.

Saraf Suprachiasmatic yang Mengatur Kondisi Tubuh

Dalam tubuh manusia, terdapat sebuah sistem yang berjalan secara otomatis tanpa perlu diperintahkan sebelumnya. Sistem “canggih” pada tubuh tersebut berfungsi untuk mengatur “jam biologis yang mengendalikan pernapasan, detak jantung dan aliran darah yang terjadi setiap detik. Semua pekerjaan ini di tangani oleh sebuah saraf di otak yang bernama saraf suprachiasmatic.

“jam biologis” pengaruhi cepatnya waktu berjalan [image source]
Pada usia anak-anak, jam biologis yang mereka miliki memungkinkan untuk melakukan banyak aktivitas sekaligus dalam rentang waktu tertentu. Berdasarkan riset yang ada, hal ini menunjukan jumlah detak jantung dan tarikan nafas yang lebih banyak dari orang berusia dewasa. Karena jam biologis orang dewasa lebih banyak berkurang, aktivitas secara fisik pun berkurang. Hal inilah yang memicu cepatnya waktu berjalan karena jumlah detak jantung dan tarikan nafas yang lebih rendah dari anak-anak

Pengaruh perputaran Waktu Dari Abad ke Abad

Para Ilmuwan menyimpulkan teori ini dari hasil penelitian berupa fosil yang ditemukan pada masa prasejarah silam. Dalam penelitian tersebut, jika dikembalikan pada zaman dinosaurus masih hidup, akan diketahui bahwa pada masa tersebut satu tahun dihitung sebanyak 370 hari. Berbeda dengan zaman modern ini, dimana satu tahun dihitung sebanyak 365 hari.

Perputaran bumi yang tidak “dirasakan” [image source]
Hal ini dikarenakan rotasi bumi yang melambat sehingga menambah jumlah jam di tiap-tiap harinya. Pelambatan rotasi tersebut disebabkan oleh tarikan gravitasi yang kecil dari bulan. Kejadian alami inilah yang menyebabkan hari-hari yang ada mengalami pertambahan waktu hingga 1,7 miliar detik per abad-nya. Itulah mengapa waktu yang sekarang dirasakan berlalu begitu cepat.

Cepatnya Waktu Berlalu Dalam Pandangan Agama

Fenomena begitu singkatnya waktu yang dilalui oleh manusia telah diberitakan oleh Hadist Nabi Muhammad SAW pada 1400 abad silam. Dalam beberapa hadist disebutkan, ada makna yang berbunyi “Zaman yang berdekatan” yang juga menjadi pertanda akan datangnya kiamat. Pada masa itu, digambarkan waktu yang berlalu begitu cepat. Setahun bagaikan sebulan, sebulan bagaikan sepekan, sepekan bagaikan sehari dan sejam bagaikan terbakarnya pelepah pohon kurma.

Tanda zaman kian mendekati akhir [image source]
Hal tersebut tentu merupakan sebuah fakta ilmiah yang tak terbantahkan di zaman modern ini. Saat ini, terlihat begitu banyak manusia yang merasa seperti kekurangan waktu karena aktivitasnya yang padat. Dari situlah mereka mengira bahwa waktu telah berlangsung sangat singkat dalam setiap detik kehidupannya.

Fenomena waktu yang “tiba-tiba” berlalu ini, tentu menjadi sebuah masalah dalam peradaban modern seperti saat ini. Di tengah kencangnya arus modernisasi dan kesibukan masyarakat yang semakin “bertambah”, memanfaatkan peluang waktu yang ada dengan sebaik-baiknya dan bijaksana, bisa menjadi solusi yang tepat agar tidak “tergilas” dengan perputaran waktu.