Kisah heroik pertempuran 10 November 1945 yang terjadi di Surabaya, tak akan pernah terjadi jika sosok pria bule asal Inggris ini tak mati terbunuh. Dilansir dari tirto.id, Tentara Sekutu dari Brigade Infantri India 49 Maratha yang mendarat di Surabaya, merupakan pasukan asal negeri Ratu Elizabeth di bawah komando Brigadir A.W.S Mallaby.

Diketahui, pasukan asing yang berisikan orang-orang India (Indian Army) dalam militer Inggris ini, membuat pemuda Indonesia marah besar karena membebaskan orang-orang Belanda yang ditawan Jepang. Kurang ajarnya lagi, mereka yang menganggap diri datang sebagai pemenang perang, ikut melucuti senjata para pejuang lokal. Alhasil, maut pun dipersiapkan yang akhirnya menjadi jalan pembuka bagi pecahnya perang 10 November 1945.

Sosok perwira tinggi yang memiliki karir cemerlang

Perwira cerdas yang pimpin brigade 49 Indian Army [sumber gambar]
Dilansir dari tirto.id, Aubertin Walter Shotern Mallaby atau biasa disingkat A.W.S Mallaby, merupakan seorang pewira andalan Inggris di kancah Perang Dunia II. Ia kerap diposisikan sebagai operational officer (perwira operasional) di setiap medan pertempuran yang ia ikuti. Menurut Richard McMillan, dalam The British Occupation of Indonesia: 1945-1946: The Netherlands and the Indonesian Revolution (2005) yang dikutip dari tirto.id, “Ini menjadi komando operasi pertama Mallaby setelah kampanye militer di Burma.” Sayang, pangkatnya diturunkan dari Mayjen menjadi Brigjen saat berada di Indonesia”.

Ditempatkan di Indonesia dan pangkatnya diturunkan

Sosok perwira yang turun pangkat karena ditempatkan di Indonesia [sumber gambar]
Meski menyandang pangkat sebagai Mayjen, toh Mallaby harus berpuas diri saat dirinya jabatannya diturunkan satu tingkat menjadi Brigjen. Dilansir dari tirto.id, hal ini terjadi karena dirinya hanya memimpin pasukan setingkat Brigade Infanteri India ke-49 yang diterjunkan ke Surabaya. Kedatangannya di Surabaya, bertujuan untuk melucuti senjata milik Jepang yang dirampas oleh pemuda Indonesia. Alhasil, hal ini pun akhirnya memunculkan gesekan yang berujung pada peperangan dalam skala besar.

Perwira Inggris yang sempat memohon pada Indonesia karena kalah perang di Surabaya

Brigjen Mallaby yang duduk bersama delegasi Indonesia, Doel Arnowo [sumber gambar]
Pertempuran akhirnya tak terelakkan dari kedua belah pihak. Menurut penuturan Mantan Letnan Kolonel A.J.F. Doulton yang dilansir dari tirto.id, Terjadi pertempuran selama tiga hari antara Brigade 49 dengan pejuang republik dari berbagai elemen yang dianggapnya sebagai neraka. Aksi bumi hangus yang dilancarkan pejuang Indonesia, membuat posisi Inggris terjepit, kewalahan dan hampir habis di Surabaya. Untuk menghindari kehancuran, pemimpin militer Inggris di Jakarta, Mayor Jenderal Howthorn, mengajak pimpinan Republik di Jakarta untuk berunding. Berharap wibawa Presiden Sukarno bisa membuat amarah pemuda Surabaya mereda. Kontak damai pun disusun oleh kedua belah pihak.

Kematiannya menjadi pemicu pertempuran 10 November 1945 yang ikonik

Mobil hangus yang ditumpangi Brigjen Mallaby [sumber gambar]
Demi menenangkan masyarakat Surabaya, Brigadir Mallaby dan Doel Arnowo dari pihak Indonesia, duduk berdua di kap mesin sebuah mobil. Sumber dari tirto.id menuliskan, sosok perwira kelahiran 12 Desember 1899 itu sempat dicegah untuk masuk ke gedung internatio, Surabaya dan mulai dikerumuni oleh masyarakat Indonesia. Kapten R.C. Smith, seperti dikutip J.G.A. Parrot dalam Who Killed Brigadier Mallaby (1975), melihat ada pemuda yang kemudian menembak Mallaby dari jarak yang cukup dekat. Alhasil, sang Jenderal meregang nyawa seketika. Dari kematian Mallaby itulah, Inggris yang kadung tersulut ingin balas dendam, akhirnya melancarkan perang besar-besaran dari darat, laut maupun udara. Peristiwa itulah yang akhirnya dikenang sebagai pertempuran 10 November 1945 dan ditetapkan sebagai hari pahlawan.

Dimakamkan di Indonesia dan membuat Inggris kehilangan muka

Makam Brigjen AWS Mallaby [sumber gambar]
Sejatinya, penugasan Mallaby ke Surabaya dinilai tak terlalu berbahaya daripada bertugas di wilayah konflik Perang Dunia II melawan Jepang. Sayang, suratan takdir rupanya menulis bahwa ajal sang Jenderal harus pupus di tanah Surabaya. Dilansir dari tirto.id, Brigadir Robert Guy Loder-Symonds juga ikut gugur menyusul dirinya pada hari pertama pertempuran 10 November 1945. Sebuah peperangan maha dahsyat yang diperingati oleh Indonesia sebagai hari Pahlawan, namun membuat Inggris kehilangan muka karena tewasnya dua orang perwira penting mereka. Keduanya akhirnya dikebumikan di makam Menteng Pulo, Jakarta.

Dalam situasi perang, nyawa seseorang memang tak bisa dijamin 100 persen aman. Meski seorang Jenderal sekalipun. Seperti A.W.S Mallaby di atas, nyawanya melayang sia-sia justru bukan karena peperangan hebat. Melainkan sebuah insiden kericuhan masyarakat yang akhirnya merembet menjadi pertempuran skala besar di Indonesia. Tak salah bila peristiwa tersebut akhirnya diabadikan sebagai hari Pahlawan Nasional. Mengenang para patriot bangsa yang gigih membela kedaulatan Indonesia di masa lalu.