Siapa bilang kalau di kampus dosen dan mahasiswa saja yang jadi kaum intelektual dan harus dipanuti? Faktanya saat ini kita bisa menemukan para pemikir kritis di manapun juga dalam sebuah universitas. Nggak melulu di ruang-ruang kelas maupun tempat para dosen beristirahat, karena ternyata kantin mahasiswa juga terkadang memiliki sosok yang tak kalah keren pemikirannya dibanding mahasiswa.

Pernah nggak sih kalian membuka pembicaraan tentang apa saja dengan para penjaga kantin? Bila iya, sadarkah kalian bahwa terkadang sosok penjaga kantin itu malah bisa memberi solusi terkait permasalahan kita di kampus. Mengapa bisa demikian? Berikut ini ada lima hal yang ternyata sengaja dilakukan penjaga kantin agar bisa belajar berpikir kritis layaknya mahasiswa.

Pilih-pilih acara televisi

Nonton TV [image source]
Menurut salah seorang penjaga kantin yang ditemui di salah satu universitas ternama, dia sangat pemilih dalam hal nontonan televisi. Pria yang dikenal dengan julukan Mas Kei itu mengaku sehari-hari lebih senang mengikuti acara talkshow seperti yang dibawakan Najwa Shihab atau Andy F. Noya lantaran acara TV sekarang banyak yang kurang berbobot. Dengan menonton program seperti itu dia mengaku bisa memperoleh banyak pengetahuan baru yang kemudian bisa dibahas bersama para mahasiswa yang asik nongkrong di lapaknya.

Jadi pendengar setia

Ngobrol di kantin [image source]
Sadar nggak sih kalau pembicaraan yang terjadi di kantin itu bisa jadi didengarkan oleh orang-orang di sekitar kita, termasuk para penjual makanan? Nah dengan cara inilah biasanya para penjaga kantin berhasil ‘mencuri’ ilmu dari mahasiswa. Mas Kei bercerita mengenai bagaimana pahamnya dia tentang skripsi seorang mahasiswa yang sudah puluhan kali judulnya ditolak oleh sang dosen. Di sana pria ini juga bisa bercerita panjang lebar tentang betapa sulitnya jurusan tertentu di kampus tersebut. Pokoknya jadi lebih tahu dari mahasiswa itu sendiri deh.

Nongkrong bersama di luar jam kerja

Ngopi bareng [image source]
Hal lain yang sering dilakukan geng penjaga kantin untuk bisa berpikir kritis seperti para mahasiswanya adalah dengan sering-sering nongkrong bersama. Misalnya saja, dalam satu kali waktu keluar untuk sekedar mengopi pasti banyak hal yang akan didapatkan. Mereka akan saling menceritakan kehidupan sehari-hari di luar masalah perkuliahan. Topik-topik berat yang juga tak lepas dari pembahasan seperti halnya kebijakan kampus atau bahkan kondisi Indonesia pada umumnya. Dengan begini secara tidak langsung mereka dapat bertukar pikiran dan saling belajar satu sama lain.

Membuka jasa curhat

Curhat di kantin [image source]
Kantin mungkin jadi salah satu tempat mahasiswa menghabiskan banyak waktunya saat di kampus. Jadi tak jarang bila semakin sering nongkrong di sana, maka akan semakin mengenal para penjualnya. Dan kalau merasa sudah dekat, biasanya mahasiswa akan tak sungkan lagi untuk curhat. Kalau sebelumnya para penjaga kantin cuma bisa mencuri dengar, pada masa ini barulah mereka bisa secara langsung sengaja diminta mendengar. Mulai dari curhatan tentang kuliah, pekerjaan, bahkan masalah percintaan. Semakin sabar para penjaga kantin meladeni curhatan itu, maka semakin banyak juga informasi yang diterima tentang seluk-beluk dunia mahasiswa.

Tinggal berdekatan dengan mahasiswa

Kos mahasiswa [image source]
Jurus lain yang juga dilakukan oleh seorang penjaga kantin demi bisa kritis seperti para mahasiswa adalah dengan tinggal di lingkungan para akademisi tersebut. Kebanyakan penjaga kantin di kampus merupakan orang rantau yang tentunya butuh kos untuk tempat tinggal sehari-hari. Mencari kos bersamaan dengan mahasiswa merupakan cara yang biasanya dilakukan. Kalau di kantin yang bisa dilakukan hanya ngobrol biasa, di kos-kosan ini bahkan mereka bisa ikut belajar bersama setiap harinya.

Saking seringnya bergaul dengan mahasiswa, para penjaga kantin itu mengaku bahwa mereka justru kurang akrab dengan tetangganya di kampung halaman dan lebih nyaman bergaul dengan anak-anak muda kampus. Luar biasa memang perjuangan mereka untuk menguasai seluk beluk dunia mahasiswa dan belajar berpikir kritis. Jangan-jangan mahasiswanya lebih nyaman dinasihati penjaga kantin daripada dosen sendiri.